Kamis, 04 Oktober 2007

Haruskah Pernikahan Batal Gara-gara Adat?

Jangan Menyerah: Jangan biarkan cincin ini tanpa tuan dan nyonya,
hanya karena gengsi adat atau tidak mampu sekadar gagah-gagahan resepsi.
Perkawinan dibangun cinta kasih-sayang,
bukan tumpukan harta benda.





SEORANG ponakan, kemarin siang curhat. Dia mendiskusikan penentangan pihak calon mertua terhadap sebagian prosesi adat Batak Toba. Ada dugaan mengandung berhala, yang diharamkan Alkitab. Ponakan dengan calon suaminya kebetulan berbeda etnis. Sejauh ini, belum ditemukan win:win solution.

height="18"/>
Dua bulan lalu, seorang kawan memicik kening sambil curhat. Kawan ini merasa terlalu berat syarat adat perkawinan yang ditetapkan oang tua calon istri yang asli Maluku. Si kawan merasa biaya pernikahan untuk mahar terlalu mahal, belum lagi ongkos pulang pergi bersama istri dari Jakarta ke Ternate, Maluku (PP). Lain lagi biaya resepsi, biaya perlengkapan pengantin, undangan dan sebagainya.

height="18"/>
Masih cerita seputar adat dan pekawinan. Juni-Juli lalu merupakan masa-masa sulit bagi perempuan adik ipar saya. Istri empat bersaudara, dua perempuan sisanya laki. Perempuan dan laki berselang-sling: istri sulung, disusul Prins saat ini di Taiwan, terus adik perempuan kami, dan James, PNS di KNKT yang sempat diberitakan Tempo meninggal dalam tenggelamnya KMP Levina I, Februari lalu di perairan Kepulauan Seribu.


Dalam kurun dua bulan itu, merupakan adik perempuan kami memasukan masa-masa menggetirkan. Ia berencana menikah dengan seorang prajurit TNI di Cilodong. Adik saya mengajar TK di Kota Pariwisata Cibubur. Mereka berdua sepakat menuju jejang menikah setelah dua tahun lebih berkenalan, dan diwarnai hubungan putus sambung.

Calon suaminya berasal dari Nias, salah satu suku bangsa yang sangat sarat dengan adat-istiadat. Di tanah leluhur sana, perkawinan adat nias, sangat high cost. Mempelai laki-laki bisa-bisa diminta menyediakan 50 ekor hewan kerbau atau babi untuk mahar.

Selaku boru (sebutan untuk pihak anak perempuan/berikut suami), mengetahui sedari awal. Saya memang sering meredam amarah mertua yang kurang sreg dengan calon menantunya. Menurut mertua ada dua alasan menolak: siapa orangtua yang tidak menghendaki menantu sesama satu suku, dan kurang sopan.

Saya coba memeras akal mencari alasan yang menyenangkan mertua. Bukan saja mengubah paradigma mereka, juga mencarikan jalan keluar yang sama-sama untung (win:win solution). Saya membombardir pertanyaan: pertama-tama, adakah jaminan perkawinan antarsesama suku, satu adat, asal-muasal bahkan seagama pun pasti bahagia dan langgeng?Adakah jaminan pernikahan yang satu suku tidak akan pernah cerai? dan sebagainya.

Sebaliknya, banyak contoh perkawinan dari orang beda suku, asal-muasal, adat istiadat, agama, bahkan negara, namun tetap berjalan sampai nenek-kakek. Lagipula, banyak kejadian aneh-aneh belakangan ini. Sudha berapa kali kita membaca berita di koran, pemuda atau gadis nekat mengakhiri hidupnya karena keinginan menikah tidak kesampaian. "Maukah bapak ibu, anak gadis bunuh diri?"

Syukurlah. Penjelasan saya rupanya mampu melunakkan hati mertua. Dari tadinya mengatakan tidak akan menerima kehadiran sang menantu, kini bersedia. Bahkan mereka sudah menerima calon menantu melamar anaknya. Satu permasalah sudah tuntas. Pintu menuju pernikahan terbuka lebar.

Selanjutnya, membahas tentang tata cara pesta perkawinan. Semula mertua berkeras, pemberkatan nikah di gereja harus diikuti 'mangdati' , acara adat. Seperti tawar-menawar di pasar ikan, dalam pertemuan keluarga kedua belah pihak disepakati maharnya Rp 25 juta. Biaya itu akan membiayai semua perkawinan, urusan gereja, katering untuk 1.000 tamu, sewa gedung, ulos, bunga, salon, dan lain-lain. Setelah dihitung-hitung, pihak mertua pun mesti merogoh uang sendiri sekitar Rp 8 juta, menutupi biaya.

Tiga hari pascapertemuan, lima hari hingga sepekan belum ada kabar dari calon mempelai laki- laki. Baru memasuki pekan kedua, dia mengabari telah menyiapkan uang dan akan mengantarkannya bersamaan kedatangan ibunda dari Nias. Mendengar kepastian itu, adik ipar saya pun mulai belanja, termasuk membeli bahan kebaya.

***

JANGAN MENGUTANG
Tibalah seornag ibu, janda, dari Nias di Jakarta. Dia beserta anak lalu berkunjung ke rumah mertua. Disepakatilah mencarikan haari pernikahan dan gedung segera dibooking. Namun, demikian, masih persiapan ini itu masih diwarnai upaya menawar dari pihak laki-laki agar mertua menurunkan uang mahar. Mertua bergeming. Sebab itu memang termasuk biaya minim untuk sebuah pesta adat yang menyewa gedung di Jakarta.

Calon mempelai laki-laki kemabli ngambek. Sembari bersungut-sungut, dia berkisah pad adik iparku, dia berencana mengutang dari bank 15-20 juta untuk biaya perkawinan, sekalian mengongkosi sang bunda kembali ke Nias kelak.

Informasi itu secara tidak sengaja sampai ke saya, kemudian mertua. "Wah, gawat," pikir saya. Kalau sampai utang untuk biaya pernikahan, biasa bahaya. Keluarga pemula ini akan jadi repot nantinya. Boro-boro membeli perabot, penghasilan akan habis menutupi utang. Lalu bagaimana kalau tiba-tiba ada janin, bagaimana mau periksa ke dokter, mencarikan asupan gizi yang baik untuk si jabang bayi?

Saya kembali menghadap mertua. Tidak usah pesta. Kalau dipaksakan, nanti yang kasihan karena menderita adalah anak bapak-ibu juga. Pendek kata, mertua mengalah. Oke resepsi saja, setelah pemberkatan. Biaya diperkirakan tidka lebih dari Rp 5 juta. Lumayan, bisa hemat uang dan tak perlu utang.

Perubahan peta itu disampaikan ke pihak mempelai laki. Celakanya, ibunda tercinta yang sudah telanjut datang jauh-jauh malah berkeras mesti pakai adat. Di sisi lain, dia keukeuh juga supaya biaya dipotong. Bingung lagi-bingung lagi.

Dalam kebimbangan itu, saya coba yakinkan adik iparku. "Dik, Anda sebaiknya semakin tekun berdoa, meminta campur tangan Ilahi. Serahkan semua persolan dan pergumulan hidupmu, terutama rencana menikah ini. Sebab Dia sendiri yang mengajarkan pernikahan monoandry/monogami, satu sampai mati. Supaya tidak salah langkah dari awal, maka niatmu satukan dengan rencana-ranangan Tuhan"

Hari mingggu siang, adik terlihat sedih. Tapi dia tegar. Tidak seperti lzimnya, yang terlihat cemberut. Kami sudah putus, bang. Habis dianya tidak serius kelihatan, tidak punya sikap, plin- plan. Dan mulai ketahuan bohongnya. Sudahlah, saya putuskan tidak jadi perkawinan."

Oke kalau itu keputusan bulat mu dan bukan lahir dari emosi yang memuncak, tetapi sudah melalui permenungan mendalam, saya tinggal menerima. "Betul juga kat banyak orang jodoh, Tuhan yang mengatur. Masih banyak laki-laki, dik. Jangan putus asa, kamu cantik kok, pasti masih banyak laki-laki yang mau. Tinggal kamu memintanya dalam doa, supaya diberi yang baik dan sesuai keinginanmu."

Minggu lalu, adik saya menelepon ke rumah. Dia sedang mengajar sekolah minggu. Dia bilang, kalau ada si A menelpon dan mencari adik, tolong bilangkan tidak di rumah. Saya bangga, jodoh adik ipar saya belum mati.

Menurut saya, adat jangan membebani perkawinan. Apalagi sampai menghalangi pernikahan. Pengalamn di tengah keluargaku, banyak pernikahan hanya mengikuti perbekertan pastor, lalu syukuran kecil-kecilan. Jika kelak mereka beranak-pinak, barulah membuat pesta adat, yang dalam adat toba disebut Pasahathon Sulang-sulang ni Pahompu.

Perkawinan yang mahal, ya, biaya mahal saya setuju itu ada hikmahnya. Bahkan sering didalihkan untuk melanggengkan perkawinan. Dengan high cost, maka seseorang tidak semudah membalik tangan untuk nikah. Tidak bisa sembunyi-sembunyi, karena banyak orang dan pihak dilibatkan. Alasan lain, acara adat menambah sakralnya ritual perkwanian, dan menggenapkan sebutan menjadi raja dan ratu sehari. Bagimana pendapat Anda? (domuara ambarita)

1 komentar:

Susianti mengatakan...

Dears,
Saya kurang setuju apabila pernikahan batal hanya karena Adat. adat diciptakan untuk manusia, bukan manusia untuk adat. mungkin dari sisi positifnya benar, bahwa dengan sulitnya proses pernikahan dengan adat-istiadat membuat pasangan lebih menghargai pernikahannya, tetapi mungkin bisa lebih fleksibel sesuai dengan kesanggupan... kalau lah keluarga si pria memang orang yang 'mampu' atau si laki-laki itu sendiri sudah mapan, lalu bagaimana dengan yang 'pas-pasan'? kalau berhutang untuk biaya pernikahan bagaimana dengan kehidupan keluarga mereka kelak? sekolah anak mereka? Jika mereka harus membayarkan hutang dan bunganya? saya rasa kepada orang tua yang masih berpegang adat seperti ini bisa diberi penjelasan...