Kamis, 18 Oktober 2007

Kemahalan Dua Ribu


"PAPI, Uli nggak jadi beli baju. Kemahalan dua ribu." Begitu celoteh putri sulungkami, Uli, Kamis (11/10/07) sore, sepekan silam. Uli, lengkapnya Elisabeth Uli Ovelya Ambarita, amat centil. Imbunya tidak pernah mengajari, tetapi mungkin karena sering menonton Dora atau film lainnya, kalau di depan orang banyak dia memang saya papi, padahal biasanya bapak. Juga ibunya, biasanya mama, tetapi sesekali dipanggil mami. Kadang dia suka menamai diri sendiri dengan Dora, lalu memanggil saya dengan papa Dora.


Saya tersenyum kecut, sedikit miris mendengar celoteh Uli. "Kenapa boru, bajunya kemahalan? Oo... Nanti bapak beli ya," kataku sembari mengusap rambutnya. Senyum karena anakku mengerti tentang banyak hal, termasuk kemahalan, kecut hati karena anak sekecil dia sudah tahu kalau ayah-bundanya tak punya uang cukup sekadar membeli baju. Tapi, sudahalahhhh... Pesan pak haji mesti lebih banyak bersyukur, bersyukur dan bersyukur

Kamis sore itu, saya sudah pulang. Uli tampak senang. "Eh, bapak, udah pulang," katanya. Lazimnya, saya pergi pagi, pulang larut malam. Anak-anak sudah tertidur pulas, setiap saya tiba di rumah. Besoknya, bertepatan dengan Lebaran kaum Muhammadiyah, 12 Oktober, Uli genap tiga tahun. Karena itu, sehari sebelumnya, istri saya titipi uang seadanya untuk membeli kado ala kadarnya untuk putri kami. Syukur, tante, tulang dan ompungnya ternyata menyumbang. Ada yang membelikan sendiri, ada juga yang menitip uang ke ibunya anak-anak. Dorthy, adiknya, ditinggal di rumah.

Kamis siang, Uli beserta ibu dan tantenya belanja ke Carrefour ITC Depok. Uli sudah sangat lincah mengucapkan nama pusat perbelanjaan ini sejak satu tahun lalu, ketika kami pun masih di Bandung. Siang itu, ibunya sengaja membawa Uli dan memintanya memilih beberapa pakaian, sepatu dan tas. Cara itu sengaja dilakukan, karena kalo pakaian atau sepatu tidak cocok menurut seleranya, sumpritttttt, Uli tidak akan sudi mengenakan."

Jadilah, Uli asal comot barang-barang sesuai selera. Belakangan saya mendapat cerita dari ibunya, ada pakaian pilihan Uli berharga ratusan ribu, tidak jadi dibeli karena kemahalan. Sedangkan yang lain, sepatu boot pink, tas "sisapi Benny" menirukan nama sapi dalam film kartun anak-anak, lalu dua pasang kemeja diambil ibunya, tetapi kepada Uli disebut kemahalan dan tidak jadi dibeli untuk memberi surprise saat Ultah.

Jumat pagi hingga menjelang sore, Uli sudah sibuk sendiri. Berkali-kali dia menanyakan ibunya, apakah teman-temannya sudah diundang. Bahkan saya sengaja ditelepon melalui HP, hanya mau menandaskan supaya membelikan kue ulang tahun.

Jumat malam, kami rayakan Ultah dengan sangat sederhana. Roti tart brownis mini, karena semula diduga tidak ada yang minat makan. Tanpa teman-temannya. Tiga kali Ultah Uli selalu bertepatan dengan ramadhan, namun yang ketiga lebih tidak tepat, karena temen-temannya sudah mudik semua. Dia sempat sedih karena tak seorang pun temannya yang datang, namun terhibur oleh sepatu boot dan hadiah-hadiah yang diberikan.

Tulang bungsunya pun hanya mengucapakan terima kasih via YM kepada saya, karena dia terpaksa piket di kantor.

"Apa saja kado dibelikan untuk Uli, lae?" kata James, adik ipar saya. "Banyak lae. Ada sepatu boot, baju, dan tas." Dia melanjutkan, "boot?" Jawabku lagi, "Iya, lae. Seperti sepatu artis gitu. Dia sendiri yang pilih."

"Mungkin Uli mau jadi arti kali hahahah..." Kutimpali, "Biarlah lae, kehendak Tuhan terjadilah. Saya tidak mau menentukan atau bercita macam-macam tentang anak. Takutnya nanti malah beban. Saya akan mencoba mengikuti bakatnya saja, sambil mengarahkan ke mana baiknya. Kalau ternyata bakatnya ke situ, ya kita ikuti saja." "Setuju. Kalau mau memang tinggal mengarahkan dari awal," usul James.

Selamat Ulang Tahun boruku, Uli. Semoga panjang umur, tambah rezeki melalui bapak-mama, tumbuh kembang fisik, mental, cinta kasih kepada sesama, pencipta dan makhluk lain. Semoga bapak dan mama kelak dapat menopang engkau meraih cita-cita.

[+/-] Selengkapnya...

Rabu, 17 Oktober 2007

Mencoba Peruntungan ke Metropolitan

IBUNYA anak-anak rada sensi, alias sensitif dan mudah marah beberapa hari ke belakang. Saat baru bangun pagi, kerap kali saya mendengar suara ocehan nada tinggi, bahkan ketus. Judes. Tidak biasanya begitu.

Naiknya notasi bicara sekian oktaf, dan emosi istri terasa setelah arus mudik ramai, saat seorang perempuan belia yang selama ini dengan rajin, dan sigap membereskan urusan dapur kami. Sudah dua kali lebaran dia pulkam ke Purwokerto. Cuti lebaran kami beri waktu dua pekan.

Selama pembantu mudik, praktis urusan mencuci, memasak, menyapu dan mengepel rumah menambah kesibukan istri dari semua sudah direpotkan dengan memandikan Dorthy, bayi berusia hampir enam bulan, memberi serapan, menyusui, hingga meninabobokannya. Tugas lainnya, memandikan Uli, putri sulung kami berusia tiga tahun lebih lima hari, menyuapinya makan lalu memberi obat rutin dua kali sehari.

Saya coba mencari tahu, kok istri tiba-tiba sensi begitu. Ia berubah dari seorang ibu rumah tangga yang sabar, rajin, baik, ulet dan sedikit bersuara keras itupun jika ada kerterlaluan. Saya temukan jawabannya, mungkin penyebab utama adalah kelelahan atau kesibukan atas tugas berat setelah pembantu mudik sejak pekan lalu.


Banyak ibu-ibu atau keluarga di perkotaan mengalami hal serupa. Bedanya, solusi mereka kaum berduit mudah saja.Bukan hanya di Indonesia, sangat mungkin majikan-majikan di mancanegara pun demikian. Mengungsi ke hotel, tidur di kamar-kamar hotel lalu semua mengandalkan jasa pelayan hotel.

Mudik, ya pulang kampung. Kota-kota besar memang sepi ditinggal mudik sebagian besar warganya, termasuk pembantu. Pengalaman dari mudik PRT atau TKI akan memberi 'pelajaran' berharga kepada majikannya, bahwa pekerjaan rumah yang dianggap remeh dan sepele ternyata tidak mudah, membutuhkan kecakapan tertentu.

Momen ini bisa menjadi titik awal kesadaran para majikan memanusiakan pembantu, bukan diasingkan atau dipandang seakan-akan bukan golongan kita yang berujung pada ketidakberperikemanusiaan. Sejatinya, namanya juga pembantu, mestinya hanya tenaga tambahan yang membantu pekerjaan orang yang dibantu. Bukan sebaliknya.

Lebaran sudah berlalu. Mudik beralih balik. Perkotaan hidup kembali, jalan-jalan mulai ramai dan aktivitas masyarakat berangsur terlihat kendati belum normal. Arus balik masih terus berlanjut. Bukan hanya penduduk kota yang kembali, diperkirakan banyak pendatang baru.

Khusus bagi para pendatang baru dari kalangan pendidikan dan keterampilan rendah, sebaiknya berpikir secara mendalam sebelum memutuskan 'urbanisasi'. Mengadu nasib dan peruntungan boleh-boleh saja, tetapi jangan konyol.

Janganlah berangkat ke kota hanya karena tergoda oleh tebaran pesona saudara atau pemudik. Jangan terjebak metafora pandangan sempit seperti kata perumpaan "rumput tetangga selalu tampak lebih hijau dari rumput sendiri".

Kota semacam Jakarta terlalu keras dan tidak ramah buat orang-orang lugu dan baik hati. Hidup di kota tidak sesederhana di desa. Sopan santun yang terjada dalam kekerabatan dan sistem sosial di desa oleh masih kentalnya nuansa persaudaraan, di kota kebalikannya. Saudara kandung pun bisa jadi orang asing, ketika keberadaannya tidak signifikan menguntungkan.

Lagi pula, mencoba peuntungan tidak harus ke metropolitan. Lebih mulia kiranya, tinggal di desa mempekerjakan orang lain, daripada di kota menjadi musuh masyarakat. Asal sabar, tekun-ulet, tidak kenal menyerah, cerdas melihat kesempatan-peluang, wong deso pun banyak yang hidup berkecukupan. Ingat, tidak semua orang kota hidup layak.

Banyak tunawisma, gelandangan, pengemis, bahkan dipaksa situasi menjadi perampok, atau pencuri untuk sekadar bertahan hidup. Di era otonom daerah ini, pemerintah daerah saatnya berlomba memajukan daerahnya mencegah urbaniasi orang-orang hebat, cerdik, dan pandai yang seharusnya menjadi asset berharga. (*)

[+/-] Selengkapnya...

Minggu, 14 Oktober 2007

Fasilitas Bintang Lima untuk Pesakitan

Terdakwa: Bupati (non-aktif) Kutai Kartanegara, Syaukani HR,
duduk sebagai terdakwa di persidangan Tipikor, Jakarta.
Dia didakwa dalam empat kasus dugaan korupsi Rp 120 miliar
dana APBD Kukar, kabupaten terkaya di Indonesia.

Foto: Persda Network/Bian


SELASA (9/10/2007), Bupati (Nonaktif) Kutai Kartanegara Syaukani Hasan Rais berbinar-binar. Ia terlihat sehat dan segar bugar, dan sanggup berpidato 45 menit saat mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri) di Mabes Polri. Ketika itu, Syaukani meraih dua penghargaan sekaligus atas kebijakannya menetapkan Kabupaten Kukar sebagai Zona Bebas Pekerja Anak (ZBPA), dan bupati pertama yang dipilih langsung oleh rakyat.

Asyik, napi masih mendapat award. Luar biasa..... Namun Direktur Muri, Jaya Suprana, mengatakan pemberian penghargaan itu objektif, tidak ada sangkut pautnya dengan politik, apalagi mencitrakan Syaukani yang sedang didera empat kasus korupsi.

Syaukani memimpin kabupaten kaya raya. Kekayaan sumber daya alam Kabupaten ini membuatnya sebagai kabupaten dengan PAD terbesar di Indonesia. PAD tahun 2006 mencapai Rp 4,2 triliun. PDRB perkapita dengan migas tahun 2003 mencapai 52,96 juta rupiah dan pada tahun 2004 menjadi 59,08 juta rupiah. Pendapatan perkapita tahun 2004 sebesar 53,17 juta rupiah.


Tahun 2008 nanti, sedianya dia calon kuat untuk posisi Gubernur Kaltim. Namun sejauh ini belum ada kepastian, karena partainya, Partai Golkar masih menimang-nimang, untung rugi termasuk keputusan tetap status hukum Kaning, sapaan akrabnya. Kaning saat ini menjabat Ketua DPD Partai Golkar Kaltim.

Kendati dua hari sebelumnya segr bugar, Kamis lalu, Kaning diusung ke RS Pusat Pertamina, di Jalan Kiai Majda, Jakarta Selatan. Dia menempati kamar super mewah, kelas pembesar dan orang-orang sangat penting (VVIP) lantai 6 F kamar 610.

Tiga pintu berjejer di antara kamar Syaukani. Sementara loby, ruang tunggu, tampak luas, dengan sofa-sofa mewah warna krem. Syaukani yang terdakwa empat kasus korupsi senilai Rp 120 miliar lebih dikawal petugas Brimob dari petamburan, Jakarta. Petugas berjaga di luar sidang.

Dalam data komputer RSPP, dia disebut diabetes dan darah tinggi. Lalu dilarikan ke rumah sakit, dua hari sebelum lebaran, dari jadwal yang ditetapkan pemerintah.

Sebelumnya, pihak keluarga dan sebagian yang mengatasnamakan warga Kukar meminta kepada KPK agar mengizinkan Syaukani 'cuti' sebagai napi. Dia ingin berlebaran di Kutai. Permintaan itu tidak dipenuhi KPK dan jaksa.

Lalu penasihat hukumnya memohonkan pembantaran, penahanan di luar rumah tahanan Polda Metro Jaya. Dan dikabulkan. Betulkah Syaukani sakit keras, sehingga harus dirawat ke rumah sakit berkelas elite? Kondisinya memang tidak boleh dilihat langsung wartawan. Pihak penjaga, pengawal atau staf sangat protektif. Pihak rumah sakit pun tak mau berkomentar. "Pak Syaukani sehat, dan bugar," ujar seorang kerabatnya yang usai mengjenguk.

Lho? Saya jadi terpikir, jangan-jangan ini sebagai taktik seorang peakitan yang adalah orang kaya untuk membuang suntuk sembari melewatkan Hari Raya di prodeo lalu membooking 'hotel bintang lima'. Semoga diskriminasi aparat hukum tidak terus berlangsung, ketika pencuri ayam, sandal, tetap saja meringkuk di tahanan kendati Lebaran. (domuara ambarita)

[+/-] Selengkapnya...

SYAUKANI LEBARAN DI RSPP


Nikmat Sesaat: Potret Bupati (non-aktif) Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur,
Syaukani Hasan Rais saat dijemput paksa penyidik KPK dari rumah pribadi di Jalan Cimahi No 10, Menteng, Jakarta Pusat. Gara-gara nikmat sesaat,
Ketua DPD Partai Golkar Kaltim itu didakwa
empat karus korupsi senilai Rp 120 miliar. Foto-foto/Persda Network-Bian



Saat hendak diperiksa penyidik KPK, ia 'pura-pura'
sakit berminggu-minggu di RS Kelapa Gading.

Kaning, sapaan Syaukani, dijebloskan ke rumah tahanan Mapolda Metro Jaya.
Sekarang, masih sakit di hotel 'bintang lima',
eh, Kamar 610 kelas VVIP RSPP Jakarta.


* Terserang Darah Tinggi

Jakarta,
Bupati (Nonaktif) Kutai Kartanegara Syaukani Hasan Rais merayakan Idul Fitri 1 Syawal 1428 Hijriah di Rusah Sakit Pusat Pertamina di Jalan Kiai Madja, Jakarta Selatan, Sabtu (13/10). Terdakwa dalam empat kasus dugaan korupsi dana APBD Kukar sejumlah Rp 120 miliar lebih itu masuk rumah sakit sejak Kamis (11/10) lalu, atau dua hari sebelum jadwal Lebaran yang ditetapkam pemerintah.

"Bapak Syaukani memang dirawat di sini. Saya sudah melapor ke beliau atas kedatangan Anda, tapi kata bapak, hari ini tidak bsia menerima wakrtawan. Bapak masih sakit jadi butuh waktu istirahat. Itu saja yang informasi yang bisa saya berikan," ujar Heri, staf Syaukani.

Seorang kerabat seusai menjenguk Syaukani sempat bersalaman dengan Persda Nerwork. Bagaimana kondidi Pak Syaukani? "Wah sip. Beliau sehat dan segar di dalam," katanya.

Penjagaan Syaukani terkesan sangat tertutup. Begitu wartawan tiba di lantai enam, dari kejauhan dua ornag staf Syaukani, Hery dan Taher langsung bangkit, dan bergegas mendekat. "Mau cari siapa mas?" kata Hery. Taher gantian bertanya darimana informasi didapat kalau Syaukani dirawat di RSS. Taher bertanya pula apakah sudah mendapatkan izin dari Komisi Pembertasan Korupsi (KPK), sembari meminta agar surat izin tertulis ditunjukkan.

Berdasarkan pantauan Persda Network, Sabtu (13/10), Syaukani dirawat di Kamar 610 very very important person (VVIP) Lantai 6 F, RSPP. Informasi di bidang keperawatan menyebutkan, Syaukani masuk perawatan karena darah tinggi. "NIDDM hypertensi" tertulis pada data di bagian perawatan RSPP. NIDDM adalah non insulin dependent Diabetes Mellitus, penyakit Diabetes Mellitus yang terjadi karena kerusakan sel b pankreas (reaksi autoimun).

Di ujung gang, mepet ke jendela kaca, seorang personel Polri dari Kesatuan Brigade Mobil (Brimob) Petamburan berseragam berjaka-jaga di ujung gang, kira-kira 10 meter dari pintu perawatan Syaukani. Selain seorang anggota Brimob berpakaian dinas, ada dua orang laki-laki tegap berjaga di luar pintu. Seorang bernama Hery, mengaku sebagai staf, dan seorang lagi, Taher mengaku anggota polisi.

Khaidir Ramli, Jaksa Penuntut Umum Syaukani mengakui status terdakwa dalam empat kasus korupsi itu dibantarkan. "Permohonan pembantarannya (Syaukani HR, Red) memang dikabulkan dalam rangka pengobatan. Dia di rawat di RSPP, dan untuk pengamanan, jaksa mengirimkan dua orang Brimob berpakaian dinas untuk menjaganya," ujar Khaidir.

Saat shalat Ied, Sabtu pagi, Persda Network berniat memantau kegiatan Syaukani, Ketua DPD Partai Golkar Kalimantan Timur dan mantan Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi) di sel tahanan Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya.

Sekitar pukul 07.00 WIB, sejumlah polisi petugas piket yang berjaga di pintu rumah tahanan mengatakan, sedang ada acara internal, sehingga wartawan tidak boleh masuk. Kira-kira berselang 20 menit, dua orang laki-laki, seorang setengah baya dan seorang lainnya berusia sekitar 27 tahun, tiba di depan pintu yang sama. Merek amembawa bingkisan kecil, tampaknya rantang berisi makanan. Tamu itu meminta waktu agar diizinkan bertemu Syaukani.

"Pak, Syaukani sedang berobat pak. Dia ada di rumahnya di Menteng, silakan ke sana saja," ujar seorang polisi. Persda kemudian segera meluncur ke Jalan Cimahi No 10, tak begitu jauh dari kediaman Wakil Presiden Yusuf Kalla.

Di rumah berlantai dua itulah, Syaukani dijemput paksa penyidik KPK 16 Maret 2007 lalu. Rumah yang berada di hook itu tampak sepi. Tidak terlihat ada orang lain, halaman pun kosong, tak ada kendaraan yang parkir. Seorang laki-laki yang mengatur pegawai di rumah itu mengatakan, majikannya tidak ada di rumah, tetapi masih ditahan di Polda.

Hingga saat ini status hukum Syaukani masih terdakwa, dan sidang masih berlangsung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta. Dia dituntut dengan empat dakwaan kasus korupsi yang merugikan negara sebesar Rp 120.251.330.512.

Empat dakwaan itu menyangkut yakni korupsi pembebasan lahan Bandara Loa Kulu, Kukar dengan kerugian senilai Rp 15 miliar. Kemudian uji kelayakan atau feasibility penunjukkan langsung perusahaan pengelola bandara senilai Rp 4,47 miliar, penyalahgunaan dana taksi bantuan masyarakat sebesar Rp 7,75 miliar. Dan yang terakhir adalah pungutan dana perimbangan sektor migas yang tidak dimasukkan ke kas sebesar Rp 93 miliar.

Selasa (9/10), dua hari sebelum masuk rumah sakit, Syaukani terlihat sehat ketika berpidato 45 menit saat mendapatkan penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (Muri). Ketika itu, Syaukani meraih dua penghargaan sekaligus atas kebijakannya menetapkan Kabupaten Kukar sebagai Zona Bebas Pekerja Anak (ZBPA), dan bupati pertama yang dipilih langsung oleh rakyat. (Persda Network/amb/bdu)

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, 11 Oktober 2007

THR dan 4M


RATUSAN orang pekerja pada industri kayu --sektor usaha yang pernah menjadi primadona dan penyumbang devisa negara belasan tahun silam, di Banjarmasin, Kalimantan Selatan berunjuk rasa mendesak manajemen perusahaan agar segera mengucurkan uang tunjangan hari raya atau THR. Mereka bahkan sampai mogok kerja karena dana tak kunjung turun, padahal hari Raya Idul Fitri sudah di depan mata.

Di berbagai daerah seperti Jawa Timur, dan Jawa Tengah, ribuan pekerja juga turun ke jalan menyuarakan tuntutan agar manajemen mencairkan THR. Menurut Mennakertrans, Erman Suparno, ribuan pekerja di seluruh Indonesia memang terancam tak dapat menerima THR. Ada beberapa alasan, antara lain pengusaha kabur, kinerja perusahaan tidak bagus hingga bangkrut.

Pekerja tentu saja bersyukur dan mengucap terima kasih kepada majikannya, karena telah berjasa memberi lapangan kerja. Pekerjaan yang menghasilkan uang untuk menghidupi anak-bini. Namun, mereka pun berhak menikmati upah setimpal, termasuk THR atas kucuran keringat, dan curahan oikiran, tenaga dan waktu, bahkan mengorbankan segalanya.

Namun ada yang aneh, jika orang eksternal meminta THR. Dan celakanya, golongan ini jumlahnya banyak, dan dana yang diberikan kadang lebih besar dibandingkan kepada pekerja yang sejatinya lebih berhak. Siapakah mereka itu?

Sejumlah pengusaha bus angkutan antarkota antarprovinsi mengatakan, terpaksa menaikkan ongkos dua kali lipat. Alasannya untuk menutupi biaya operasional. Pertanyaannya, apakah biaya untuk BBM berbeda saat musim mudik, dengan hari biasa. Mungkin masuk akal, karena terjadi kemacetan di mana-mana, sehingga mesin lebih lama menenggak BBM. Alasan lain, sesuai hukum pasar, banyak permintaan maka harga naik.

Yang di luar perkiraan, kenapa kenaikan itu jauh di atas kewajaran, bahkan batas yang dibolehkan pemerintah. Salah satu alasanya ternyata, besarnya dana yang dikeluarka pengusaha oto bus untuk THR. THR bukan hanya untuk karyawan, tetapi juga pihak-pihak seperti aparatur dari tingkat terkecil hingga yang lebih tinggi.

Saat menjelang lebaran, suatu kelajiman ada saja orang-orang yang membawa proposal permintaan THR. Ada dari Ormas, ada dari instansi, bahkan wartawan.

Khusus mengenai wartawan, bukan rahasia, banyak wartawan yang memiliki media secar rutin terbit maupun yang tempo-tempo terbit dan tempo-tempo tidak, atau bahkan wartawan tanpa suratkabar. Pengalaman di lapangan, hanya sebagian kecil wartawan menolak THR atau amplop, sedangkan lainnya tidak. Persoalannya, tepatkah wartawan mendapat THR dari pihak lain, bukankah dari perusahaannya tempat bekerja?

Tadi petang, tidak lebih dari 5 menit setelah saya berbincang dengan seorang kawan yang biasa ngepos di istana, dia menceritakan sebagian besar wartawan-wartawan di istana sedang kisurh perebutan uang THR. Dia menceritakan, Panglima TNI emngucurkan dana Rp 80 juta kepada Biro Pers untuk dilanjutkan kepada wartawan.

Seterusnya, aparat di istana memberikan kepada seorang koresponden media asing. Itu pun sudah disunat Rp 10 juta. Lalu wartawan tadi menyerahkan dana kepada beberapa orang lainnya sebagai koordinator, selanjutnya membagi-bagikan kepada kawan-kawannya. Perselisihan baru muncul ketika komunitas wartawan elektronik (karena jumlahnya lebih banyak) mendapat jumlah lebih kecil dibandingkan dengan wartawan portal/web.

Kabar lainya, seorang Menteri Koordinator juga memberikan dana kepada biro pers, namun belum jelas keberadaannya. Saya percaya teman ini, karena beberapa kali dia menyerahkan amplop berisi uang ke kantor, karena kami memang masih berusaha membentengi wartawan dari kontaminasi amplop. Lalu duit-duit yang diberikan itu kami kumpulkan, selanjutnya diserahkan ke panti asuhan, seperti dilakukan pekan ketiga bulan puasa ini.

***
Kontradiksi
Profesi wartawan bak dua ujung tongkat yang sama. Ujung tongkat yang di atas mendatangkan sanjungan, pujian, dan rasa hormat. Wartawan/pers dianggap sebagai satu pilar demokrasi, di luar trias politika.

Dalam sisi ini, wartawan dalam gerbong kemerdekaan pers dianggap berjasa mendorong perubabahan, reformasi, demokrasi, penguatan kaum sipil, perjuangan HAM, membantu perjuangan buruh/pekerja dalam mencapai haknya, dan seterusnya. Di sini, dengan segala pujian, maka harapan pun datang berelebihan. Dalam hal kesejahteraan, ada kesan, misalnya hidup wartawan selevel dengan pejabat negara yang hidupnya berkelimpahan.

Ujung tongkat yang tenggelam mencitrakan keburukan. Penggosip, pemeras, penista, pencemar, mencari-cari kesalahan, asal kritik, dan beragam caci-maki. Di sini, posisi wartawan serba dilema. Hidup tidak terpuji, dan kalaupun ada yang hidupnya berkecukupan, semua itu dianggap hanya karena memeras. Memang pada banyak kasus, ada saja wartawan yang berlaku begitu. Sudah mahfum, hujan sehari bisa menghapus kemarau setahun.

Agar wartawan tidak lagi berkutat dengan cita gelap, saatnyalah para pengusaha pers --terutama perusahaan penerbitan pers yang menggaji karyawan ala kadarnya, meneteskan sebagian besar rezeki ikalnnya untuk pengembangan sumber daya manusia, menambah kesejahteraan pekerja, daripada melulu memikirkan ekspansi. Saatnya menempatkan pekerja sebagai aset yang lebih berharga dari mesin.

Penduduk di negara ini memang masih banyak pengangguran, tapi kalau paradigma tidak diubah, maka aset-aset berharga itu tinggal menunggu waktu akan menjadi kutu loncat seperti sudah terjadi pada pertelevisian nasional. Ingat, perusahaan asing mulai makin gencar masuk. Dan ingat pula, terori manejemen mengatakan manusia termasuk dalam empat komponen penting produksi: men, machine, money, and methode. (domuara ambarita)

[+/-] Selengkapnya...

Lemak Maknyussssss

Makanan Lezat: Bondan Winarno (kanan), binatang raksasa (tengah)
seberat 473 kg sepanjang 3 meter,
mati ditembak Jamison Stone (11 tahun)
di Alabama, Amerika Serikat.
Penganan berlemak yang maknyusss







KAMIS (11/10/07) siang saya berjalan menyeberang rel kereta api Palmerah. Berjalan pada sebatang papan tebal, melewati siring berbahan batu cadas, pemisah rel dengan jalan raya. Siang yang terik, membuah tubuh mendidih, keringat membasahi kutang.

Menumpang sepeda motor terasa tanggung, apalagi harus menyewa taksi. Lewat jalan pintas, menyeberang rel, jaraknya tidak lebih dari 700 meter, tetapi kalau naik motor bisa jadi 2.000 meter yang berliku-liku.

Saya menyusuri trotoar kanan yang berseberangan dengan gedung DPR, terus ke arah Hotel Mulia. Saya belok kanan, singgah ke satu warung makan, Lapo Ni Tondongta. Dar... der.. dor. Suara rentetan senjata api terdengar nyaring di balik tembok lapangan tembak Senayan. Suara itu perlahan hilang ditelan dentuman bas, drum, gitar berpadu lengkingan penyanyi trio, pengamen yang diiringi musik organ di depan Lapo.

Ya, hari penghujung bulan puasa umat Islam. Sebagian pembantu rumah tangga sudah mudik. Rumah tangga-rumah tangga ditinggal orang-orang berjasa yang tak kenal lelah, sehari-sehari menyajikan makanan lezat di rumah-rumah para kaum berduit. Mereka pekerja kasar umumnya mudik duluan menjelang Lebaran 1428 Hijriah, besok (Jumat) sesuai jadwal Muhammadiyah, atau lusa (Sabtu), menurut versi pemerintah/Nahdlatul Ulama. Mudik duluan karena tak punya banyak uang untuk terbang di angkasa, melainkan menyisir daratan pakai motor, truk, bus atawa kereta.


Saya terpaku sebentar. Lapo kok penuh. Saya coba toleh ke kiri-kanan, depan, mencari-cari meja makan yang kosong. Sekitar dua menit, sulit menemukan meja dan kursi kosong dari ratusan kursi yang tersedia. Pelanggan Lapo penuh. Saya menduga, mungkin karena para chev pulkam, sehingga tuan dan nyonya rumah memilih makan siang di warung.

Beragam rupa, dan warna kulit. Adang berkulit legam, sawo matang, kuning langsat, rambur keriting, atau lurus asyik menikmati makanan. Saya sudah beberapa kali ke Lapo Ni Tondongta. (Lapo = warung makan/minum, Ni = kata depan bermakna oleh, atau bisa juga berarti milik, Tondong = tamu/familiy, dan ta, penggalan dari kata hita = kita). Terjemahan bebasnya, restoran untuk tamu.

Menunya sederhana, tidak seramai menu di restoran Sunda, Rumah Makan Padang, atau Chinese Food, yang lebih variatif. Menu utama Lapo Ni Tondongta saban hari hanya panggang B2, sangsang b2, sup pakai atau tanpa tulang, sayur daun singkong tumbuk disantan, ikan teri sambal, dekke (ikan mas) arsik. Sesekali ada lappet/pohul-pohul, tepung beras dicampur kelapa parut plus gula lalu dibungkus dan dikukus.

Siang itu, perutku mulai keroncongan. Saya akhirnya mendapatkan meja kosong di bagian paling belakang, dekat dengan mejala pemesanan. Biasanya, tamu tinggal datang dan duduk, para laki- laki peramu saji segera menghampiri tamu sambil menanyakan menu yang akan disantap. Tapi kemarin, lain. Saya yang baru datang sadar dan berusaha bersabar, karena melihat banyak pelanggan yang berteriak sambil mengacungkan tangan memanggil peramusaji. Tamu memang sangat padat.

Satu, dua tiga, sampai lima orang peramusaji saya pesani makanan, tidak juga tiba. Barulah setelah semua tamu terlayani, seorang peramu saji menyodorkan sepiring nasi. Sedangkan kopokan sudha lama menganggur di depan saya. Siang itu saya pesan panggang B2, dan sangsasng B2, masing-masing seporsi. Sup dan sayur singkong tumbuk kesayangan saya, tidak ada, sudah ludes.

***
KOLESTEROL JENUH
Sangsang yang dilengkapi rasa andalimen kental, bumbu khas dari tanah batak (saya tidak eprnah menemukan nama bahasa Indonesia andaliman. Namun sekali waktu saya mendapati getir, berdasarkan rasanya. Bumbu ini diambil dari antara duri-duri tajam, seperti duri mawar. Pohonnya ratara-rata setinggi 2-4 meter, dan bertahan sekitar 2-3 tahun masa panen. Saat menuai andaliman, pemanen harus pintar-pintar menghindari tusukan duri, sebab bila kena duri pasti perih. Mungkin karena langka dan sulit memetiknya, harganya yang mencapai Rp 100 ribu per kilogram sangat wajar)

Separuh jalan saya makan. Sangsang sudah habis, beralih ke panggang. Saat itu, seorang laki-laki kalam, duduk di depan saya. Kami sederet, dua meja yang berdempetan. Ya, saya mengenalnya. Dialah Bondan Winarno, si tuan Maknyussssssss.

Kendati bukan anggota komunitas Jalan Sutera, atau penggemar acara 'makan-makan' yang dipandu Mas Bondan, saya tahu dialah Bondan si Maknyusssss. Dua perempuan tamu Lapo segera memburu foto bareng Bondan. Saya berusahan tidak terkesan udik, saya menahan diri, biarpun penasaran hendak ngobrol.

Dari wajahnya, saya memastikan Bondan usia berkepala lima. Tidak meleset. Dari Prof Google saya mendapat data, Bondan kelahiran 29 April 1950. Tidak seperti banyak kakek-kakek, Bondan tetap saja lahap menyantap makanan berlemah jenuh. Jika orang seusianya bilang takut menyantap makanan berkolesterol tinggi, siang tadi, Mas Bondan santai saja melahap dua porsi B2 panggang plus sup. Dua porsi dia lahap dalam sekejap.

Kok berani yah, melahap makanan berlemak? "Apakah mas Bondan Winarno tidka takut serangan jantung?" pikirku. Lagi-lagi melalui Prof Google, saya menemukan rahasianya. Sebagai orang yang mendapat kesempatan mencicipi aneka masakan, Bondan yang gemar masakan padang (karena waktu kecil tinggal di Padang) mau tak mau perlu menjaga kesehatan diri. Tahu apa yang dimakan merupakan prinsip utama dan ini diwujudkan dengan memuliakan raga yang dititipkan Tuhan melalui makanan dan minuman yang diasupkan ke raga. "Yang tidak wholesome (sehat) jangan dimakan/minum. "

Bondan sendiri tidak memantang satu hidangan, tetapi ia amat memerhatikan jumlah yang ia makan. Dengan mengetahui RDA (Recommended Daily Allowance), ia bisa menakar berapa banyak steak atau udang yang bisa ia santap.

Selain itu, dia tidak menyantap menu enak setiap hari dan juga melakukan detoks (dari detoksifikasi, pembuangan racun), setiap enam bulan sekali kontrol darah. Ia menyadari, ketika usia sudah menjelang 57 tahun, raga dan metabolisme sudah tak sebagus seperti usia 20-an tahun.

Ya, itulah nikmatnya masih dapat mencicipi semua hidangan lezat. Kita masih bersyukur. Ada seorang dokter berkata demikian. "Tuhan memang betul-betul adil. Ketika seseorang boleh memakan semua makanan, dia tidak mampu memakannya. Sebaliknya, ketika seseorang mampu memenuhi seleranya, sayang, kesehatannya tidak memungkinkan dia melahap semuanya."

[+/-] Selengkapnya...

Rabu, 10 Oktober 2007

Rumpun Bambu PKI

Siapa Menipu Siapa: DN Aidit(kanan),
TNI tangkap Simpatisan PKI (tengah,
dan Soeharto (bawah)





HINGGA hari ini, milis-milis masih memperguncingkan DN Aidit, komunis dan PKI, barang 'haram' di Indonesia. Kata yang sepertinya hanya monopoli pemerintah, sehingga dia tidak sama dengan parpol, lembaga terhormat yang mengantarkan para bapak/ibut terhotmar ke DPR, presiden, gubernur, walikota, bupati dan bahkan lembaga negara lainnya. PKI berkonotasi negatif, sedangkan PNI, Golkar, PDIP, PKB, PD, PAN, PKS, PPP, PBB, PDS dan sebagainya positif.

Pelajaran sejarah nonkurikulum pendidikan formal banyak beredar di tengah masyarakat. Mungkin jumlahnya tak sebanding dengan pelajaran di sekolah. Walupun faktanya mungkin sangat layak masuk sejarah, namun karena dilarang penguasa, maka dia tinggallah obrolan dari mulut ke mulut yang dari hari ke hari kian berkurang, kemudian sekadar mitos, atau paparan kata-kata 'konon'.

Banyak fakta dan data di dalamnya, berupa kesaksian, pengalaman pribadi orang-orang dari berbagai elemen warga bangsa. Seputar komunis atau Gerakan 30 September/PKI, misalnya. Hingga sewindu silam, sejarah versi pemerintah banyak dipublikasi. Film dokumenter G 30 S/PKI menjadi tontonan wajib saban malam 30 September.

Kita dapat menyaksikan keganasan gerombolan bersenjata yang dicitrakan pasukan Partai Komunis Indonesia, menghabisi para perwira tinggi tentara. Tujuh orang jenderal tewas. Film yang sama mempertontonkan fase awal kontra G 30 S/PKI. Versi masyarakat juga banyak. Sebagai kalangan bawah, yang jauh dari elite penguasa, sejarah yang mereka saksikan pun tentu yang terjadi di lapangan.

Beberapa kesaksian istri atau pewaris korban dalam penumpasan sisa-sisa PKI pascapembunuhan Pelda Sujono, prajurit TNI AD yang dikaryakan di PT PPN Karet IV di Bandar Betsi, Pematang Siantar (Sumut), 14 Mei 1965, menyebutkan pembalasan bagi tewasnya Pelda Sujono, lebih dahsyat.

Penumpasan bergerak cepat dan terbuka. Mereka menyisir desa lepas desa, mencari anggota PKI dan simpatisan. Mati sanksinya. Tidak ada data yang mencatat angka korban.

Jangankan menemukan prasasti, kuburan pun tak diketahui. Namun cerita orang tua menyebut ada tanda pembantaian, yakni rumpun pohon bambu yang tumbuh di bawah jembatan, di tepi jalan raya, adalah kuburan massal korban anti-PKI. Korban biasanya dilempar ke lubang, lalu pusaranya ditanami bambu.

Waktu saya mudik, dan mandi di Sungai, kata-kata 'merinding' masih sering terdengar dari warga desa ketika melintasi rumpun bambu di sisi jembatan, yang tumbuh subur di tepi sungai. Di bawah bambu itu, konon, ditumpuk mayat-mayat korban kontraPKI. Oleh pasukan TNI-pro Soeharto, mereka dicari ke kampung-kampung, dari gang ke gang, dari rumah ke rumah.

Kalau kedapatan pernah aktif dalam organisasi underbow PKI, atau sekadar orang buta huruf yang masuk list orang penerima bantuan cangkul atau alat tani dari barisan tani, maka dia diseret. Digiring bak binatang, disiksa atau ditembak. Kemudian mayat-mayat atau orang yang masih hidup dibawa ke kuburan massa di tepi sungai. Sebagai pertanda, orang desa, yang ingin agar kuburan ayah atau orang-orang yang mereka cintai tidak hilang ditelan masa, pusaran kuburan massal itu ditanami pohon bambu.

Bukan hanya di satu tempat. Konon di banyak lokasi, praktinya rata-rata sama. Maka saya pun kesetrum, ikut-ikutan merinding jika sekali waktu pergi ke sungai yang ditumbuhi rumpun bambu lebat. Jangan-jangan tulang-belulang mereka korban keberingasan kontraPKI terkubur di bawah sana. Jangan-jangan ... Entahlah. Walaupun fakta menunjukkan, tanamam bambu dan tumbuhan lainnya memang memiliki habitat yang baik di tepi sungai.

Di Blitar, Jawa Timur, Operasi Trisula, 6 Juli 1968, yang menumpas sisa-sisa PKI meringkus 850 orang aktivis PKI. Tahun lalu, sejumlah keluarga korban menuntut pemerintah agar meluruskan sejarah, sambil mengusut tuntas penembakan ratusan orang di gua-gua di kawasan Blitar Selatan.

Di era reformasi ini, banyak analisis yang menyebut G 30 S/PKI adalah peristiwa perebutan kekuasan RI yang disponsori asing, di antaranya Amerika.

Kebencian terhdap komunis tidak hanya berlangsung di Indonesia. Bekas provinsi ke 27 RI, Timor Timur, contoh lain. Hari-hari terakhir, negara muda itu bekecamuk. Perang saudara. Baku tembak, saling bunuh. Belakangan mencuat analisis yang menyebut pihak asing di antaranya Amerika dan Australia tidak suka terhadap sosok Perdana Menteri, Mari Alkatiri. Ia dituding berhaluan komunis, so segera diamputasi.

Amerika mencitrakan komunis dengan seterunya saat Perang Dingin yakni Rusia (plus Cina). Kalau kita menuduh komunis sebgai pembunuh, tak beradab, tak ber-Tuhan, mari kita bandingkan kekejaman liberal-kapitalis.

Berapa orang yang telah dibunuh regim negara komunis China dan Rusia. Rasanya tidak banyak jika dibandingkan dengan korban keserakahan liberalis-kapitalis di Abepura dan Timika terkait pertambangan Freeport. Juga penindasan di Irak dan Afganistan, dan sebentar lagi mungkin Iran. Amerika pintar membiaskan isu, termasuk ideologi, padahal tujuan akhirnya mengeruk keuntungan, seperti melimpahnya minyak dari Timur Tengah.

Dalam persaingan ekonomi-teknologi global, terbersit betapa ketatnya persaingan bangsa-bangsa. Diramalkan terjadi pergeseran hegemoni Amerika dan Eropa ke Asia, yakni Cina dan India. Hal inilah yang ditakutkan Amerika selama ini. Memusuhi Cina dengan stigma komunis, lebih kental muatan ekonomi. Kalau bagitu, masihkah layak kita memperdebatkan ideologi Komunis atau Pancasila. Masihkah ada bahaya laten komunis?

Rasanya tidak. Setahun lagi atmosfer politik Indonesia akan kembali panas. Pemilu dan Pilpres atau Pilkada akan digelar. Kita mesti lebih waspada terhadap bahaya yang ditebar orang-orang ambisius politik dan kekuasan. Terbukti dalam banyak peristiwa, pergolakan di masyarakat adalah ulah segelintir elite politik atau penguasa yang bersaing merebut kue kekuasaan. (domuara ambarita)

[+/-] Selengkapnya...