Senin, 28 April 2008

Sultan HB X Menduga Naiknya Harga Minyak Ulah Amerika

Senin, 28 April 2008 | 15:25 WIB

http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/04/28/15254185/sultan.hbx.duga.naiknya.harga.min yak.ulah.amerika

JAKARTA, SENIN - Harga minyak mentah di pasaran dunia semakin tak terkendali, Senin (28/4), berada di level tertinggi 119,93 dollar AS per barrel. Analis dunia menyebutkan, faktor melambungnya harga minyak hingga mencatatkan rekor baru akibat aksi pemberontakan gerombolan bersenjata di Delta Nigeria yang meledakkan pipa produksi minyak Shell, pemogokan buruh kilang minyak ExxonMobil di negara
yang sama, serta hubungan Amerika dan Iran yang masih tegang.

Namun, bagi Sultan Hamengku Buwono X, penyebab lonjakan harga minyak bukan saja karena hal-hal tersebut. Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta ini menduga lonjakan harga minyak mentah di pasaran dunia tidak lain adalah akibat ulah pemerintahan Amerika Serikat.

Alasannya, saat ini perekonomian Amerika Serikat sedang diterpa krisis ekonomi. Sedangkan pesaingnya di Eropa maupun Asia, negara-negara Eropa (minus Inggris) yang memiliki mata uang tunggal Euro, misalnya, perekonomiannya masih normal. Demikian juga dengan perekonominan China yang tumbuh pesat.

Karena kondisi ini tidak menyejahterakan rakyat Amerika, Sultan menduga kenaikan harga minyak yang sudah mendekati 120 dollar per barrel adalah faktor kesengajaan. Mengapa? Perbandingan dollar terhadap euro sudah 1,6, artinya produk-produk Eropa akan mahal di Amerika. Ini tidak menyejahterakan.

"Jadi saya melihat ini persaingan. Ayo, siapa yang napasnya lebih panjang, apakah Amerika, Eropa dengan uang tunggalnya euro, atau China. Amerika memang mengimpor minyak, tetapi 65 persen produksi minyak dikuasai Amerika. Eropa seratus persen impor, sedangkan produk China hanya mampu memenuhi kebutuhan domestik 27 persen. Jadi Amerika mau menunjukkan kalau mereka bisa bernapas lebih panjang," ujar Sultan saat bertandang selama tiga jam ke redaksi Persda Network di Jalan Palmerah Selatan, Jakarta, Senin (28/4).

Saat berkunjung ke Persda, Sultan tanpa didampingi staf. Dia hanya ditemani Putut Prabantoro dari Veloxxe Consulting. Sultan diterima Direktur Kelompok Persda Herman Darmo, Pemimpin Redaksi Kompas Bambang Sukartiono, Wakil Dirkel Persda Sentijanto, dan jajaran. Selama tiga jam lebih Sultan berdiskusi tentang banyak hal.

Sementara itu, kantor berita BBC melaporkan harga minyak di pasaran dunia terus meningkat. Senin pagi, harganya mendekati 120 dollar per barrel. Kondisi ini diduga akibat nyaris terhentinya produksi dua perusahaan minyak terbesar di Nigeria.

Dalam serangan keempat dalam sepekan terakhir, kelompok militan Delta Nigeria meledakkan pipa produksi minyak Shell. Adapun buruh ExxonMobil masih mogok bekerja. Kondisi ini sangat sulit dipulihkan karena kelompok bersenjata Nigeria yang dipimpin Henry Okah mengklaim bertanggung jawab atas serangan terakhir.

"Kami mendesak pemritnah agar tidak sibuk memperbaiki pipa yang rusak, karena kami akan melanjutkan serangan," kata kelompok yang menamakan dirinya Pergerakan untuk Emansipasi Nigeria.

Padahal permintaan atas minyak negeri sangat tinggi. Kapasitas produksi rata-rata sebesar 2,5 juta barel per hari, dan karena terjadi pemogokan dan pemberontakan, produksi hanya sekitar 25 persen. Exxon Mobil hanya dapat mengoperasikan sebagian kegiatan industri, sedangkan Shell mengaku sangat khawatir pengapalan minyak sesuai target sebesar 169.000 barel per hari sangat sulit terpenuhi sejak meningkatnya serangan gerombolan bersenjata beberapa pekan terakhir. (Persda Network/domuara ambarita)

Tidak ada komentar: