Rabu, 09 April 2008

Krismon Jilid Dua Mengancam?

Krismon Jilid Dua Mengancam?

http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/04/09/08092891/krismon.jilid.dua.mengancam

Rabu, 9 April 2008 | 08:09 WIB

JAKARTA,RABU - Gonjang-ganjing ekonomi Amerika Serikat dimulai dari skandal kredit pemilikan rumah (subprime mortgage) Juli 2007, semakin meluas dan tak terkendali. Resesi mengancam dunia. Perekonomian dunia, termasuk Indonesia pun terancam kembali terpuruk untuk kedua kali.

Kalangan perbankan dan pengamat ekonomi mengaku sangat khawatir bila krismon jilid kedua melanda Indonesia. Ketua Umum Perbarindo Said Hartono, pengamat pasar modal Edwin Sinaga, dan praktisi pasar uang Farial Anwar mengaku sangat cemas, karena tanda-tanda akan terjadinya krisis moneter semakin jelas.

Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) Said Hartono mengaku sangat khawatir terhadap kemungkinan krisis moneter ini. Baru-baru ini, dia mengikuti seminar di Bank Indonesia. Banyak memang anjuran agar perbankan tetap optimistis, namun sebagai pengusaha harus melihat bagaimana kondisi yang ada.

"Ini sudah mulai mengkhawatirkan apalagi SUN diambil alih pemerintah. Gejolak mulai ada dan kalau sudah begini, susah dihentikan. Apalagi sejak tahun lalu, kekhawatiran kemungkinan terjadinya krisis itu sudah ada dilontarkan para pengamat ekonomi," kata Said Hartono kepada Persda Nework, Selasa (8/4).

Managing Director Dominique Strauss-Kahn International Monetary Fund berharap pemerintah di seluruh dunia ikut campur meredam meluasnya krisis moneter saat ini. "Saya sungguh berharap adanya intervensi publik yang semakin kuat," pinta Dominique Strauss-Kahn seperti dikutip Times, Selasa (8/4) WIB.

Pernyataan ini disampaikan hanya sehari sebelum pejabat dari Departemen Keuangan, Gubernur Bank Sentral bertemu dengan IMF dan Bank Dunia di Washington, Amerika Serikat untuk membicarakan strategi mengatasi gejolak pasar uang.

Strauss-Kahn berharap campur tangan pemerintah untuk meredam spekulan pada pasar modal seprti obligasi, surat utang negara, psar properti dan sektor perbankan. "Intervensi pemerintah ini merupakan garda ketiga untuk mengamankan dan mendukung kebijakan moneter dan fiskal," katanya..

"Bagaimanapun juga usaha ini harus ditempuh untuk merestruktusisasi pinjaman. Berkenaan dengan industri perbankan, jika permodalan perusahaan swasta tidak diperkuat dengan cepat, maka mereka akan terus mengutang dari bank dan dalam jangka panjang ini merepotkan pemerintah," tandas Strauss-Kahn.

Di Indonesia, saat krisis moneter menerpa tahun 1998, saat semua sektor mengalami multikrisis, sektor perbankan tidak dapat berbuat apa-apa. Bahkan, banyak bank kolaps dan akhirnya dibekukan pemerintah, di mana kewajiban bank menjadi beban pemerintah.

Pejabat Departemen keuangan dan bank sentral sejumlah negara telah bertemu dan sepakat untuk merdam gejolak resesi ekonomi Amerika, sehingga tidak merembet lebih buruk. Mereka sepakat untuk mencegahnya, dari hal-hal kecil hingga kemungkinan pada kondisi yang sangat rumit dan tak terpecahkan. "Krisis kredit ini bukan hanya masalah Amerika. Ini sudah menjadi krisis global," kata Strauss-Kahn sembari menyebut sebagi teori decoupling yang menyesatkan. Dampaknya, diperkirakan akan menerpa semua negara termasuk negara berkembang pesat seperti Negeri China dan India. Karena itu, IMF minggu ini telah meninjau kembali perkiraan pertumbuhan ekonomi, yang kemungkinan menurun dari prediksi sebelumnya.

Pekan lalu dalam pembicaraan di Paris Strauss mengatakan, "Krisis moneter ini berawal dari Amerika Serikat, dan dampaknya masih sangat mungkin meluas, dan mendunia. Ini sangat berisiko dan bahayanya sangat besar. Perekonomian bisa sangat buruk, karenya itu membutuhkan jawaban secara global."

Beberapa waktu lalu, pemerintah AS sendiri coba meredam ambruknya pasar modal setempat, yakni dengan menyelamatkan perusahaan investasi besar, Bear Stearns dari kebangkuran. bank sentral The Fed mendukung JPMorgan Chase & Co membeli Bear Stearns.

Teroris Finansial

Pengamat Mata Uang Farial Anwar dan pengamat pasar modal Edwin Sinaga dihubungi terpisah mengatakan, ada kekhawatiran terjadi gejolak ekonomi di Indonesia. Farial melihat, dampak kasus skandal KPR di Amerika tahun 2007, sampai sekarang masih terasa. "Dampak krisis global ini masih panjang. Karena kerugiannya bukan hanya Indonesia, bahkan sekuritas dan perbankan di hampir seluruh dunia. Dampak, efek dominonya sangat besar, dan belum berhenti sampai beberapa waktu ke depan," ujarnya.

Farial yang juga Managing Director Currency Management Group mengatakan, kekisruhan perekonomian dunia ini sebagai akibat spekulan, jahatnya tidak kalah dibandingkan teroris yang mengacau dengan bom mematikan. "Ini ulah teroris di pasar finansial. Anda jangan melihat teroris seperti di Bali saja. Sebab saat ini, terorisme di pasar finansial pun ada. Mereka mengacaukan ekonomi dunia, dan perekonomian dunia termasuk membuat kenaikan harga minyak. Kenaikan harga minya bukan karena permintaan riil, tetapi ulah spekulator," ujar Farial.

Krisis ekonomi dunia yang dimulai dari Amerika kemudian melibat pasar modal Eropa menurut kaca mata Farial menunjukkan, ternyata orang barat dan Amerika tidak sepintar yang diagung-agungkan selama ini. Ketika krisis moneter menerpa Asia tahun 1997-1998, mereka seakan membodoh-bodohkan orang Asia. Di antaranya mencemooh kebijakan PM Malaysia Mahatir Muhammad yang menerapkan fixed rate saat itu, berbeda dengan Soeharto yang mengikuti anjurna IMF, yakni rezim devisa bebas.

"Ternyata sekarang terbukti, Amerika pun goblok mengelola dalam ekonominya. Jadi kita jangan terkagum-kagum pada IMF, karena mereka pun banyak tolol. Karena ulah IMF lah, Indonesia terpuruk seperti sekarang ini. Setelah kita melunasi utang ke IMF, tahun lalu, jangan pernah biarkan mereka bisa keluar masuk dengan bebas ke Indonesia," kata Farial menyarankan.


Edwin Sinaga pengamat pasar modal dari Kuo Capital pun mengatakan, dampak ganda krisis moneter Amerika sangat besar, yang terasa sampai ke Cina dan India. "Negara perdagangan Amerika sangat besar dan dominan. Dampaknya ke dunia sangat besar. Terbukti perbankan dunia, banyak bank-bank besar merugi, pasar modal melemah, investasi merugi, pasti investor terpaksa
mengambil keuntungan dengan menjual investasi di pasar yang lain untuk menutupi kerugian."

Dia menganalogkan krisis seperti tubuh manusia. Pada sistem tubuh, kalau salah satu tubuh sakit, yang lain juga sakit. "Mungkin ini yang dicermati IMF," kata Edwin. Parahnya lagi, kata Edwin, kondisi saat ini tidak mencerminkan, fundemental yang benar. Ambil contoh, kenaikan minyak tidak diukung data oleh karena supply yang berkurang atau demand yang bertambah. Supply dan demand minyak dunia relataif stabil, demikian juga harga emas.

"Yang dikhawatirkan adalah, kekacauan ini dibuat oleh segelintir orang yang bermaksud spekulasi. Kalau ini yang terjadi, ketidakseimbangan itu cukup besar. Ini yang ditakutkan. Maka perlu kebijakan tiap negara untuk membatasi gerak-garik dari spekulator yang ada di negaranya masing-masing. Saya kira, itu yang menjadi concern bersama dan IMF," kata Edwin. (Persda Network/domuara ambarita )

Tidak ada komentar: