Kamis, 30 Oktober 2008

Latihan sebelum pentas medical cabaret, di UPH, 2 November 2008.






Ratusan Dokter Mengamen untuk Danai Bedah Otak (5-Habis)
Gelar Kabaret untuk Mengamen sekaligus Hilangkan Stres

TINDAKAN bedah saraf dan otak menghabiskan biaya besar. Mungkin puluhan juta, ratusan juta bahkan puluhan miliar. Tentu tergantung kondisi pasien. Jika pasien dari kalangan mampu tentu tak menjadi soal, tetapi bagaimana kalau kaum papa, rakyat jelata nan miskin. Apakah kita tega melihat mereka menderita sumur hidup dengan tumor atau kanker di otak?

Menurut kepala Neuro Science Center RS Siloam dr Eka Julianta Wahjoepramono, biaya untuk dokter, anastesi dan pendukungnya saja sektiar Rp 40 juta. Lalu dana lebih besar lagi dibutuhkan pascaoperasi dan pemulihan. Misalnya tarif perawatan pasien di unit perawatan intensif (ICU) sebesar 700 dolar AS/hari atau setara Rp 6,4 juta (asumsi 1 dolar AS = Rp 9.200).

"Ini betul-betul wallahu walam. Yang namanya bedah otak bisa saja hanya sehari di ICU, tetapi ada juga yang mencatat rekor total delapan bulan di ICU karena otaknya kena virus setelah oeprasi sehingga harus menggunakan alat bantu pernafasan," ujar dr Eka.

Mengapa biaya operasi otak sangat mahal? Penyebabnya adalah karena alat-alat dan mesin operasi hampir semuanya produk impor yang harganya sangat mahal. Misalnya, bornya saja seharga Rp 600 juta, dan hampir pasti diganti dalam tiga tahun karena usang. Mata bornya dari berlian, satu buji Rp 3 juta, dan langsung dibuang sekali pakai. Dalam sekali operasi bisa belasan mata bor yang dipakai. "Bagaimana murah, kan saya tidak bisa menggunakan bor kayu untuk membedah otak," kata dr Eka bergurau.

Namun tingginya biaya operasi atau bedah otak tidak menghentikan kepedulian sosial dr Eka selaku Yayasan Otak Indonesia. Untuk alasan kemanusiaan inilah, beberapa dokter dan peduli kemanusiaan mendirikan Yayasan Otak Indonesia untuk mengusahakan biaya pengobatan pasien tak mampu seperti telah dirasakan Jumiati, istri seorang dan Ardiansyah.

Yayasan Otak Indonesia selain mengandalkan kebaikan hati orang-orang berduit yang masih punya kepedulian sosial, para dokter pun menggelar kabaret dengan undangan 2.000 orang. Memadukan kesehatan dan seni, pagelaran charity night yang dinamai Medicabaret akronim dari Medical Cabaret yang dilangsungkan di Grand Chapel Gedung C Lantai 6 UPH Karawaci, Tangerang , 2 November 2008 pukul 19.00-22.00.

Pemainnya bejumlah 300 orang yang semuanya berkaitan dengan kedokteran, yakni dokter- dokter, perawat RS Siloam, dosen dan mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan. Lewat pegelaran ini, para dokter ingin mengamen berharap sumbangan dari para mantan pasien yang pernah 'berutang nyawa'.

"Hitung-hitung, para dokter yang sudah stress bekerja setiap hari ingin refreshing sekalian mengamen," ujar dr Endang M Johani SpM, Performance of Director Medicabaret.

Panitia Medicabaret, dr Willi Satriya menuturkan acara kesenian ini akan dihadiri sejumlah menteri seperti Menkopulhukam Widodo AS, Mekes Siti Fadilah Supari, Menlu Hassan Wirayudi beserta istri, mantan Ketua MPR Amien Rais, mantan Panglima ABRI Wiranto, dan duta besar sejumlah negara sahabat. Menurutnya, seminggu sebelum pertunjukan, tiket sudah hambir habis. "Tiket Medicabaret untuk 2.000 orang penonton sudah nyaris ludes," kata dia, Rabu (29/10).

Biaya pelaksaan berkisar Rp 100 juta. Kemudian hasil penjualan tiket dan mungkin sumbangan, setelah dipotong biaya pelaksanaan, akan diserahkan ke Yayasan Otak Indonesia dan selanjutnya mendanai operasi bedah otak semacam kaum papa, seperti Jumiati dan Ardiansyah.

Ide awal pelaksaanaan Medicabret, menurut dr Eka yang juga Dekan Fakultas Kedokteran UPH, karena para dokter bekerjanya luar biasa capai. Melayani pasien penderita tumor, kanker, otak dan sebagainya bisa sampai 15 hari jami sehari.

"Pekerjaan seperti ini membuat dokter dan paramedis stres. Belum lagi kalau pasien gagal disembuhkan, stres akan bertambah. Nah saya punya ide, untuk tidak stres bagaimana kalu kita bikin kabaret dan ternyata disambut banyak dokter," tutur pria kelahiran Klaten, Jawa Tengah, 27 Juli 1958.

Ide ini kemudian dikembangkan menjadi kegiatan sosial untuk menghimpun dana melalui Yayasan Otak Indonesia. Di saat sekarang, yayasan sulit menghimpun dana sponsor atau sumbangan.

Kendati diperankan para dokter, panitia mengerjakannya sebaik mungkin dengan melibatkan sutradara, dan koregrafer profesional.

Menurutnya, dokter kelompok bedah saraf RS Siloam dengan mantan pasien sangat akrab. Seperti keluarga. "Mereka pun memerlukan hiburan, dan terpikir bahwa pasien-pasien itu banyak di antaranya konglomerat, akan diundang. Setelah dikontak banyak yang mendukung, maka jadilah acara ini," sambung dokter Eka.

Medicabaret mengangkat temanya tentang cinta kasih. Ada cinta kasih dengan nuansa romantisme, maupun cinta kasih pertolongan pada korban gempa yang di dalamnya mengandung unsur pelayanan kesehatan misalnya operasi yang konyol, atau operasi melahirkan yang konyol. (Persda Network/Domu Damians Ambarita)

Tidak ada komentar: