Rabu, 26 September 2007





Mimpi Buruk

"Ohh... Tuhanku mengapa cobaan terus datang dan datang lagi? Bencana demi bencana, gempa disusul gempa lainnya menjadi pencabut nyawa bayi-bayi tak berdosa dan rakyat jelata nan sengsara. Ya, Allah, ampuni kami?"

Ingatan saya seketika terbayang pada murka alam ketika gempa dan tsunami meluluhlantakkan Aceh, dan Nias, 26 Desember 2004. Gempa 9,3 skala Richter yang menerjang 14 negara yang menewaskan 170.000 jiwa, 168.000 orang luka dan sekitar 5 juta orang kehilangan tempat tinggal.

Ombak bergulung-gulung, setinggi punggung bukit, bergerak sangat cepat, bekejaran mendekati pantai. Sekumpulan air laut menerjang sampah, kayu, juga perahu atau kapal berlabuh di tepi pantai, ditambat di laut. Perahu atau kapal saling bertubrukan, berbenturan, dorong-mendorong seakan berebut menghindari hantaman ombak.

Bangunan-bangunan ambruk rata dibawa sang murka. Bayi-bayi tak berdosa tidak sempat menangis seperti merengek mengiba tetesan air susu ibu, mereka hanya sekali dua kali megap- megap bukan karena kepedihan air sabun saat dimandikan ibunya melainkan diguyur air asin kemudian hanyut ditelan ombak. Lalu senyap, dan tak bernapas lagi. Kaum tua renta, penyandang cacat dan orang sakit juga tak mendapat dispensasi, senasib dengan harta-benda dan ternak lainnya digulung ombak.

Saya terhenyak. Bayangan itu tiba-tiba saja datang saat membaca kotak surat elektronik atau e- mail, yang diposting melalui milis pekan lalu. Subyeknya bertuliskan demikian: Indonesia Menunggu Datangnya Gempa Dahsyat Lebih dari 9 SR.

Sukma ini berkata lain. Jangan percaya isu. Dia segera menasihati. Bukankah dulu, beberapa hari setelah gempa 5,9 skala Richter mengguncang Yogyakarta, 27 Mei 2006, yang menewaskan 3.098 orang, dan merobohkan 3.324 bangunan juga diterpa isu serupa. "Ayo segeralah cari tahu!" "Yup, mantap. Terima kasih atas saranmu," jawab hati yang sama, segera mengontak BMG.

Kepala Bidang Gempa Bumi dan Tsunami Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) Drs Suhardjono Dipl Seis mengatakan, jangan pernah percaya isu atau prediksi tentang gempa. Gempa ibarat pencuri, tidak seorang pun tuan rumah tahu kapan pencuri datang. Teknologi secanggih apapun belum ada dapat memprediksi kapan waktu gempa mengguncang.

***
Peluang Konstruksi
INDONESIA berada pada cakupan cincin atau lingkaran api (ring of fire) Pasifik. Apa boleh buat, 220 juta warga bangsa ini mendiami kawasan yang kerap diguncang gempa, dan letusan gunung berani yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik. Tidak ada sejengkal pun tanah tumpah darah kita yang luput dari guncangan gempa. Bumi Kalimantan yang selama ini disebut bebas dari gempa, ternyata 13 Februari 2007, gempa menggoyang Tarakan, Kaltim.

Jarak pulau yang satu dengan yang lain boleh berjauhan, tetapi bagi gempa sangat dekat dan cepat dijangkau. Lihatlah, gempat di Aceh lintas benua dan samudera, gempa Mentawai pun sama, menggoyang gedung-gedung pencakar lagit di Jakarta, Malaysia dan Singapura.

Selalu saja ada hikmah di balik peristiwa. Di luar duka nestapa, kali ini, giliran kaum ahli bangunan atau konstruksi menunjukkan andilnya. Peluang para arsitek menemukan konstruksi bangunan tahan gempa. Bukan saja tahan goncangan, tetapi juga tepat guna, dan berbiaya murah.

Rumah panggung berbahan kayu banyak ditemukan di Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Bali kiranya mengilhami para kontruktor. Andai material kayu berkualitas seperti belian atau ulin (Eusideroxylon zwageri), tanaman langka asal Kalimantan, sulit ditemukan di pasaran, itulah tugas para insinyiur kita.

Apakah kembali ke alam dengan menggunakan bahan anyaman bambu, rasanya tidak salah juga selagi menjaga kenyamanan, kemanan, dan keselamatan penghuni. Semangat ini perlu digelorakan, mengingat korban banyak jatuh akibat gempa, ketika 'pencuri' datang malam- malam, saat tuan rumah terlelap. Andai bagi kalangan berduit kurang branded, beton bertulang kokoh, tentu menjadi pilihan.

Inilah peluang bisnis di sektor kontruksi dan properti yang sangat prospektus. Jika harganya relatif murah dan terjangkau konsumen, jasa membuat bangunan antigempa atau tahan gempa ini akan digemari seperti semudah menjual kacang. Bukan mustahil pembeli harus inden. Dan iklan pun akan marak menghias berbagai media massa: Dicari Konstruksi Tahan Gempa Murah.

Suatu peluang usaha yang menyerap banyak sekali tenaga kerja dari hulu ke hilir, dari tenaga terampil, kuli di pabrik hingga kuli bangunan. Lebih penting lagi, industri ini mampu meneteskan rezeki (trickle down effect) kepada masyarakat umum. (*)

Tidak ada komentar: