Senin, 08 September 2008


NKRI GAWAT DARURAT


NKRI gawat darurat. Pada banyak Pilkada, angka Golput cukup tinggi. Survei menunjukkan kaum terpelajar dan nasionalis banyak Golput karena apatis terhadap situasi kondisi politik. Kampanye Golput pun dilancarkan mereka yang tidak saja apatis terhadap politik, juga yang ingin memenangkan pertandingan dengan telak. Saat kaum terdidik cuek, partisipasi kelas bawah (termasuk yang buta huruf) sangat tinggi maka terpilihlah pemimpin kaum bodoh.

Pada satu bagian, ada Parpol berbasis agama mewajibkan (jihad politik) mencoblos kepada kader dan masyarakat; mencoblos ditanamkan sebagai ibadah, yang jika dijabarkan adalah haram jika tidak menunaikannya. Aktivis parpol kelompok ini mengajarkan doktrin seakan dogma, bahwa mencoblos adalah wajib hukumnya, dan kalau tidak mencoblos berarti dosa

Sekilas dapat dimaklumi karena kaum terpelajar yang dapat mengalisis situasi dan kondisi serta fakta-fakta yang mencuat melalui media massa, semakin apatis dan tidak bernafsu melihat politik yang kotor saat ini. Pascareformasi, anggota DPR atau politisi kok malah semakin banyak yang jatuh ke lembah nista seperti terjerat kasus korupsi, skandal seks, dan sebagainya. Ya, itu betul.

Tetapi dengan kita menyerah, apatis, sama saja kita membiarkan kebobrokan akan semakin parah. Ibarat main bola, tanpa ikut bertanding, tim akan dinyatakan kalah WO dengan skor 3:0. Berbeda kalau kita ikut berjuang, mungkin kekalahan tidak setelak itu, dan jauh dari kesan, menyerah sebelum bertanding.

Kita dapat melihat kehadiaran para nabi, kehadirannya ke dunia justru ketika dunia sangat kotor, yang antara lain ditandai baku bunuh, menghalalkan segala cara, ahli-ahli taurat dengan mengatasnamakan Tuhan tetapi perbuatan justru jauh dari kehendak Allah, pemimpin negara sangat otoriter, biadab, dan bahkan nabi-nabi palsu sangat marak ketika itu.


Dengan demikian, tidak cukup alasan buat kita menyerah dalam situasi politik Indonesia yang karut marut, fundamentalisme yang makin meruncing, pencegahan-pemungkiran terhadap kebebasan beragama, pluralisme dan demokrasi. Kebenaran dan kebebasan seakan hanya milik segelintir orang.

Mungkin Anda berkata, apa yang saya perbuat dengan hanya satu suara. Atau apalah artinya satu suara saya, toh tidak berpengaruh. Itulah kesimpulan yang terlalu dini. Dan celakalah, jika ribuan atau jutaan orang berpikir demikian.

Padahal dalam Pemilihan, beda satu atau dua suara saja sudah sangat menentukan pemenang entah untuk Bupati, Walikota, Gubernur, calon lagislator sampai pada presiden/wakil presiden. Bagaimana pun kita melihat, di banyak daerah, parpol berbasis agama memenangkan banyak kepala daerah.

Kalau Anda mulai merasakan aliran radikal semakin menggila membatasi hak-hak asasi warga lainnya sebagai, hak menjalankan ibadah kian hari semakin terancam kebebasannya, kalau atribut adat istiadat-daerah dan keanekaragaman atau ke-Bhinnekatunggalika-an Nusantara semakin samar, maka jangan salahkan pemimpin berkuasa. Sebab dia memang mendapat mandat dari hanya sekelompok atau segolongan, yang pada proses demokrasi sebelumnya dalam pemilu, telah disodorkan visi-misi dan program yang tentu saja kelompok prokonstituen tadi.

Kalau Anda tidak ingin kaum agamis-ekstremis menguasai negara ini, maka mari ikut berpatisipasi dalam memanfaatkan hak-hak politik. Sebai permulaan, mari pastikan tercantum dalam daftar pemilih sementara (DPS).

Nama-nama calon pemilih dapat dilihat di kelurahan mulai hari ini, Senin (8/9). Jika nama Anda, karena belum mendaftar, atau memang karena permainan pihak tertentu yang dengan sengaja menghilangkan hak suara Anda dan keluarga, maka masih ada perpajangan pendaftaran hingga 26 Septermber 2008.

Jadi, pastikan ikut berpartisipasi dalam Pemilu. Apa pun partai Anda, siapa pun calon legislator atau calon presiden/wakil presiden, tidak menjadi soal. Yang penting suara jangan dihilangkan begitu saja. Pendeknya Mencoblos yes, Golput No. Sebagai langkah awal, sekali lagi, pastikan nama Anda dan keluarga tercantum dalam DPS. JIKA BELUM TERCANTUM, MENDAFTARLAH SEBELUM 26 SEPTEMBER 2008.

Perlu saya informasikan, saya semula sepemahaman dengan kaum Golput. Tapi belakangan, saya sadari, seperti kata pepatah, untuk memperbaiki diri saya, tidak ada jalan lain kecuali saya sendiri yang berubah menuju perbaikan. Seperti kata orang bijak, satu sunatullah, "Allah, tidak akan mengubah nasib suatu kaum kalau mereka tidak mau mengubah diri mereka sendiri."

Saya bukan aktivis parpol, bukan caleg, bukan pula partisan. Imbauan ini semata karena kegalauan saya pada situasi akhir-akhir ini, saat rasa senasib sepenanggungan, sebangsa dan setanah-air kita sebagai warga bangsa sama makin suram. Di pihak lain, menguat cara-cara premanisme daan anarkisme secara terorganisasi.

Saya coba merenung, andai para pendiri bangsa ini masih hdiup, lelehan air mata pasti akan tumpah, menyaksikan bangsa ini semakin hari makin jauh dari cita-cita perjuangan bangsa yang mengakui Bhinneka Tunggal Ika, dan Pancasila.

MOHON DISEBAR

Salam Hormat
* * * * *
DOMU DAMIANS AMBARITA
www.domu-ambarita.blogspot.com

Tidak ada komentar: