Kamis, 11 Oktober 2007

Lemak Maknyussssss

Makanan Lezat: Bondan Winarno (kanan), binatang raksasa (tengah)
seberat 473 kg sepanjang 3 meter,
mati ditembak Jamison Stone (11 tahun)
di Alabama, Amerika Serikat.
Penganan berlemak yang maknyusss







KAMIS (11/10/07) siang saya berjalan menyeberang rel kereta api Palmerah. Berjalan pada sebatang papan tebal, melewati siring berbahan batu cadas, pemisah rel dengan jalan raya. Siang yang terik, membuah tubuh mendidih, keringat membasahi kutang.

Menumpang sepeda motor terasa tanggung, apalagi harus menyewa taksi. Lewat jalan pintas, menyeberang rel, jaraknya tidak lebih dari 700 meter, tetapi kalau naik motor bisa jadi 2.000 meter yang berliku-liku.

Saya menyusuri trotoar kanan yang berseberangan dengan gedung DPR, terus ke arah Hotel Mulia. Saya belok kanan, singgah ke satu warung makan, Lapo Ni Tondongta. Dar... der.. dor. Suara rentetan senjata api terdengar nyaring di balik tembok lapangan tembak Senayan. Suara itu perlahan hilang ditelan dentuman bas, drum, gitar berpadu lengkingan penyanyi trio, pengamen yang diiringi musik organ di depan Lapo.

Ya, hari penghujung bulan puasa umat Islam. Sebagian pembantu rumah tangga sudah mudik. Rumah tangga-rumah tangga ditinggal orang-orang berjasa yang tak kenal lelah, sehari-sehari menyajikan makanan lezat di rumah-rumah para kaum berduit. Mereka pekerja kasar umumnya mudik duluan menjelang Lebaran 1428 Hijriah, besok (Jumat) sesuai jadwal Muhammadiyah, atau lusa (Sabtu), menurut versi pemerintah/Nahdlatul Ulama. Mudik duluan karena tak punya banyak uang untuk terbang di angkasa, melainkan menyisir daratan pakai motor, truk, bus atawa kereta.


Saya terpaku sebentar. Lapo kok penuh. Saya coba toleh ke kiri-kanan, depan, mencari-cari meja makan yang kosong. Sekitar dua menit, sulit menemukan meja dan kursi kosong dari ratusan kursi yang tersedia. Pelanggan Lapo penuh. Saya menduga, mungkin karena para chev pulkam, sehingga tuan dan nyonya rumah memilih makan siang di warung.

Beragam rupa, dan warna kulit. Adang berkulit legam, sawo matang, kuning langsat, rambur keriting, atau lurus asyik menikmati makanan. Saya sudah beberapa kali ke Lapo Ni Tondongta. (Lapo = warung makan/minum, Ni = kata depan bermakna oleh, atau bisa juga berarti milik, Tondong = tamu/familiy, dan ta, penggalan dari kata hita = kita). Terjemahan bebasnya, restoran untuk tamu.

Menunya sederhana, tidak seramai menu di restoran Sunda, Rumah Makan Padang, atau Chinese Food, yang lebih variatif. Menu utama Lapo Ni Tondongta saban hari hanya panggang B2, sangsang b2, sup pakai atau tanpa tulang, sayur daun singkong tumbuk disantan, ikan teri sambal, dekke (ikan mas) arsik. Sesekali ada lappet/pohul-pohul, tepung beras dicampur kelapa parut plus gula lalu dibungkus dan dikukus.

Siang itu, perutku mulai keroncongan. Saya akhirnya mendapatkan meja kosong di bagian paling belakang, dekat dengan mejala pemesanan. Biasanya, tamu tinggal datang dan duduk, para laki- laki peramu saji segera menghampiri tamu sambil menanyakan menu yang akan disantap. Tapi kemarin, lain. Saya yang baru datang sadar dan berusaha bersabar, karena melihat banyak pelanggan yang berteriak sambil mengacungkan tangan memanggil peramusaji. Tamu memang sangat padat.

Satu, dua tiga, sampai lima orang peramusaji saya pesani makanan, tidak juga tiba. Barulah setelah semua tamu terlayani, seorang peramu saji menyodorkan sepiring nasi. Sedangkan kopokan sudha lama menganggur di depan saya. Siang itu saya pesan panggang B2, dan sangsasng B2, masing-masing seporsi. Sup dan sayur singkong tumbuk kesayangan saya, tidak ada, sudah ludes.

***
KOLESTEROL JENUH
Sangsang yang dilengkapi rasa andalimen kental, bumbu khas dari tanah batak (saya tidak eprnah menemukan nama bahasa Indonesia andaliman. Namun sekali waktu saya mendapati getir, berdasarkan rasanya. Bumbu ini diambil dari antara duri-duri tajam, seperti duri mawar. Pohonnya ratara-rata setinggi 2-4 meter, dan bertahan sekitar 2-3 tahun masa panen. Saat menuai andaliman, pemanen harus pintar-pintar menghindari tusukan duri, sebab bila kena duri pasti perih. Mungkin karena langka dan sulit memetiknya, harganya yang mencapai Rp 100 ribu per kilogram sangat wajar)

Separuh jalan saya makan. Sangsang sudah habis, beralih ke panggang. Saat itu, seorang laki-laki kalam, duduk di depan saya. Kami sederet, dua meja yang berdempetan. Ya, saya mengenalnya. Dialah Bondan Winarno, si tuan Maknyussssssss.

Kendati bukan anggota komunitas Jalan Sutera, atau penggemar acara 'makan-makan' yang dipandu Mas Bondan, saya tahu dialah Bondan si Maknyusssss. Dua perempuan tamu Lapo segera memburu foto bareng Bondan. Saya berusahan tidak terkesan udik, saya menahan diri, biarpun penasaran hendak ngobrol.

Dari wajahnya, saya memastikan Bondan usia berkepala lima. Tidak meleset. Dari Prof Google saya mendapat data, Bondan kelahiran 29 April 1950. Tidak seperti banyak kakek-kakek, Bondan tetap saja lahap menyantap makanan berlemah jenuh. Jika orang seusianya bilang takut menyantap makanan berkolesterol tinggi, siang tadi, Mas Bondan santai saja melahap dua porsi B2 panggang plus sup. Dua porsi dia lahap dalam sekejap.

Kok berani yah, melahap makanan berlemak? "Apakah mas Bondan Winarno tidka takut serangan jantung?" pikirku. Lagi-lagi melalui Prof Google, saya menemukan rahasianya. Sebagai orang yang mendapat kesempatan mencicipi aneka masakan, Bondan yang gemar masakan padang (karena waktu kecil tinggal di Padang) mau tak mau perlu menjaga kesehatan diri. Tahu apa yang dimakan merupakan prinsip utama dan ini diwujudkan dengan memuliakan raga yang dititipkan Tuhan melalui makanan dan minuman yang diasupkan ke raga. "Yang tidak wholesome (sehat) jangan dimakan/minum. "

Bondan sendiri tidak memantang satu hidangan, tetapi ia amat memerhatikan jumlah yang ia makan. Dengan mengetahui RDA (Recommended Daily Allowance), ia bisa menakar berapa banyak steak atau udang yang bisa ia santap.

Selain itu, dia tidak menyantap menu enak setiap hari dan juga melakukan detoks (dari detoksifikasi, pembuangan racun), setiap enam bulan sekali kontrol darah. Ia menyadari, ketika usia sudah menjelang 57 tahun, raga dan metabolisme sudah tak sebagus seperti usia 20-an tahun.

Ya, itulah nikmatnya masih dapat mencicipi semua hidangan lezat. Kita masih bersyukur. Ada seorang dokter berkata demikian. "Tuhan memang betul-betul adil. Ketika seseorang boleh memakan semua makanan, dia tidak mampu memakannya. Sebaliknya, ketika seseorang mampu memenuhi seleranya, sayang, kesehatannya tidak memungkinkan dia melahap semuanya."

1 komentar:

mediacare mengatakan...

Wah, ketemu Presiden Kuliner Indonesia (PKI) di lapo? Sungguh kesempatan yang langka! Sayang ya, Anda tidak ngobrol-ngobrol sama beliau.