Jumat, 25 April 2008

Parmalim

"Opputta Naparjolo Martukkothon Salagundi,
Pinukkani Naparjolo ipaihut-ihut Naparpudi"

Perumpaan Batak yang berarti, hasil cipta, karya dan karsa termasuk dalam hal budaya dari pendahulu, menjadi tradisi yang dilestarikan generasi penerus.

Bicara Kepercayaan Parmalim, saya teringat di tetangga kampung kami yang masih ada penganut Parmalim. Saya berasal dari Kampung Lumban Pea Ambarita, Desa Sihaporas, Kecamatan Pamatang Sidamanik, Simalungun. Walau berdomisili di Simalungun, kami masih melestarikan tradisi Toba. Sudah delapan generasi dari Op Mamontang Laut, hingga ke saya, nenek-moyang kami menghuni Sihaporas, sekitar 5 km sebelah tenggara Sipolha, atau 9 km dari Parapat.

Kampung tetangga,yakni B-8 (dekat perkebunan teh Bahbutong) dan Pansur Onom, masih ada beberapa, tidka lebih dari 100 KK, penganut Parmalim. Mereka biasanya beribadat Sabtu. Kaum laki-laki mengenakan pakaian tradisional sorban putih di kepala (seperti dikenakan umat seprti Hindu Bali), ada pun perempuan mengenakan sarung, dan saat berdoa tangan posisi menyembah.

Paramalim seperti saudara kita muslim, menganal haram dan halal. Mereka tidak mengonsumsi daging anjing, babi, hewan yang telah mati (tanpa disembelih), dan sebagainya.

Secara umum (walau tidak dapat digeneralisasi), mereka baik-baik, sopan-santun, ramah dan beradat, tidak terlalu suka hura-hura dan apalagi mabuk-mabukan (walaupun meminum tuak).


Mengingat keadaan ini, saya teringat pula pada tradisi Raja Sisimangaraja. Mengenai Sisimangaraja (bapak saya bertutur, sesungguhnya bukan Sisingamangaraja yang terdapat kata Singa artinya, Singa yang merajai) melainkan Raja Sisimangaraja (Raja serba Merajai).

Nama Sisingamaraja diduka untuk menguatkan lobi kepada pemerintah untuk mengegolkan gelar Pahlawan Nasional.

Kenapa Sisimangaraja menjadi Pahlawan nasional? Jawabannya karena beliau melawan Belanda.

Selain unsur politik dan perebutan kekuasaan, ada yang dipertahankan Sisimangaraja, yakni kepercayaan Parmalim. Parmalim berasal dari kata alim, seprti halnya alim-ulama. Beliau sendiri mengatakan tidak memiliki agama, karena agamanya di atas semua agama.

Mungkin itu yang membuat Penjajah Belanda kebakaran jenggot, sehingga terus mengejar Parmalim, karena menghambat penyebaran agama Kristen di tanah Batak. Senjata inilah yang belakangan dikembangkan sebagian kaum Islam, menyebut Sisimangaraja adalah Islam (sesungguhnya tidak).

Bapak saya pun, mendiang Jahya Ambarita, mantan prajurit TKR/TRI (legiun veteran), tidak pernah dibaptis. Beliau mantan kepala desa Sihaporas. Meski tak pernah dibaptis, beliau pelopor pembangunan jalan, sekolah termasuk tiga gereja Katolik di desa terdekat: Gereja Katolik Pansur Onom sebelum pindah dari Gereja Katolik Kebun Gadong/Ubi, dan Gereka Katolik Sihaporas.

Bapak saya, termasuk kami anak-anaknya raji ke gereja. Kami keluarga besar, 14 bersudara, 10 laki- 4 wanita. Bahkan abang-abang ada vorhangir dan sintua di gereka Katolik. Walau penetua gereja, kami tetap meneruskan tradisi leluhur, seperti kalau musim bercocok tanam mengadakan doa dan ritual agar Debata Mula Jadi Nabolon (Tuhan Maha Pencipta) memberkati benih, saat padi bunting mengadakan ritual pula agar hasil panen bagus, dan saat panen raya, mengadakan pesta sembari mengucap syukur kepada Debata.

Tradisi itu masih saya ingat, ketika SD sampai SMP. Namun sepeninggal ayah, ritual itu jarang. Jika hingga tahun 1992, Sihaporas masih desa unggulan yang swasembada bahkan pengekspor produk hortikultura seprti jahe, cabai, kol, tomat, dan jagung. Kini, warga Sihaporas sudah tidak berjaya lagi, kalau tidak mau disebut menderita.

Saya tentu saja tidak mengatakan serta-merta karena tidak lagi meneruskan tradisi, tapi juga karena pengaruh kapitalisme PT Inti Indorayon Utama (PT Toba Pulp Lestari) dengan Round-up-nya meracuni tanah sehingga menjadi tandus.

Kembali ke Parmalim. Mengutip dari Parmalim.com, Parmalim adalah nama sebuah kepercayaan atau mungkin boleh dibilang agama yang terutama dianut di provinsi Sumatra Utara. Agama Parmalim adalah agama asli suku Batak.

Agama ini bisa dikatakan merupakan sebuah kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang tumbuh dan berkembang di Tanah Air Indonesia sejak Dahulu Kala. "Tuhan Debata Mulajadi Nabolon" adalah pencipta Manusia, Langit, Bumi dan segala isi alam semesta yang disembah oleh "Umat Ugamo Malim" ("Parmalim").

Ayah saya, memang masih meneruskan tradisi. Tapi dia pun tidak mau disebut Parmalim, dan dia mengaku Katolik, walau tak di Baptis.

Ayah sangat arif dan bijksana, bukan saja terhadap anak-anaknya dan manusia, juag perlakuan terhadap hutan. Bahkan sebagi orang tua, mereka sering pergi ke hutan 'mangalompas" atau melepas binatang ke hutan, seperti tradisi melarung sesajen Hindu Bali. Ayah melarang anak-anak menebang pohon yang amat besar.

Dari fakta-fakta tadi, saya melihat, tidak ada alasan bagi pemilik agama-agama yang diakui pemerintah Indonesia untuk menyebut Parmalim jahat, sesat dan harus dibubarkan.

Kalaupun mereka terkucilkan, karena mata dan pikiran kita kagung dibutakan oleh penjajah Belanda, dan kaum kapitalis. Pengusaha misalnya, tentu sangat senang menebang kayu/pohon besar karena secara ekonomis menguntungkan. Lalu mereka memprovokasi masyarakat dengan menyebut, tidak boleh memberi sesajen kepada kayu besar, berdalih agama untuk tujuan ekonomi.

Saya penganut agama Katolik, tapi buat saya, seprti tertulis dalam Injil "Johanes 14:6, Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."

Pasal ini, seperti diperbarui dalam Konsili Vatikan II, bukan berarti semua orang yang beragama Katolik akan masuk surga. Bukan. Orang masuk surga bukan karena agama/KTP, tetapi berdasarkan iman-ibadah, dan perbuatan-amal.

Saya mau mengatakan, kita boleh beragama apapun, dan mengikuti tren apa pun, tetapi jangan serta-merta lupakan budaya, apalagi menistakannya. Sekarang kita banyak latahnya. sampai-sampai membuat nama anakpun dimodernisasi, kebarat-baratan. Tidak salah sih, tapi kasihan saja, adat tradisi, yang belum tentu buruk-negatif semua, ditinggalkan begitu saja.

Mengutip Tukul Arwana, seakan-akan Wong Deso (parhuta-huta: Toba) sesuatu yang memalukan, yang diharamkan. Padahal, 7o persen penduduk negeri ini tinggal di pedesaan. Dan kalau mereka tidka ada, orang-orang berduit di gedongan sana, dari mana mau makan nasi, sayur-mayur dan lauk-pauk??

Sekali lagi, saya bukan antimodernisasi, bukan antikemajauan, bukan pula antiEropa dan Amerika, tetapi anti terhadap paham yang sok kebarat-baratan di sisi lain mengindak-injak tradisi leluhurnya. Ini yang salah. Seperti kata pepatah, "Panas Hari, Lupa Kacang Akan Kulitnya".

Saat orang-orang Amerika dan Barat mulai makin cinta hal-hal tradisi dan alami, kita orang Timur malah sebaliknya. Maka wajarlah bila ketahanan budaya bangsa ini sangat rentan. Dan wajar pulalah, jika lagu-lagu dan kebudayaan Indonesia banyak dijiplak negara lain. Alhasil, pusaka bangsa kita kini banyak dimuseum-museum di luar negeri.

Lihatlah Korea, Jepang, Cina dan India, sekarang menjadi kekuatan ekonomi-teknologi Dunia, tetapi mereka tetap melstarikan nbilai-nilai tradisi. (domuara ambarita)

Tidak ada komentar: