Rabu, 12 November 2008

Apa Betul Kaum Pendoa Harus Kaya?

SAYA berasal dari keluarga besar. Dari satu rahim dan satu penabur bibit: lahir 14 anak, datu di antaranya meninggal semasa anak-anak, seusia kelas 1 SD, selainnya memiliki keturunan. Ibu saya, janda tua, 80 tahun, saat ini punya cucu 37 cucu, dua cicit.

Mayoritas anaknya petani, dan tinggal di pegunungan Bukit Barisan. Hanya dua orang kami di pulau Jawa. Semua anaknya berada pada kelas bawah, miskin. Untunglag ibu masih mewarisi penghasilan ayah kami almarhum, dari gaji veteran sebagai bekas TKRI.

Kakak saya nomor lima, pertengahan bulan Oktober lalu berkunjung ke Jakarta, menghadiri wisuda putrinya. Kami tak sempat lama bicara tentang banyak hal, termsuk mengabsensi satu-satu saudara di kampung sana, berikut keluarganya.

Mungkin ini yang menonjol dalam ingatan dia adalah, Abang Sulung saya, yang sudah punya dua cucu dari emapt anaknya. Si Abang belakangan sering uring-uringan gara-gara kondisi perekonomiannya tak kunjung membaik setelah mengalami krisis akibat kerugian saat berdagang, tepatnya pedagang pengumpul komoditas pertanian cepat busuk semacam jahe, dan cabai.

Menurut cerita kakakku, Si Abang, akalu sudha emosi, dia sepertinya ngambek, dan ingin secepatnya hengkang, meninggalkan kampung. Alasan dia sangat fundamental (bagi sebagian orang). Dia adalah tetua adat, dan semacam kepala suku. Kalau ada acara ritual adat, doa maupun ritual, dialah yang memimpin.

Dari sudut ini, rupanya dia berpikir (dan juga mungkin banyak orang), selaku pemimpin, tetua dan apalagi sering berdoa (entah secara adat maupun keyakinan agama masing-masing), dia mestinya mendapat nilai lebih di hadapan Tuhan dan manusia. Sebagai bukti nyata, setidaknya perekonomian lebih baik, kesejahtarean lebih menonjol. Kasarnya kayalah, atau setidaknya berkecukupan.

Ya, saya, mungkin juga sebagain besar rakyat Indonesia masih terperangkap pola pikir seperti si Abang tadi. pada titik tertentu mengidentikkan doa dengan kesehatan, kesejahteraan dan kecukupan. Dan oleh karenanya, menilai remeh orang yang kendati pun saleh dan beriman, tetapi kehidupan ekonominya melarat, miskin.

Susah memang. Tidak mudah memahami kehendak Illahi yang menyebut, lebih susah seekor Onta masuk lobang jarum daripada seorang kaya masuk kerajaan Allah.

Cerita yang saya angkat dari kemiskinan keluarga, dan sikap putus asa tadi, mungkin pula diperlihatkan saudara-saudara kita di Flores tau pedalaman Pontianak, seperti disebut mas Haryo.

Mereka sering menghukum, atau menagih pada Tuhan hanya dengan mengingat investasi doa, dan pujian, tetapi nyaris melupkan sebera besar kerja keras, keringat menetes untuk bercocok tanam, bekerja dan berbakti untuk keluarga. Doa sangat cukup menjawab kebutuhan rohaniah, dan kernanya kita kuat menghadapi keadaan sesulit dan semiskin apa pun.

Tapi dia taidak akan pernah secara nalar, bisa menyelamatkan kita dari kemiskinan, dari kelaparana, jika kita pun tak menggunakan tenaga dalam artian fisik, dan pikiran untuk mencari sesuatu yang bernilai ekonomi. Singkatnya, andaipun kita berdoa selama tujuh hari dalam seminggu, makanan dan uang tidak akan datang ke hadapan kita.

Ini pula yang saya sampaikan kepada kakak saya untuk disampikan ke Abang sulung kami, agar sembari berdoa secara tekun, dia beserta istri pun jangan lupa bekerja kerat, ulet dan tak mengenal lelah: bertani kek, berdagang kek, dan sebagainya.

Perlu ada keseimbangan antara rohaniah dan batiniah. Untuk mencapai kebutuhan batin, maka urusan spiritual seperti berdoa dan beribadatlah jawabnya. Jika ingin juga mencapai kepuasan jasmaniah, tidak cukup berdoa saja melainkan harus pula mengerahkan segenap tenaga, pikiran dan alak untuk bekerja untuk menghasilkan uang.

Menjadi celaka, kalau hanya tekun dan ulet berdoa dan beribadat, tetapi malah berkarya maka ujung-ujungnya akan lahir aliran-aliran sesat yang menyalahkan Tuhan.

Dalam konteks gereja, yang saya, tahu membatasi lembaga untuk tidak terjerumus dalam hal-hal duniawi: bisnis, politik dan kekuasaan. Namun juga, sudah tidak saatnya lagi terlalu apriori terhadap kehidupan duniawi, yang antara lain dapat dilakukan dengan mendorong umat lebih cerdas melihat tanda-tanda zaman.

Saatnya para pastor lewat kotbahnya setiap ekaristi, memberi contoh-contoh konkret dalam kehidupan saat ini, tidak melulu kutipan Alkitabiah. Boleh mengutip ayat-ayat Suci, tetapi dikaitkan dalam konteks kekinian.

Dan bagi kaum awam, seperti kita semua, kita harus peduli basis Katolik yang miskin. Kalau tidak, mungkin hanya menunggu waktu: daerah basis itu hanya tinggal sejarah.

Kemiskinan di sini dalam konteks harta benda. Haruskah orang beriman, yang rajin mendoa menyukuri dan menerima apa adanya kemiskinan dengan alasan, toh Yesus juga menjadi Nabi bukan karena kaya-raya melainkan karena penyerahan totalitas. Akankah pula menjadi perdebatan, dan lalu menghukum seorang kaya tidak boleh jadi pengikut Yesus Kristus. (Domuara Damianus Ambarita)


Tidak ada komentar: