Kamis, 30 Oktober 2008


Dr Eka Julianto Wahjoepramono, kepala Neuro Science Centre RS Siloam/Dekan FK UPH

Ratusan Dokter Mengamen untuk Danai Bedah Otak Pasien tak Mampu(4)
Tolak Tawaran Pindah ke Amerika dan Jepang

SUKSES membongkar benda 'keramat' yakni batang otak dan mengangkat tumor dari dalamnya, membuat panjang harapan hidup Ardiansyah, pemuda yatim-piatu asal Cilegon, Banten. Pada sisi dr Eka Julianta Wahjoepramono, kepala Neuro Science Center RS Siloam, yang awalnya terkesan nekat, operasi ini justru membawa hikmah luar biasa. Sukses itu membuat dia terkenal dan disegani para dokter dari berbagai negara.

Mulanya, dokumentasi proses operasi mengangkat tumor dari dalam batang otak yang diperlihatkan pada satu forum internasional para dokter ahli bedah otak. "Setelah saya presentasikan, para dokter dari negara maju pun pada ngomong, ini bukan kasus biasa-biasa, tetapi luar biasa dan langka," ujar dokter Eka yang kini banyak terlibat pada organisasi kedokteran tingkat regional dan dunia seperti presiden Asian-Oceanean Skull Base Society.

Selepas operasi mengangkat tumor Ardiansya itu, dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro, Semarang, dan Bedah Saraf Universitas Padjadjaran Bandung ini, pun makin laku dan sering diundang ke berbagai universitas di luar negeri.

Belakangan, dr Eka pun menemukan teknologi baru operasi bedah saraf otak atau yang disebut metoda Trans Clival. Dengan metoda ini, operasi otak tanpa harus bedah tengkorak melainkan cukup melalui tulang clivus pada hidung untuk mengangkat tumor yang menempel di bawah otak. Tingkat kesulitan ini terbilang rendah.

Dr Eka pun menjadi profesor tamu pada Fakultas Kedokteran Departemen Bedah Saraf Universitas Arkansas; dosen tamu pada Haravard Medical School, Massachuset, Amerika; Profesor Tamu pada Universitas Nasional Taiwan, Profesor Tamu pada Rumah Sakit Wang Fang, Taipei; dan Editorial Scientific of Australasia Neuroscience.

Jika 15 tahun silam dia masih dianggap remeh dan disepelekan dokter-dokter termasuk dari Singapura, belakangan berbalik. Nama dan prestasi dokter Eka pun semakin tersohor, dan makin digemari pasien. "Dalam sepuluh tahun terakhir, alumni pasien yang operasi saja mencapai 7.000-an, dan yang non operasi mungkin mencapai 10 kali lipat. Saban tahun kami melayani 700-an orang operasi bedah otak," kata dr Eka, suami dari Hanna K Damar.

Para pasien itu berasal dari berbagai daerah di Indonesia, juga dari berbagai negara. Paisennya dari Sabang ada dua orang, dari Merauke, dari perbatasan Batam yang seharusnya tinggal menyeberang setengah jam ke Singapura tetapi memilih berobat ke Jakarta.

Pasien dari Belanda datang ke Indonesia. Pasien dari Amerika juga datang ke Siloam. "Saya tanya dia, kenapa datang ke saya. Lalu kata pasien itu, 'Saya sudah dengar dan baca di Internet bahwa reputasi anda juga sama dengan dokter di Amerika.' Kalaupun pakai asuransi, saya harus tetap bayar 20 persen, yang nilainya tetap lebih mahal dibandingkan di Indonesia. Kelebihannya di Indonesia, setelah operasi saya sembari bisa pergi ke Bali'," kata dr Eka mengutip pasiennya.

Setelah prestasi luar biasa dan namanya mendunia, tawaran kepada dokter Eka terus berdatangan. Tawaran pekerjaan hingga pindah kewarganegaraan. "Saya ditawari di Jepang dan Arkansas. Tapi saya nggak mau. Alasan nasionalisme yang membuat saya bertahan di sini. terus terang, saya tersinggung kalau ada orang di luar negeri yang meredahkan atau tidak memandang Indonesia," kata dr Eka yang banyak menimba ilmu dari Prof Dr Med Raden Iskarno SpB SpBS, perintis Bagian Bedah Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Bandung/RS Hasan Sadikin.

Memang banyak orang pintar putra bangsa yang hijrah bekerja ke luar negeri. Misalnya, pilot pesawat terbang yang eksodus pada perusahaan maskapai asing, teknisi mantan pegawai PT Dirgantara Indonesia dibajak pabrikan pesawat terbang, bahkan ilmuan/pelajar peraih medali emas pada olimpiade kimia, biologi, fisika dan matematika juga hengkang.

Alasan menolak pindah kewarganegaraan sekalipun ke negara maju dengan fasilitas yang wah, antara lain, dia mempunyai panggilan jiwa terhadap bangsa dan negara ini. Dan kalau pindah ke Amerika, belum tentu terkenal seperti populernya di Indonesia.

"Selama saya di Indonesia masih cukup makan dan minum, dan syukurlah selama ini terpenuhi, mengapa saya harus pergi. Dan kemudian, kalau bukan saya yang memulai mengangkat prestasi dokter bedah otak Indonesia, lalu siapa lagi," ujar dr Eka sembari menyebut pengorbanannya dalam meraih prestasi tidak mudah.

Tahun-tahun pertama, dia nyaris tak pernah libur, atau berakhir pekan bersama keluarga bahkan waktu untuk keluarga nyaris tidak ada. Bekerja dari pukul 07.00 hingga 24.00 dalam sehari, setiap hari. Barulah setelah ada tim dokter yang terdiri atas lima orang, barulah bisa cuti bergantian. (Persda Network/Domu Damians Ambarita)


2 komentar:

RUDDY TRI SANTOSO, DRS. MM mengatakan...

heheheh kebetulan sy adik sepupu dr.eka, sy teman mainnya sejak kecil di klaten, rumah kami bersebelahan krn ayah sy dan ayah dia kakak beradik.sekarang dunia sudah banyak mengalami perubahan,dan kehidupanpun juga sudah berubah semuanya.banyak teman main yang sdh berpisah sekarang krn sdh jadi orang..tapi yang jelas kesan mendalam pasti tak akan terlupakan. (ruddy t santoso)

Domu D. Ambarita mengatakan...

salut pak untuk dokter Eka.
Beprestasi, rendah hati, dan punya kepedulian sosial