Kamis, 30 Oktober 2008



Dokter Sosial: Kepala Neuro Science Center RS Siloam dr Eka Julianto Wahjoepramono, ahli bedah saraf kaliber internasional. Dia sering mengoperasi pasien miskin.



Ratusan Dokter Mengamen untuk Danai Bedah Otak Pasien tak Mampu (3)
Dr Eka Disegani Setelah Operasi Si Yatim Piatu

NYONYA Jumiati bukanlah satu-satunya pasien tak mampu yang menjalani bedah otak cuma- cuma di RS Siloam, Karawaci. Jauh hari sebelum menyelematkan ibu tiga anak itu dari bahaya kanker di otak, tim dokter yang dipimpin dr Eka Julianta Wahjoepramono, kepala Neuro Science Center RS Siloam, pun telah menolong Ardiansyah, pemuda yatim piatu asal Cilegon, Banten.

Sewaktu datang, Ardiansyah dalam kondisi kritis. Dia terancam lumpuh, buta dan napasnya putus. Penyakitnya bukan penyakit biasa, melainkan masih sangat langka yakni tumur bersarang di batang otak.

Ardiansyah datang bersama kakaknya. Mereka cuma dua bersaudara, yatim piatu dan keluarga miskin. Menghadapi kenyataan pasien pasti tak mampu membayar pengobatan, sedangkan penyakitnya pada staium gawat dan sulit ditangani, dr Eka tetap optimistis pasien dapat disembuhkan.

"Lalu saya ngomong ke pasien secara terus terang belum pernah melakukan operasi pada batang otak, apalagi mengangkat tumor dari dalamnya. Tapi kita tidak ada opsi lain. Lalu kakaknya menyerahkan, dan menyetujui operasi. Silakan dok, wong kami tidak punya uang. Kalau ternyata dokter nanti mau, kami punya gubuk satu, itu nanti bisa kami jual," kata dokter Eka menirukan penuturan pasrah keluarga si pasien. Jalan keluarnya, dr Eka meminta bantuan pendanaan pada pendiri Grup Lippo, juga bos RS Siloam, Mochtar Riyadi.


Begitu pasien dan keluarga menyetujui operasi, pembedahan tidak serta merta dilakukan. Dokter Eka terlebih dahulu membuka buku-buku referensi tentang bedah batang otak, dan konsultasi dengan dokter di Amerika.

Tumor di batang otak Ardiansyah seratus persen diangkat. "Saya sendiri baru sadar, operasi semacam itu adalah operasi yang sangat langka di Indonesia maupun di dunia," kata dr Eka, ayah tiga anak.

Untuk kasus langka semacam ini, lazimnya direkam dalam video. Sebelum operasi, selama berlangsungnya operasi hingga pascaoperasi didokumentasikan. Kemudian dalam banyak forum internasional, hasil operasi itu saya presentasikan, dan sambutannya luar biasa. Mereka salut dan mengatakan, luar biasa. bahkan dokter dari Amerika mengundang untuk penjelasan lebih lanjut.

"Hikmahnya, kami berani mengoperasi batang otak. Sebab sebelumnya dari barang kermat yang tak boleh disentuh, menajadi hal biasa. Setelah operasi Ardiansyah. kami menangani 13 kasus yang mirip di kemudian hari dan semua selamat," urai dr Eka, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Pelita Harapan.

Lima belas tahun lalu, dr Eka masih mengenang ketika bertemu dokter-dokter Singapura, mereka selalu meremehkan. Mencemooh dokter asal Indonesia yang dianggap hanya bisa mengoperasi kecil pada korban kecelakaan lalu-lintas. Saat itu semua orang berduit penderita tumor otak, 99 persen pasti berobat minimal ke Singapura.

Dokter yang sama, belakangan jadi sewot, karena pasien dari Indonesia sudah jarang pergi ke Singapura. "Sekarang untuk bedah otak, kita malah sudah jauh daripada keahlian dokter-dokter Singapura," ujar dr Eka yang menjabat President Asian Ocean Skull Base Society.

Prestasi ini diakui negara-negara maju, termasuk Amerika. Dr Eka diundang sebagai guru besar tamu pada Universitas Arkansas, dan Universitas Harvard Amerika Serikat. Seterusnya dr Eka menjadi narasumber tersohor dan laris ke beberapa negara seperti Taiwan, Jepang, Malaysia, Jerman, untuk membicarakan hal yang sama, yakni sukses mengangkat tumor dari batang otak.

Ia mengatakan dalam dunia kesehatan bedah otak ada standar angka kematian, dan ada standard angka kesakitan. Misalnya, jumlah pasien yang dioperasi di Amerika adalah 1.000 orang dan meninggal lima orang, dan lumpuh 100 orang, sedangkan di Indonesia dari 1.000 pasien meninggal enam orang dan yang lumpuhnya 90 orang. Itu standard nilai keberhasilan. Dan setelah presentasikan di dunia internasional, standar Indonesia tidak beda jauh dengan Amerika, Jerman, dan Jepang.

"Di mana-mana pasti ada angka kematian. Nggak ada keberhasilan 100 persen hidup terutama untuk operasi otak. Dari angka ini, ternyata ktia tiadak bedah jauh dari negara maju. Dengan demikian masyarakat semakin menyadari, mengapa mereka mesti berangkat jauh ke luar negeri kalau di dalam negeri saja sudah bisa," kata dr Eka.

Dia mencontohkan satu BUMN besar, beberapa tahun lalu, jika staf ada keluhan sekalipun hanya pusing, maka selalu untuk memeriksa kesehatan selalu ke Tokyo. Dan setiap berangkat, selalu memabwa isitri atau suami. Belakang, pihak SDM BUMN itu mulai sadar, pengobatan semacam ini berbiaya tinggi, dan kebobolan miliaran rupiah.

Kebiasaan seperti ini sebenarnya sudah merebak. Pejabat negara, mulai menteri, staf presiden, konglomerat, kalau pusing biasanya langsung ke Singapura untuk periksa kesehatan. "Kalau orang gede-gede sudah menberi contoh begitu, yah bagaimana rakyatnya. Padahal banyak pemimpin di negara lain, tidak mau berobat ke luar negeri. Mereka memilih berobat di dalam negerinya sendiri dan percaya kepada dokter sendiri, mereka gengsi kalau harus ke luar negeri," katanya. (Persda Network/Domu Damians Ambarita)

Tidak ada komentar: