Kamis, 18 Desember 2008

Kutahu Jalan Terjal, tetapi...



* Sisi Terang di Balik Krisis Finansial Global

Gusar. Khawatir. Waswas. Cemas. Takut. Sejumlah kata dan padanan kata di depan kadang kala menghampiri setiap orang. Ya, Gusar. Khawatir. Waswas. Cemas. Takut. Sangat manusiawi. Seperti sifat lainnya, lapar dan kenyang, sedih dan gembira, tangis dan tawa, benci dan cinta, dan sebagainya.

Akhir-akhir ini saya, anda san tentu sebagian rakyat Indonesia dapat gembira dan tertawa sebab pemerintah meringankan beban 'relatif' mereka lewat penurunan harga bahan bakar minya (BBM) yang disbeut subsidi jenis premium atau bensin dan minyak solar. Bensin turun harga dua kali, yakni tanggal 1 dan 15 Desmeber 2008 masing-masing Rp 500, dari semula Rp 6.000 menjadi Rp 5.000/liter. Harga solar turun dari Rp 5.500 menjadi Rp 4.800/liter.

Penurunan harga BBM akibat menurunkan permintaan akan energi adalah hikmah di balik krisis. Harga minyak mentah anjlok, di bawah 45 dolar per barel, hanya seperti dari harga gila-gilaan yang mencapai hampir 140 dolar per barel, Mei 2008, adalah sisi terang di balik kegelapan dunia usaha terutama ekspor-impor, tahun ini.

Masyarakat yang terkena dampak langsung misal pengguna sepeda motor, pemilik mobil, nelayan dan pengguna mesin berbahan bakar bensin dan solar tertawa karena beban sedikit berkurang. Sekali lagi, hanya sedikit berkurang.

Saya misalnya, jika sebelumnya mengeluarkan 18 ribu untuk dua kali (PP) Depok-Palmerah, atau empat kali perjalanan, untuk si irit, Supra Fit, sekarang berkurang Rp 3.000 atau 16,7 persen. Jadi dalam dua hari saya dapat menghemat Rp 3.000, bila 26 hari kerja, berhemat kurang lebih Rp 39 ribu. Pengguna kendaraan bermotong lainnya pun merasakan kegembiraan seurapa saya. Dalam hal ini, pasti.

Senang dan tawa itu sayang hanya sementara. Sekejap saja. Beban hidup lain sedang menggelayut bak awan gelap pembawa badai. Pekan-pekan ini, berita bernada ancaman, mengkhawatirkan muncul dengan kunatiatas dan kualtias tinggi menghampiri pintu informasi kita entah melalui koran, portal, radio atau tivi.



Krisis finansial global yang bermula dari Amrik, sana diperkirakan akan terus bergerak menyapu seperti dahsyatnya tsunami di Aceh tahun 2004. Krisin finansial global yang akan menimbulkan semakin banyak orang kehilangan pekerjaan akibat terkena putusan hubungan kerja, menambah pengangguran, jumlah kemiskinan dan serentetan dampak ikutannya.

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) baru-baru ini mengingatkan permitnah segera mengambil langkah antisipatif dengan meningkatkan spending of goverment pada sektor infrastruktur yang padat karya, serta meminta buruh untuk tidak macam-macam mempersoalkan UMR. Sebab jika salah, jumlah penganggur baru akibat PHK sangat bisa menyamai rekor tahun 1997-1998 yang mencapai 2 juta jiwa.

Belanda Depok, eh PHK bukan lagi jauh. Dia sudah dekat, bahkan sudha tiba dan menyusup ke rumah-rumah masayrakat. PHK sudah terjadi. Banyak perusahaan, terutama yang berorientasi ekspor telah merumahkan pekerjanya. Bukan saja dalam negri, juga pekerja kita yang diekspor ke luar negrei, yakni para TKI.

Hari ini, Kamis (18/12/2008) Harian KONTAN mengatakan, pemrintah mengakui ada 250 ribu TKI yang terkena PHK. Dan diperkirakan 300 ribu TKI di Malaysia akan kehilangan pekerjaan, ratusan orang TKI di Korea Selatan dan Jepang pun sudah kehilangan kontrak.

Fakta-fakta inilah yang membuat kegembiraan dan tawa tadi sirna ditelan angin. Tawa hanya sebentar, dan tenggelam di tengah impitan ekonomi, merosotnya harapan hidup, meningginya gangguan kesehatan-kejiwaan yang ditandai angka bunuh diri makin deras bertambah, dan meningkatnya angka kejahatan sosial-kriminalitas.

Lebih banyak fenomenan, tanda-tanda zaman dan atau fakta yang justru membuat hidup gusar, khawatir, waswas, cemas dan takut.

***
Saya pribadi termasuk sempat terlena, membiarkan diri hanyut dan terombang-ambing dalam lautan kegusaran, kekhawatiran, kewaswasan, kecemasan, dan ketakutan. Entah mengapa, saya yang biasa optimistis, sempat hampir tenggelam dalam sikap pesimistis dan takut yang teramat dalam.

Semua hal-hal menakutkan itu muncul, karena mungkin saya terlalu menghati peran selaku wartawan. Saya bukan lagi sekadar menulis berita sesuai fakta atau pendapat orang lain, malah menginternalisasi pada diri saya sendiri. "Wah, kalau terjadi PHK jutaan orang, dan perekonomian nasional surut, jangan harap dapat menikmati ketenangan dan kesenangan paripurna: kecuali koruptor, maling, dan sejenis."

Kecemasan pun muncul karena masih banyak beban dan tanggungan, sementara dalwam waktu dekat mulai menyekolahkan anak, menyiapkan biaya persalinan untuk istri yang sudah pasti akan menempuh caesar. Pancuran banyak, tetapi hanya satu sumber mata air.

Untunglah pekan lalu, seroang sahat dan guru saya, motivator ulung, Grand Dynno Cressbon mengingatkan saya agar menatap jauh ke depan, dengan tidak terlalu mencemaskan hidup. Jangan terlalu takut. Jangan lebih banyak mengurusi dan memikirkan hal-hal kecil, sebab bisa gila.

Kala hatimu kacau dan badanmu lela karena melakukan pekerjaan dengan banting tulang tetapi hasilnya tidak berbandaing lurus, atau dengan bahasa eknomi, lebih besar pasak dari tiang, janganlah lantas menyalahkan Tuhan. Justru lebih banyak berdoa, dan beramal.

Menurutnya, berdoa yang baik bukan di rumah tetapi di temapt ibadat: gereja, masjid, pura, kuil, kelenteng dan lain sebainya, sesuai dengan agama masing-masing. Mengapa, sebab beribadat sekaligus beramal. Ya, karena memang saat ke gereja, misalnya, biasanya umat menyumbangkan persembahan: berapa pun besar kecilnya.

***
BAGI kaum sufistik, juga kalangan developmentalis, atau optimistis, gusar, khawatir, waswas, cemas dan takut adalah musuh. Lawan besar yang harus terlebih dahulu ditumbangkan agar kata- kata sukses, berhasil, maju, kaya, hebat, luar biasa dan tepuk tangan pun menyusul datang.

Seorang guru spiritual saya, Mgr FX Prajasuta MSF mengatakan, "janganlah takut. Sebab takut adalah nasihat paling jahat." "Janganlah takut?" Kataku dalam hati, "Bagaimana caranya?"

Josua pun berkata kepada para perwiranya, "Jangan cemas dan jangan takut. Hendaklah kalian yakin dan berani..."

Mengutip Bruder Martinus mengenai Providentia Dei (penyelenggaraan illahi) yang digambarkannya sebagai misteri Allah, yaitu ada hal-hal atau kejadian-kejadian dalam hidup manusia yang tidak bisa dimengerti, dipahami dan ditangkap oleh akal budi manusia.

Manusia, selaku ciptaan mempunyai kebaikan dan kesempurnaannya sendiri. Namun ia tidak keluar dari tangan Pencipta dalam keadaan benar-benar selesai. Ia diciptakan demikian bahwa ia masih "di tengah jalan" (in statu viae) menuju kesempurnaan terakhir yang baru akan tercapai, yang dipikirkan Allah baginya.

Dengan dan melalui penyelenggaran Ilahi ini, Allah menghantar ciptaan-Nya menuju penyelesaian itu. "Allah melindungi dan mengatur melalui penyelenggaraan-Nya, segala sesuatu yang diciptakan..."

Peranan kita dalam penyelenggaraan Ilahi yang mutlak, manusia tidak memiliki kuasa untuk mengubah atau terlibat di dalamnya. Seperti kelahiran dan kematian. Kelahiran merupakan panggilan awal dari Allah bagi manusia untuk menjalankan rencanaNya. Dikatakan penyelenggaraan Allah yang mutlak karena manusia tidak bisa memilih/meminta.

Apakah lalu ada penyelenggaraan yang tidak mutlak? Kiranya dapat dikatakan penyelenggaraan relatif. Penyelenggaraan relatif adalah jalan hidup manusia dimana manusia masih bisa terlibat di dalamnya dengan usaha dan perjuangan hidup. Misalnya: rejeki, jodoh, sakit, dsb.

* * *
Dengan merefleksikan kembali keberadaanku hanyalah selaku ciptaan, bukan pencipta, maka saya coba merenung sembari menundukkan kepala: Saya ini hanyalah manusia biasa, terjadilah padaku menurut kehendakMu.

Saya memang dapat merancang banyak desain hidup yang megah dan kokoh, tetapi jika Engkau berkehendak, semua itu hanyalah bak rumah berfondasi pasir. Saya memang boleh merencanakan banyak siasat, strategi, pekerjaan, dan persiapan, tetapi Engkaulah Ilahi Hakim Agung yang memutus setiap perkara dengan Adil.

Berkat Penyelenggaraan Illahi, semoga kegusaran, kecemasan, kewas-wasan, dan ketakutanku berubah menjadi sebuah semangat menggebu menuju sukses dan kejayaan. Semangat berani melibas ketakutan kemudian mengkreasi energi positif pembangkit mesin jiwa-sukma-raga- rohku menumpas tuntas energi negatif penghalang jalanku. Kutahu jalankau terjal, berliku dan berliko-kilo, tetapi tetap semangat, bersiasat dan jangan menyerah. (domuara damianus ambarita)

Tidak ada komentar: