Sabtu, 23 Agustus 2008

Rerimbun Pohon Cengkeh dekat Terminal Kuningan, Cirebon


Monyet, Petani Cengkeh yang Congkak

PRODUSEN
rokok menjerit. Harga komoditas cengkeh melonjak dari Rp 35 ribu per kilogram menjadi Rp 55 ribu. Sudah mahal barnag tidak ada. Kejadian ini karena hasil panen menipis, sedangkan permintaan meningkat. Maka berlangsunglah hukum pasar, supply terbatas sedangkan demand meningkat, maka harga akan naik.
Gua Maria Sawer Rahmat, Cigugur, Cisantana

Tidak seperti kebijakan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wapres Jusuf Kalla, yang menaikkan harga bahan bakar minyak antara lain minyak tanah dan elpiji, namun barang justru langka. harga sudah mahal, tetapi ketersediaan barang tidak terjamin untuk dibeli konsumen.

Imbas dari kelangkaan cengkeh, produsen rokok selaku konsumen cengkeh terpaksa mencari sumber alternatif, antara lain mengimpor cengkeh dari luar negeri.


Baru-baru ini, saya bepergian ke Kuningan, Cirebon, ke Gua Maria di Cisantana, Cigugur, Kuningan. Lokasinya terletak di kak gunung Ciremai, perjalanan sekitar seperempat jam naik sepeda motor dari terminal Kuningan. Tempat pejiarahan dan pendalaman spiritual umat Katolik ini dinamai Gua Maria Sawer Rahmat.

Perjalan ke Gua Maria Sawer Rahmat perlu persipan secara memadai, terutama fisik. Letaknya yang di kaki gunung, melintasi 14 perhantian "Litani Yesus Kristus" menuju penyaliban di Bukit Golgota, menempuh jalan berliku dan mendaki. Jalannya sudha disemen, mengikuti kontur pegunungan, dan tampak tetap asri, sepadan dengan alam.

Sengatan matahari tak perlu dirisaukan, sebab rerimbun pohon akan menaungi Anda. Lagi pula, hawa pegunungan sangat dingin, adem. Kalau datang sore, sebaiknya membawa sweater.

Jarak tempuh dari terminal Kuningan sektiar 15 menit. Tapi ingat, mobil tidak dapat mendekat ke lokasi. Mobil diparkir jarak sektiar 1,5 sampai 2 km dari Gua. Jika tidak ada sepeda motor, anda berjalan menyusuri jalan setapak, sudah disemen, melewati arenal permukiman dan pekuburan.

Untuk orang tua, dapat dibatnu angkuta ojeg, hingga ke tepi jurang. Dari sana, tinggal kurang lebih 700 meter menuju gua. Untuk menuruni dan menaiki ribuan anak tangga, sebaiknya gunakan tongkat. Jika lupa membawa dari rumah, silakan membeli ptongan-potongan kayu yang disediakan warga setempat.

Tahun 1992, tepatnya bulan Mei, saya beserta rombongan dari Sunter, Jakarta Utara, sudah pernah ziarah ke Cigugur, ketika Gua Maria ini baru berusia dua tahun sejak diresmikan Kardinal Tomko 21 Juli 1990. Saat itu, dengan khusuk saya berdoa agar lolos masuk UMPTN.

Dan Syukur alhamdulillah, saya dapat mengenyam pendidikan di PTN, dengan biaya murah, dan lebih ringan lagi karena mendapat potongan uang kuliah selaku anak atau putra pejuang republik Indonesia, karena Yahya Amabrita, ayah saya adalah mantan anggota Tentara Keamanan Rakyat yang jasa-jasanya dihargai sebagai anggota Legiun Veteran RI.

Kedatangan keduakali, Juli 2008, seorang diri. Kesempatan itu saya memnajatkan doa kepada Tuhan melalui Perantaraan Bunda Maria dan Para Orang Kudus agar saya pribadi dan keluarga ditambahkan kesehatan, kebahagiaan, keselamatan, dan dilimpahkan rezeki.

Khusus buat putriku, Felisita Dorothy Ambarita yang saat itu berusia 14 bulan, agar dikuatkan fisiknya untuk segera berjalan dengan baik. Devosi untuk kakaknya, Elisabeth Uli Ovelya Ambarita kiranya Tuhan menumbuhkembangkan fisik, mental, budi pekerti, kasish sayang, dan pengetahuan. Dan juga kerukunan kelurga, saya dengan sitri, Lorentina Herawati, semoga terus terjamin, romantis dan bahagia.

***
Kembali ke masalah cengkeh. Setibanya di Terminal Bus Kuningan, rerimbun pohon cengkeh tampah di sana. Jumlahnya memang tidak sebera, tidak sampai berbentuk kebun luas, melainkan tumbuh satu dua di antara rumah-rumah penduduk.

Pohonnya tinggi-tingki, sekitar 7-10 meter. Subur dan rimbun. Juli itu musim panen cengkeh. Buahnya lebat. Di bawahnya, para tukang ojek ngetem atau mangkal menunggu penumpang. Tak jauh dari sana buah cengkeh yang telah dipetik, tampak dijemur di halaman rumah, terbentang dua tikar plastik alas butiran-butiran buah cengkeh.

Saya langsung terbayang, betapa menggiurkannya hasil bercocok tanam cengkeh. Betapa kayanya seseorang andai memiliki hamparan kebun cengkeh.Dua puluhan tahun silam, ingatakan saya seketika mengarah ke Ujung Mauli dan Sipolha di tepian Danau Toba. Tahun 80-an, warga daerah itu, dan umumnya pesisir Danau Toba hidup mewah dan kaya berkat hasil cengkeh.

Mereka dengan mudah menyekolahkan anak hingga ke bangku kuliah. Mereka pun tak perlu ngosngosan untuk mencar uang membangun rumah batu atau gedong. Bahkan derajatanya terangkat diikuti gaya hidup, dari buruh tani menjadi juragan cengkeh yang mengupah buruh sekadar memetik panenen cengkeh.

Terbetiklah suatu anekdot, yang hikmahnya dapat diambil untuk menghindari kecongkakan. Konon, ketika harga cengkeh tinggi dan tuaian buah cengkeh masih bagus, para juragan cengkeh tadi lupa diri, dan menjadi sombong.

Saking congkaknya, seorang juragan cengkeh menyamakan buruh yang sedang bergelantungan di dahan pepohonan untuk memanen cengkah dengan monyet. Seorang juragan cengkeh membeli sarapan buat buruh tani. "Bu, tolong bungkuskan nasi buat monyet yang sedang bekerja di ladang."

Begitulah kira-kira cuplikan dialog yang menampakkan kesombongan juragan cengkeh. Bagi kaum tua, dialog itu dikutip dan disebar luaskan sebagai sesauatu yang tabu. Apalagi tak lama setelah itu, tanaman cengkeh diserang penyakit misterisu yang sampai saat ini, tak dapat mengulangi kejayaan masa lalu. Kini warga melarat, karena tak ada yang dapat diharap tumbuh subur dari tanah gersang bebatuan, selain bawang merah, ubi rambat dan tanaman seadanya.


Doa, tabu atau azab karena menyamakan manusia dengan monyet, boleh saja berdasar dari tinjuan humanisme. Manusia kok disebut monyet. Congkak betul dia, karena punya duit lalu menamai si buruh miskin dengan binatang jelas-jelas tak punya akal-budi.

Monyet? Ya, monyet. Dari akal sehat dan dalih-dalih ekonomi, tentu saja ada lasan lain. Bukan semaka karena alasan kena karma. Tetapi dari tinjauan perdagangan, kerakusan Tommy Soeharto dan konco-konconya memonopoli pembelian Cengkeh dengan Badan Penyangga Perdagangan Cengkeh (BPPC) punya andil paling besar membuat pertanian cengkeh jatuh ke titik nadir terendah.

Dengan pengendalian yang berlebihan, petani tidak mendapat untung dari becocok tanam cengkeh. Al hasil, dari tahun ke tahun, kecenderungan lahan pertanian cengkeh menurun, yang selanjutnya berdampak pada menurunnya pula produksi cengkeh.

Lihatlah, tahun 2003, ribuan batang bibit tanaman cengkeh di beberapa lokasi pembibitan di Kecamatan Tambak dan Sumpiuh, Banyumas, Jawa Tengah dicabut oleh petani, sebagian dibuang begitu saja, dan sebagian lagi dibakar.

Tindakan bumi hangus ini merupakan ungkapan kekesalan sejumlah pembuat bibit cengkeh sebagai dampak jatuhnya harga cengkeh yang dua-tiga bulan lalu sempat melambung menjadi Rp 60.000 per kilogram, bahkan sempat mencapai Rp 90.000 per kg. Namun akhir-akhir ini harga cengkeh jatuh hingga pada harga Rp 14.000 per kg.

Dari pelajaran ini dapat dipetik pelajaran:
1. Mari menyeimbangkan kebutuhan rohani, spiritual dan jasmani
2. Mari menjaga keseimbangan lingkungan sekitar
3. Mari menjaga kesetaraan antarsesama manuasi sebagai ciptaan Allah, jangan merendahkan martabat orang lain dengan memandang status ekonomi sosial (SES)
4. Jangan silau dengan kekayaan-harta-hrta dunia, karena semua bersifat sementara saja
5. Selipkanlah cita-cita menjaga keseimbangan antara kemakmuran dan kebahagiaan. Pada satu waktu, kita memburu kemakmura dan bahagianya luar biasa, terasa sampai ke ubun-ubun. Katakanlah, satu keluarga sederhana tiba-tiba diberi berkat, kenaikan pangkat dan jabatan sang suami. Tak lama kemudian, mereka berkecukupan atau kaya-raya. Namun celaka, justru kekayaan itu menauhkan keluarga dari kebahagiaan. Suami berfoya-foya, dugem mulai kecanduan narkoba yang harganya tak terjangkau orang miskin.

Dalam contoh ini, kemakmuran bukan membawa nikmat atau bahagia lagi, tetapi sebaliknya mencelakakan. So, sisipkanlah cita-cita menggapai kebahagiaan di antarara permohonan- permohonan agar ditambahkan rezeki dan harta berlimpah. Semoga ktia semua meraih kemakmuran secara materi dan kebahagiaan dalam kejiwaan dan kehidpuan nyata. (Domuara Damians Ambarita)

Tidak ada komentar: