Rabu, 09 April 2008

Pebisnis Harus Tetap Pantau Fluktuasi Kurs

http://www.kompas.com/index.php/read/xml/2008/04/09/00524418/pebisnis.harus.tetap.pantau.fluktua si.kurs

Rabu, 9 April 2008 | 00:52 WIB

JAKARTA, RABU - Krisis moneter global tidak saja mengganggu perekonomian negara. Langsung maupun tidak langsung, perusahaan-perusahaan atau korporat pun akan terimbas. Untuk menghindari kemungkinan terburuk, korporat diimbau agar lebih prudent, hati-hati. Misalnya melindungi transaksi (ekspor impor) dengan asuransi, lebih hati-hati mengambil risiko, dan terus jeli mencermati fluktuasi kurs.

"Krisis saat ini bermula dari sub-prime mortgage Juli 2007 yang dipicu. kredit properti atau KPR yang direkayasa di Amerika. Terus dampak terasa sampai pada produk derivatif pasar modal," ujar pengamat pasar modal, Farial Anwar, di Jakarta, Selasa (8/4).

Pengamat pasar uang dari Kuo Capital, Edwin Sinaga menuturkan sejak kasus subprime mortgage pada sektor properti yang mengguncang pasar modal Amerika Serikat, investor asing sempat menarik dananya dari pasar modal Indonesia. Akibatnya, perbandingan modal asing dan domestik di pasar modal sempat berimbang, 50:50. Namun belakangan, modal asing kembali mendominasi pasar modal, hingga 60:40, atau bahkan lebih.

Dana pemodal asing sangat dinamis. Dana asing sangat mudah keluar masuk ke pasar modal, misalnya dengan memborong obligasi negara atau ke bursa saham. Hingga saat ini, belum ada dana asing yang langsung masuk pada direct investment, atau sektor riil berjangka panjang.


"Saya sih tidak menganggap ini bahaya, tapi jangan sampai nanti, menimbulkan ketidakstabilan karena mereka dapat angkat kaki dengan cepat. Ini yang harusnya diimbangi pemrintah, agar dana mereka bertahan cukup lama, kalau perlu dirumuskan dari modal jangka pendek menjadi jangka panjang. Misalnya, membenahi sektor riil sehingga ada foreign investment yang masuk. Pasar modal dapat mendukung ini dengan
memperbanyak perusahaan masuk bursa (IPO)," usul Edwin.

Apa yang akan dilakukan pemerintah dan pebisnis mengantisipasi kemungkinan terburuk? "Pemerintah kita sebenarnya tidak ada yang dapat melakukan banyak hal. Tetapi perusahaan, harus memperhatikan nilai fluktuasi, dan mengelola risikonya. Jangan biarkan risiko atau kewajiban tanpa perlindungan yang baik," ujar Farial, yang juga Managing Director Currency Management Group.

Edwin pun mengatakan hal senada, pelaku bisnis harus ekstra hati-hati. "Korproat harus meningkatkan asas prudent, hati-hati. Kita harus prepare terhadap segala kemungkinan, kondisi terjelek yang mungkin terjadi andai ekonomi global terus memburuk," ujarnya.

Pemerintah, sebaiknya hati-hati membuat kebijakan sehingga berpihak pada sektor riil, sebaliknya swasta dapat menempatkan diri sebagai mitra aktif dan berkoordinasi pemerintah memberi masukan- masukan sehingga kebijakan yang ditetapkan pemerintah tidak kontraprestasi. Jangan mengambil kepentingan sendiri. (Persda Network/domuara ambarita)

1 komentar:

infogue mengatakan...

Artikel di blog Anda sangat menarik dan berguna sekali. Anda bisa lebih mempopulerkannya lagi di infoGue.com dan promosikan Artikel Anda menjadi topik yang terbaik bagi semua pembaca di seluruh Indonesia. Tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!

http://www.infogue.com
http://www.infogue.com/bisnis_keuangan/pebisnis_harus_tetap_pantau_fluktuasi_kurs/