Senin, 24 September 2007


Hak atas Terima Kasih

AKHIR pekan lalu, saya beserta sejumlah rekan membesuk seorang kawan sekantor. Saya dan tamu lainnya terheran-heran. Kok, katanya baru operasi jantung tadi malam kok kawan ini sudah bisa kongkow-kongkow menemui tamu, bukannya berebah di tempat tidur.

Tidak ada kesan sakit dalam dirinya, kecuali oleh perban yang menempel pada kedua tangan, posisi di ujung urat nadi, di belakang tangan. Bicaranya pun lancar, tidak ada nada sengau atau lemas. Kalaupun sedikit pelan, itu karena puasa. Saya sendiri bertanya-tanya, habis operasi, apalagi jantung, tapi kok segar begini yah? Inikah kehebatan orang beruit, sehingga operasinya bisa canggih.

Ya, betul. Sang kawan ternyata mengalami pengobatan melalui kateterisasi. Operasi jantung melalui pembuluh darah, atau urat nadi di belakang telapak tangan. Perban sebagaimana sering terlihat pada orang yang sedang diinfus. Menakjubkan. Mukjizat, pikir saya tak habis pikir berdecak kagum.

Tiga tahun lalu, saya pernah menyaksikan dua kali operasi jantung di RS Rajwali, Bandung. Saya diundang khusus Direktur Utama sekaligus Preskom rumah sakit itu. Setahun sebelumnya saya kenalan dengan Dr dr Demin Shen. Konon, dialah satu dari sedikit dokter ahli bedah jantung di Indonesia. Ny Demin Shen, seorang warga asal Amerika, juga dokter. Putri mereka juga dokter.

Dalam dua kali operasi jantung itu, gigi saya seakan sampai ngilu melihat sendiri dan mengabadikannya pada kamera Nikkormat tua, bagaimana tim dokter mengobok-obok bagian dalam pasien. Operasi pasien kali kedua lah yang membuat saya lebih ngilu. Seperti hendak mengeluarkan bagian usus sapi dari perut, tim dokter, membedah total. Mereka menggergaji tulang iga pasien, untuk operasi jantung.

Betul-betul digergaji dan kampak kecil, lalu antara kelompok tulang rusuk sebelah kiri dan kanan dipisahkan, direnggangkan sekitar 20 cm. Pembedahan total dilakukan karena dokter harus mengangkat tumor yang ada di dalam jantung. Jadi ini lebih parah dari sekadar serangan jantung yang membutuhkan operasi bypas akibat penyakit jatung koroner.

Setelah dada dikuak, barulah tim dokter membedah jantung., dibelah. Saya terbayang seperti ketika tukang jagal mau membersihkan kotoran dari dalam rempela. Ngeri. Di saat bersamaan, melihat sirkulasi darah segar dari tabung ke tubuh pasien, terus berputar. Sementara sang pasien semaput, alias kolaps karena kekuatan bius.

Memori saya teringat ke kejadian itu ketika mendengar ada kawan sekantor di Persda yang menjalani operasi jnatung. Tapi, ternyata tidak segawat itu. Kawan ini hanya melalui proses kateterisasi, memasukkan zat cair melalui pembuluh darah, terus digerakkan ke jantung. Hanya zat kecil itu yang terus bergerak mengobok-obok dada dan jantung pasien. Hasil potretan cairan itu pula layar memperlihatkan bagaimana kondisi jantung berikut pembuluh darah pasien.

Ketika zat cair buntu, berarti ada kendala, ada gangguan, sehingga dipompa. Seperti halnya meniup selang yang terjepit, sehingga air tak mengucur. Namun jika setelah dipompa lalu kembali menyempit, maka dilakukan tindakan memasukkan ring (cincin) permanen membuka saluran. Itulha tindakan luar biasa dialami kawan. Lebih mencengangkan lagi, hanya 48 jam setelah operasi, kawan tadi sudah masuk kantor.

***
TENTU saja kawan itu bangga luar biasa. Sebab dalam banyak kasus, penderita serangan jantung sulit diselamatkan. Dalam sukacita itulah, dia memuji-muji Dokter Teguh Santosa yang menanganinya.

Konon dokter ini memiliki jam terbang tinggi sekali. Selain ahli bedah jantung, dia juga guru besar di UI, dan saban bulan terbang ke berbagi universitas di berbagai negara untuk memberi kuliah: menularkan bagaimana ilmu tentang bedah jantung.

Dia juga dokter yang memiliki pasien banyak sekali. Dalam sehari bisa sampai ratusan yang akan diambil tindakan. Saking banyaknya pasien, sering kali sampai jam 4 subuh, jam praktek diakhiri. Wah, luar baisa.

"Betapa kayanya dokter itu, yah,? pikiran liar saya berkhayal, bisakah saya mewujudkan cita-cita bidadari kecil di rumah yang dalam usianya belum genap tiga tahun seudah sering mengatakan punya cita-cita jadi kaya Oppung Silitonga, menyebut profesi dokter sepsialis anak Dokter Kriston Silitonga yang menjadi dokter keluarga kami.

Wajarkan. Tindakan kateterisasi semacam itu menghabiskan dana minimal Rp 90 juta. Andai 12 pasien saja dalam sehari, income sudah Rp 1 miliar lebih. Apalagi kalau seratus, wahhahaha....

Satu pelajaran yang saya petik dari cerita kawan tadi. Ketika menuju ruang operasi, sang dokter sangat santai, dia menyetel tape recorder dengan lagu dance, dan mengajak pasien happy saja. Dokter mengajak rileks, dan santai saja, atau bersenang-senanglah. Entahlah, dokter mau mengatakan nikmatilah waktu bersenang-senang terakhir mu (kalau operasi gagal), atau mau mengajarkan, hai bos, anda sudah kaya, jangan terlalu berat hidup. Sisihkan waktu untuk santai, bersenang-senanglah!

Pelajaran lainnya, ketika kawan hendak mengucapkan suka cita dan rasa syukurnya atas kesuksesan jalannya operasi, dia bermaksud memberi salam tempel alias amplop berisi duit. Di luar dugaan, sang dokter tidak menerima.

"Terimalah dok, ini ungkapan terima kasih saya, karena dokter berhasil mengobatai saya," kira-kira demikian kata kawan itu. "Tidak perlu. Ucapkanlah terima kasih kepada yang di atas, Tuhan," ujar dokter menjawab.

Pikiran saya segera berputar-putar. Luar biasa profesional sang dokter. Terlepas dari seberapa besar dia mengambil untung sebagai fee mengoperasi, tindakan menolak pemberian itu saya acungi jempol, dalam hati. Tidak banyak di antara orang Indonesia yang menolak pemberian, dengan alasan, rezeki jangan ditolak. Andai semua pihak, termasuk kalangan dari golongan jurnalis seperti saya yang mengucapkan hal itu saat dibekali nara sumber dengan segepok amplop, tentu berita akurat, berimbang, objektif dan berpihak pada kebenaran akan lebih banyak yang menghiasi media.

"Berterima kasihlah pada Tuhan." Sikap dokter itu betul. Ilmu, keahlian, kesempatan hidup, derma atau apapun yang dia miliki sebagian besar pemberian cuma-cuma sang Illahi. yang lebih penting, dia profesional, mengambil bagian yang menjadi haknya, dan menyerahkan kepada orang lain yang menjadi haknya. Seperti firman Allah: Serahkanlah kepada negara apa yang menjadi hak negara, kendatipun melalui pemungut pajak, dan berilah kedaKu apa yang menjadi hakKu. (domuara ambarita)

1 komentar:

BECHI mengatakan...

Testing.........