Senin, 17 September 2007



Selamat Berpuasa

MINGGU adalah hari libur ku dari kerja. Ya, libur sehari dalam sepekan. Lazimnya, saya menghabiskan waktu bersama dua putri, Uli dan Dorthy beserta ibunya seharian di rumah 'induk semang'. Sudah empat bulan kami menumpang di kediaman mertua di Depok. Tahun ini memang zaman mengencangkan ikat pinggang' bagi kami. Kami biasanya bercanda gurau di pondok mertua indah alias rumah mertua seharian. Jarang shopping, bertamasya, apalagi melancong ke luar negeri tentu tidak ada dalam benak ini.

Pekan lalu, Minggu (9/9), kembali ke rumah menjelang sore. Sudah tiga pekan terakhir seperti itu. Kaus biru --yang biasa saya pakai saat main bola, celana pendek, badan kotor, bau keringat, dan tangan berlumur semen. Kepala berselubung topi bundar hitam yang saya beli dari Jalan Malabar Bandung, dua tahun lalu. Mau apek pokoknya.

Saya menumpang Supra Fit jagoanku. Tiba dari belakang rumah mertua, sisi kiri, saya berpapasan dengan mertua laki (batak: amang simatua doli). Saya heran, sedikit terperangah, karena menemui mertua berikut mobil Zabra butut di samping rumah. "Apakah nggak jadi ke Sukabumi, Amang?" tanyaku. "Nggak jadi," jawab mertua singkat namun tetap ramah.

Hati saya seketika berkecamuk. Haru campur merasa bersalah. Ada dua penyebab. Minggu pagi itu kami absen memuji Tuhan, tidak mengikuti kebaktian di gereja, suatu kelaziman. Biasanya saya dan istri dan Dorthy, si bungsu, misa di Gereja Katolik Santo Markus Depok. Adapun Uli, si sulung, ikut oppungnya ke HKBP, yang lokasinya berhadap-hadapan, hanya berjarak sekitar 15 meter dengan tempat kami.

Kegundahan kedua, sedari bangun, istri sudah menginformasikan menjelang siang, kami sekeluarga akan beranjangsana ke Sukabumi. Sekembali membelikan Dephacene, obat sirup dwimingguan buat Uli, istri kembali mengingatkan. Kali ini malah mengajak. "Pah, nanti kita ke Sukabumi ya. Ke tempat Tulang, ini kan mau ramadan. Sudah bisaya begitu, setiap mau puasa mama dan bapak pergi ke rumah Tulang, silaturahmi." "Huuu," jawab saya sekenanya.

Saat sata bersiap-siap, mempersiapkan peralatan 'termpur', seperti palu, skop semen, linggis dan air minum, istri mulai bernada mendesak sembari sewot. "Pah," katanya meninggi. "Ayo, kan mau ke Sukabumi. Nggak usah bertukang dulu apa! Mikirin rumah terus. Nanti-nanti kan bisa."Saya menyahut, "Biar cepat selesai, Supaya bisa ditempati. Kan musti saya kerjakan sendiri, tidak ada uang bayar tukang."

Saya lalu pamit kepada ibu mertua perempuan (inang simatua boru) dan mertua laki mengatakan tidak ikut ke Sukabumi. Tangan kanan mengendarai motor, dan tangan kiri memegangi tiga batang balok di bahu kiri.

Rumah mertua di Pondok Tirta Mandala ke Komplek Deppen, Cisalak, berjarak kurang lebih 2,5 km. Di komplek ini kami sedang merampungkan renovasi gubuk derita yang baru dibeli atas dorongan 'kenekatan', dan berkat kebaikan banyak pihak. Saya berkendara dengan tangan satu, sambil memikul beban tanpa istirahat. Pegal juga sih...

Seharian saya menyemen, menguas semen pada batako di ruang belakang, karena kekurangan dana, terpaksa tidak diaci atau diplester. Saya bekerja sampai sore, ditemani Parlin, keponakan yang baru tiba Parung.Juga sempat ditingkahi kesibukan 'boru panggoaran' Uli. Untungnya dia pulang lebih awal bersama oppungnya.

Dua hari berselang, para ulama dan pemuka agama Islam mulai mengintip isbat untuk menentukan awal 1 Ramadhan 1824 Hijriah, saya merasa bersalah sendiri. Hingga saat ini, sengaja belum bertanya kepada istri apa alasannya tidak berangkat ke Sukabumi. Kendati tidak dijawab, mungkin bisa saya raba: mereka batal bersilaturahmi karena saya taidak ikut.

Tapi untung juga tidak berangkat, sebab seharian itu pun, saya bekerja sembari berdoa dalam hati, semoga rombongan keluarga besarku selamat menuju rumah paman, adik dari ibu mertuaku yang mualaf setelah menyunting putri idamannya, generasi Pasundan. Saya takut terjadi sesuatu, apalagi saat kerap terjadi musibah (semoga tidak).

Kiranya angin sepoi-sepoi menyampaikan permohonan maaf saya dan keluarga kepada roh Tulang dan keluarga di Sukabumi. Bukan kecongkakan iman, bukan juga mengingkari perbedaan keyakinan, melainkan karena kecerobohan pertimbangan duniawi.

Sembari memohonkan mohon maaf lahir bathin, dan selamat berpuasa, saya menyadari silaturahmi kekeluargaan harus tetap dibina. Berbuat kepada sesama adalah kasih tak terhingga nilainya. Seperti tubuh jika tanpa roh, tubuh itu adalah mati, demikian juga iman sebesar apa pun kadarnya jika tanpa perbuatan adalah iman yang kosong. Iman tanpa perbuatan adalah iman yang mati. Mari hidupkan iman dengan berbuat. Selamat Menunaikan Ibadah Puasa 1428 H. (*)

Tidak ada komentar: