Senin, 03 Desember 2007

I Hate Wednesday

"AYAH bagaimana sih. Wong masih Lebaran, kok tinggalkan rumah. Tamu-tamu dan keluarga siapa yang menemani. Aneh, ini kan masih libur panjang, cuti bersama, ayah kok sudah kerja. Perusahaan apa sih kerjaan ayah, nggak manusiawi sekali. Tidak beragama kali, benci. Benci......"

Tanggal 15 Oktober 2007, dua hari selepas Lebaran atau Idul Fitri 1428 H, atau tepatnya, seorang kawan redaktur pada satu koran di bawah Persda Network, mencurahkan isi hatinya. Dia seakan memuntahkan isi hatinya, uneg-unegnya, bahkan hal-hal yang sebetulnya rahasia keluarga. Urusan dalam negeri sendiri, atau konsumsi internal, bukan untuk dieskpose ke publik.

Rupaya kawan tadi tidak kuasa menahan gejolak hati. Dia coba memancing saya, dengan mengajukan pertanyaan apakah tidak menikmati cuti panjang Lebaran. Kami memang baru saling kenal nama lewat YM, face to face belum.

"Saya piket, bos. Mengisi waktu, saat kawan-kawna wartawan muslim merayakan hari rayanya, saya dan beberapa teman tugas piket dan meliput. Inilah arti indah dari keberagaman, saling mengisi. Saat yang lain menjalankan ritual agamanya, berslitaruhami dengan sanak-saudara, bernostalgia, dan lain-lain. Sedangkan sebagian lainnya tugas seperti biasa. Jadi pasokan berita, tetap ada. Apalagi kalau ada peristiwa besar, kita tetap dapat. Indah bukan keberagaman itu."

"Ya... ya... saya paham. Tapi..." tulis sobat pada Ymnya yang nongol di layar komputer saya. Disusul pengakuan dia yang sebenarnya masih rada kalut. Dia bekerja di satu kota, yang berjauhan dengan anak-istri. Pada hari-hari kerja normal, dia bekerja dua pekan, dan libur dua hari, untuk 'setoran'.

Sang sobat mengaku kadang-kala berpikir atas realits yang ada. Serba terbalik. Anomali. Misalnya, ketika orang lain bekerja pagi sampai sore, dia justru bekerja sore sampai malam. Ketika yang lain bangun pagi dan berangkat untuk mencari nafkah, dia masih tidur pulas di peraduan.

"Yah, beginilah hidup wartawan. Saya menyadari itu, dan mengatakan itulah risiko wartawan. Tetapi, kadang-kadang, istri dan keluarga tidak paham juga. Mereka minta dispensasi, setidaknya pada saat Hari Raya yang hanya sekali dalam setahun," kata kawan saya. "Ya, saya paham..."

Begitulah hidup wartawan. Bak kelelawar. Saya pun pernah mengalami. Hingga lima tahun pertama saya bekerja, ngalong, saya terus bertanya dan bermenung. "Apakah ini jalan hidupku? Apakah pilihan jadi wartawan sudah jalan terbaik? Apakah tidak ada pekerjaan yang lebih manusiawi? Bagaimana mendidik anak dan dekat dengan mereka kalau ayah lebih banyak di luar rumah, pergi pagi saat anak sekolah (saat anakku kelak beranjak gede) dan pulang setelah mereka terlelap."

Namun pertanyaan semacam itu sudah berlalu masanya. Sekarang saya sudah 'rela' menerima pekerjaan jurnalis, dan bahkan sudah menikmatinya. Kendati berangkat pagi, dan pulang larut malam. Kendati dalam perjalanan menunggang sepeda motor hampir dua jam sekali jalan (pagi- siang), menghirup debu-deru kota.

Pasca-Lebaran, kemacetan ibu kota kian menggila. Akhir-akhir ini, ketika proyek jalur khusus TransJakarta atau busway ala Jakarta terus dikembangkan, kemacetan Jakarta semakin tak terkendali. Hampir semua ruas jalan menjadi simpul kemacetan. Rute yang saya lalu, Depok- Pasar Rebo-Cililitan-Cawang-Pancoran-Senayan, sengaja saya alihkan melalui rute Pasar Minggu. Jalur ini pun bukan bebas macet, namun lebih mending dibandingkan rute pertama, pascaproyek busway.

Jika orang banyak menaruh benci pada hari Senin, karena beban kerja yang biasanya menumpuk. Mereka ngomel, I hate Monday. Bagi saya dan sebagian warga Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi (Jabodetabek), hari-hari yang paling dibenci adalah Rabu dan Jumat. I hate Wednesday. I hate Friday. Pada Rabu dan Jumat kemacetan Jakarta luar biasa, tidak semacet hari Senin dan hari lainnya.


Karena lelah di jalan, dan sering kurang tidur di rumah, saya seringkali sambil terkantuk-kantuk di jalan. Membunuh kantuk, saya sekejap menepikan sepeda motor, melelapkan mata barang lima menit di bawah pohon rindang, atau di SPBU guna menghindari kecelakaan fatal.

Tidak apa-apalah. Semua itu merupakan perjuangan. Dan kelak, semoga menghasilkan, sehingga ada yang dapat dibanggakan sebagai buah-buah ketekunan. Jika tidak, maka binasalah orang- orang yang tekun dalam doa dan karya. Mereka akan jera.

Saya masih percaya pada gurindam, "ida-ida do jolma na bosur, jala jora-jora ma jolma na male" (seseorang akan ketagihan berbuat baik jika mendapatkan imbalalan setimpal, sebaliknya dia akan jera karena balasnya tidak setimpal).

Inilah sebait lagu, yang sering saya dendangkan saat berkendara sekadar memacu optimisme hidup, atau sekadar menghilangkan sesak di dada:

ANAKKON HI DO HAMORAON DI AU

Reff.. Anakkon hi do hamoraon di au

Marhoi hoi pe au inang da tu dolok tu toruan
Mangalului ngolu-ngolu naboi parbodarian
Asal ma sahat gelleng hi da sai sahat tu tujuan
Anakkon hi do hamoraon di au

Nang so tarihut hon au pe angka dongan
Ndada pola marsak au disi
Marsedan marberlian, marcincin nang margolang
Ndada pola marsak au disi

Hugogo pe massari arian nang bodari
Lao pasikkolahon gellengki
Naikkon marsikkola satimbo-timbona
Sikkap ni natolap gogokki

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, 29 November 2007

Matahari dari Timur

SELASA (27/11/2007), seorang sahabat lama menyapa dari seberang Laut Jawa. Kami berbicara ngaler ngidul via YM. Dialah Dade, kawan saya yang sama-sama memulai hidup jurnalistik di Borneo, koran ternama, Banjarmasin Post, sembilan tahun silam.

Sekali waktu, saya pernah iri padanya, ketika ia meninggalkan saya, sahabat baik di negeri Seribu Sungai, sebutan untuk Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Awal tahun 2000, Kang Dade yang asli Majalengka, Jawa Barat, dibutuhkan tenaganya untuk menyukseskan proyek baru, Koran Metro Bandung, kini Tribun Jabar. Koran ini terbit perdana 23 Februari 2000.

Ya, wajar saya iri, tapi tidak dengan embel-embel dengki. Di pikiran saya, begitu beruntungnya Kang Dade, perusahaan membutuhkan dia berarti karena kualitas, kredibilitas, integritas dan pengabdiannya luar biasa. Tekad saya adalah, bagaimana supaya bisa mengikuti jejaknya.

So, saya harus membuat yang terbaik. Bagaimana caranya? Sebagai jurnalis pemula, saya saat itu sering dan lebih sering membaca berita-berita apda banyak media cetak lokal maupun nasional sebagai pembanding sekaligus tempat berlajar, semakin sering berdiskusi, bertanya pada wartawan yang lebih senior, learning by doing atas beberapa kasus di lapangan.

Dan satu paling menempa saya adalah, panasnya suhu Banjarmasin. Tidak saja dalam artian iklim yang gerah, sumu, dan membuat keringat bercucur deras, tetapi panasnya atmosfer juga berbanding lurus dengan emosi kebanyakan warga. Bukan rahasia, tingkat kriminalitas terutama baku-bunuh sangat tinggi terjadi di Banjarmasin.

Peristiwa ini, semula kami sebut, berita dari langit. Berija kejadian, yang tidak dapat direncanakan si wartawan, kecuali memasang telinga, dan mata di mana-mana. Sebanyak mungkin bergaul dengan tukang ojek, penarik becak, sopir angkot, membangun jaringan dengan reserse, merangkul petugas UGD, bahkan sering-sering begadang atau bermalam di kamar mayat, adalah beberapa jalan untuk mendapatkan berita yang on the spot, uptodate, eksklusif, human interest dan mungkin multiangle.

Dari desk kriminal, sempat rolling ke politik, kemudian 'dibuang' di pelosok ke Tanjung, ibukota Kabupaten Tabalong, kemudian diterjunkan ke medan perang tradisional, mangayau pembantaian tebas leher antara etnis Dayak dengan Madura di Sampit, sejak 18 Februari 2001.

Sedikit banyak, saya memang telah minum garam kalimantan dan minum banyu Martapura. Anekdot orang Kalimantan, terutama suku Banjar meyakini, apabila sudah meneguk atau minum Banyu Martapura atau air dari Sungai Martapura, yang melintas membelah Kota Banjarmasin.

Awal tahun ini, saya dengan Kang Dade, kembali berpencar setelah lima tahun lebih bersama- sama di Metro Bandung/Tribun Jabar. Saya upgrade ke Persda guna membantu directing peliputan di Jakarta dan sekitarnya, sedangkan Kang Dade sedianya diincar untuk memperkuat Tribun Batam, namun hanya beberapa bulan di sana, kemudian tabulik pulang ke Banjarmasin Post karena sudah minum banyu Martapura. Hahahaa.a.a.a...

Beberapa pekan, kami tak berkomunikasi. Selasa itu, tanpa bas-basi, Kang Dade langsung menohok ke persoalan pencairan uang pada Jamsostek. Juli lalu, kami memang tak berhasil meraup uang segar yang sudah hampir sembilan tahun ngendon di brankas Jamsostek.

Dana yang cukup membeli satu pikap susu fomula itu tidak dapat diambil, karena memang Jamsostek menetapkan peraturan menara gading buat pekerja. Setiap pekerja didaftarkan perusahaan menjadi anggota Jamsostek, ia wajib menyetor iuran (plus tanggungan perusahaan) Jamsostek. Uang itu sebenarnya hak pekerja, tetapi oleh Jamsostek dibuat syarat yang bertele-te untuk mencairkannya.

Pengalaman saya, syarat mencairkan atau mengajukan klaim Jamsostek: 1) keanggotaan minimum 5 tahun, 2) Surat pengunduran diri/berhenti, KK/KTP asli, Kartu Jamsostek asli. Syarat lainnya, memiliki masa tunggu minimal 6 bulan, yang dibuktikan dengan surat C1 (penonaktifan kartu anggota dari perusahaan sebelumnya).

Bagaimana kalau ada pekerja tidak belum sampai lima tahun menjadi anggota? "Tidak boleh" Lalu ke mana uangnya, apakah jadi hak Jamsostek? "Mungkin, ya. Tapi boleh juga dilanjutkan lagi, jika pemilik kartu pindah kerja pada perusahaan yang juga menyertakan perusahaan menjadi anggota."

Bagaimana kalau seseorang pemilik kartu anggota, katakan sudah empat tahun 11 bulan bekerja, tapi dipecat/berhenti, lalu jadi wiraswasta? Entahlah, semoga dana yang bersangkutan tidak menjadi sumber dana untuk dimanipulasi/dikorup orang Jamsostek.

Perbincangan saya dengan kang Dade mengenai peluang meraup dana selama sembilan tahun, masih terganjal karena kami bedua hampir bersamaam non-aktif di Bandung, yakni Juli. Sedianya, Desember ini dapat dicairkan, namun belum jelas, karena kabar dari dia yang baru kembali ke kampung halaman di Majalengka, lalu menyempatkan diri mampir ke Jamsostek Jalan Suci Bandung, katanya urusan ini masih panjang.

Kini kami berada dalam jarang yang relatif jauh. Kang Dade memilih mendekat ke nyonya rumah yang calon dokter di kota Intan, Martapura, Kalsel, ada pun saya di Depok. Namun kami masih tetap berada dalam naungan perusahaan yang sama: Kompas Gramedia.

Hidup serba bersahaja atau lebih tepat melarat, saya masih tetap yakin motivasi bernuansa perumpaan yang beberapa dikumandangkan kang Dade, yakni kita mesti membuktikan diri, Matahari Terbit dari Timur, sekali waktu akan diberkahi Allah. Karena matarahi memang masih terbenam di barat hahahahahah........ (domuara ambarita)

[+/-] Selengkapnya...

Minggu, 25 November 2007

Jangan Tinggalkan Aku

MINGGU (25/11/2007), saya beserta lima kawan jurnalis, berbicang-bicang ringan di kantor, ruang redaksi Persda Netrok, Jalan Palmerah Selaatan 12, Jakarta. Ngerumpi kami ngaler ngidul. Tema politik, seputar gaya preman, koboi, penampilan bertabur emas dari beberapa pegiat pilitik di gedung DPR RI, Senayan, mampu mengumpulkan kami, kendati tak diperintah.

Berita politik memang tak ada matinya. Puncaknya pascaera reformasi yang ditandai antara lain euforia-kebablasan, sehingga sempat menyurutkan minat orang banyak, termasuk saya sendiri terhadap hiruk-pikuk perpolitikan nasional-lokal.

Akhir-akhir ini, atmosfer perpolitiakan kembali naik daun, asal bukan naik pitam. Suhu perpolitikan dipastikan akan terus meningkat sampai mendidih pada Pilpres 2009, semoga para politisi mampu mengendalikan diri dan massa sehingga 'ketel' tak sampai meledak. Dua tahun menjelang pesta rakyat itu, sejumlah tokoh politik sudah 'heboh' menohok dan menyodok ke sana ke mari, menambah hiruk-pikuk politik, sebagai calon presiden.

Sejumlah sosok sudah menyampaikan kesanggupan dan mulai 'jualan' memimpin bangsa ini. Ada yang terang-terangan, ada yang malu-malu. Calon yang terang-terangan mengatakan akan maju antara lain Iwan Cahyono dan Syafrul Agus yang deklarasikan diri sebagai pasangan Capres independen (meskipun gurang bergaung), Ketua Umum PDIP/mantan Presiden Megawati, mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso.

Dalam obrolan sore itu, topik pun menyenggol aktivitas jurnalis di seputar panggung politik. Di luar wartawan yang jujur pada profesinya, ada beberapa nama yang disebut memiliki peran ganda. Selain wartawan untuk medianya, dia juga menjadi penghubung presiden dan wakil presiden dengan petinggi pada media tempat bekerja sang wartawan.

Ada orang yang semula sebagai officeboy di presss room gedung DPR, belakangan menjadi bos geng 'wartawan' yang mengorganisasi jumpa pers diikuti bagi-bagi fulus, atau menjadi calo orang-orang dari daerah dengan yang ingin bertemu legislator di Senayan. Mereka mengharapkan commitment fee. yang bagi sebagian orang adalah tabu tetapi dalam urusan lobi katagori hal wajar.

Seorang kawan wartawan senior, sudah puluhan tahun jadi jurnalis, sore itu menasihatkan wartawan lainnya, 'wartawan' tipe kedua di atas memang tampak lebih menguasai masalah dari wartawan pencari berita. Mereka pun dari memiliki akses yang terkesan luas dan dekat dengan sumber-seumber pokok berita untuk pencari berita. Ya, mereka menguasai: masalah dan orang.

Bahkan penampilan mereka lebih wah daripada wartawan, yang katanya saat ini mestinya berubah karena bukan lagi koran perjuangan melainkan industri pers. Industri: adalah era profesional, wartwan profesional memiliki kedudukan selevel dengan sumber daya lainya dalam perusahaan seperti modal, mesin dan metode (4M). Dengan demikian, jika pemilik media yang belakangan menggurita menjadi konglomerasi, maka wartawan pun berhak mendapat kehidupan yang semakin layak.


Mungkin paradigma ini yang menggugah kawan tadi melontarkan. "kalau tujuan anda segera kaya, maka dari sekrang mulailah mendekat kepada sosok-sosok entah calon anggota DPR atau calon presiden yang potensial tadhun 2009. Kalau dia jadi, Anda akan kaya. Rumah bisa di Kota Indah (barangkali maksudnya Pondok Indah) dan mobil tiga," ujarnya sambil tergelak tawa.

Ya, itulah arti dan konsekwensi pada kesetiaan. Setia memilih hidup sebagai jurnalis/wartawan, ya berarti setia miskin, atau setidaknya memiliki jiwa pro-miskin. Karena, konon, tugas wartawan sebangun dengan pewartaan: tanpa pamrih, layaknya mubalik, pastor, pendeta (ideal).

Jika tidak setia pada profesi dan kawan, jadilah pilihan-pilihan pragmatis. Demi hidup yang semakin sulit, maka haruse memilih, tetap miskin atau kaya. Ini memang paradoksal: Miskin tak ada untungnya, Kaya tak ada ruginya.

Saya jadi teringat pada putri bungsu kami, Elisabeth Uli Ovelya Ambarita, Sabtu (24/11/2007) malam. "Jangan tinggalkan aku. Ompung... tante, jangan tinggalkan Uli," katanya meraung dengan nada menjerit saat ditinggal nenek dan tantenya yang hendak pulang.

Sabtu itu adalah haribaik, dan kami jadikan untuk pindah rumah, menempati bangunan setengah jadi di Komplek Deppen Jalan Raya Bogor, Cisalak. Uli yang selama ini menganggap neneknya dalah ibu: sedari usia 6 bulan lebih sering tidur bersama ompungnya daripada kami ibu- bapaknya.

Usianya 3 tahun 1 bulan. Tapi omongan dan pikirnanya, seprtinya di atas usia itu (setidaknya bila dibandingkan dengan pengalaman saya, yang orang kampung...) Saat hendak ditinggal pulang, dia menjerit agar tidak ditinggal. Saya dan mamnya, sebenarnya tidak memaksa Uli tidur bersama kami malam itu. Kami maklum kalau dia ikut ompungnya. Tetapi akhirnya dia sendiri memutuskan, tinggal bersama kami, sembari mencium pipi ompungnya dan melambai tangan dadahhhh.... (domuara ambarita)

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, 22 November 2007

Era Digital

SEBELUM Tim Usia di Bawah 23 Tahun (U-23) PSSI dibantai Suria tujuh gol tanpa balas, tim senior dihajar tim yang sama di Jakarta, 4-1. Hasil ini makin mempertontonkan comping-camping persepakbolaan nasional, setelah pada Piala Asia, Juli lalu, juga tak berkutik di kandang sendiri.

Untung juga keok. Andai menang, mungkin Nurdin Halid, sang Ketua Umum yang menjadi pesakitan di LP Cipinang untuk kedua kali dalam kasus korupsi, akan menepuk dada. "Ini lho, kinerja PSSI. Di penjara saja, PSSI masih bertaji. Siapa bilang persepakbolaan Indonesia, mandul. Ngapain mesti mengganti saya."

Barangkali Nurdin tidka malu diwawancarai wartawan. Dia akan mengumbar pernyataan membabi buta dan tak terukur ke khlayak ramai melalui media, atau sekabatas bisik-bisik dengan pengurus PSSI lainya yang rajin menyambangi Nurdin di dalam bui.

Kembali pada pertandingan Timnas saat menjamu Suria di gelora Bung Karno dua pekan silam. Saya menyaksikan satu hal yang ironis, memilukan, sekaligus prihatin. Papan pergantian pemain yang diangkat inspektur pertandingan adalah bahal plastik manual.

Perangkat pendukung yang sering digunakan pada pertandingan klub-klub Tarkam (antarkampung). Perangkan manual yang jauh dari kelayakan pada level pertandingan internasional. Jika di negeri tetangga atau asing sudah menggunakan alat digital, PSSI masih setia dengan alat-alat manual.

Seperti halnya perusahaan-perusahaan minilik negara (BUMN) yang setia dengan monopoli, semacam Peramina, PLN, Telkom, hanya akan menjadi jago-jago kandang ketika dilindungi pemerintah. Menjadi katak dalam tempurung. Begitu era berubah, globalisasi dan liberalisasi menjalar ke mana-mana, semua tersapu akan angin perubahan, terseok-seok.

Rasanya, PSSI pun tinggal menunggu hadirnya, PSSI impor agar mau berubah. Entah PSSI impor dalam artian pembekuan dari FIFA, lalu, PSSI vakum dan muncul lagi penggant. Bila itu pilihannya, tanpa didahului kesdaran Nurdin dan pengurus PSSI yang ada tak berniat mundur/bubar, termat mahallah biaya yang ditanggung insan olahraga nasional.

Pak Nurdin, seburuk-buruknya Soeharto, Eyang masih mau undur diri. Lengser keprabon. Sebelum digilas, silakan minggir bossssss... Kasihan persepakbolaan nasional, yang sebenarnya tidak memajukan pesepabola lokal tetapi menafkahi pemain asing, dan menggemukkan agen pemain asing, serta menyuburkan KKN 'proyek' transfer dan gaji pemain asing. (domuara ambarita)

[+/-] Selengkapnya...

Kamis, 15 November 2007

Sayangku pada Sebulir Padi

MASA kecilku, Amang-Inang, atau ayah bundaku, selalu menasihatkan agar tidak membuang- buang buliran nasi. Nasi yang sudah disendok ke piring harus habis dimakan. Tidak boleh menyisakan remah-remah. Piring bersih, bila perlu tidak usah pakai sabun untuk mencucinya.

Falsapah yang selalu mereka tanamkan kepada kami anak-anaknya adalah, untuk sebulir nasi dikorbankan peluh dan tak jarang darah. Nasi berasal dari beras, sebelumnya padi. Padi diyakini memiliki dewa yang disebut boraspatini tano. Agar padi tumbuh subur, petani harus tekun memanjatkan doa-doa permohonan kepada Allah melalui Sang Dewa. Andai Sang Dewa tak berkenan, tanaman padi akan puso, gagal panen. Kalaupun menghasilnya, tuaian tak menggembirakan.

Alasan lain, padi diidam-idamkan berbulan-bulan lamanya. Kalau padi sekarang bisa panen kurang dari 100 hari, di kampung saya, Lumban Ambarita Sihaporas, Kecamatan Sidamanik, Simalungun yang terletak di kaki bukit Simarjarungjung, tak jauh dari Danau Toba, umur padi lebih panjang. Padi ditanam di huma/hauma, lahan kering. Bukan sawah.

Dahulu, padi ditanam di atas lahan robean, atau areal pertanian yang ditanami perdana dari hutan perawan. Tanpa pupuk, kecuali unsur hara dari dedaunan dan batang pohon yang membusuk puluhan, ratusan atau ribuan tahun sebelumnya. Tuaian dari lahan robean, biasanya jauh lebih memuaskan dibandingkan hasil panen dari galunggung, lahan second atau yang sudah ditumbuhi semak-semak semacam ilalang.

Dengan hanya mengandalkan kesuburan tanah, tanpa pupuk kimia, kompos dan pupuk kandang, wajar jika peluang padi berhasil tidak begitu besar. Kalaupun padinya sangat subur, tidak akan pernah sebesar tuaian dari sawah, lahan beririgasi.

Faktor yang mendorong Amang dan Inang menasihatkan kami sangat sayang pada nasi adalah gangguan hama. Babi hutan, kera/monyet, tikus dan burung sangat ganas memangsa padi. Tidak jarang petani marjuma modom (mengidam di ladang) untuk menjaga ladang. Kalau pun tidak, pergi ke ladang subuh, dan pulang malam untuk mamuro menjaga padi dari sergapan kawanan burung pipit.

Petani pun sering dibayangi kekhawatiran badai hujan es. Akan sangat bahaya, buliran padi akan rontok dipipil hujan jika ini terjadi. Ini adalah force majeur bagi petani tradisionil.

Kerasnya usaha, beratanya beban dan pengorbanan untuk mendapat padi oleh para petani yang minim ilmu pengetahuan dan penguasaan teknologi itu, sangat wajar jika memperlakukan sebulir padi layaknya sekeping emas, atau mutiara.

Secara psikologis, sesajen dipersembahkan, gurindam dilantunkan, atau kumat-kamit membacakan mantera, untuk mengharapkan menuai padi yang cukup untuk penganan pokok selain singkong, ubi dan talas. Segenap jiwa dan raga dikerahkan untuk menghimpun buliran- buliran padi itu.

***
NUR Mahmudi Ismail, sudah setahun lebih memangku jabatan Walikota Depok. Sosok yang sebelumnya line-up di "Liga Utama" selaku Menteri Kehutanan terdegradasi pemain cdangan "Divisi I", sebelum dilantik 28 Januari 2006.

Lebih dari setahun, keluhan-keluhan atas lambannya pembangunan infrastruktur yang dia lakukan tidak sepi. Demo-demo bahkan sudah pada permintaan agar dia mundur. Jika kebanyak walikota terpilih segera membenahi infratruktur semacam mengaspal jalan, Nur Mahmudi rupanya taidak melakukan itu.

Jalan-jalan banyak berlubang, bahkan kubangan-kubangan besar. Dari jalur protokol hingga jalan arteri hampir semua ditandai jalan rusak. Jalan Raya Bogor, Tole Iskandar, Jalan Proklamasi, Jalan Bahagia. Permohonan (halus), keluhan dan hingga cemoohan (sarkasme) dilontarkan tidak juga dijawab. Sepertinya dia seribu bahasa.

Barulah sepekan ke belakang, tampak aktivitas pembangunan. Lumayan lah. Kubangan panjang di bawah rindangnya pohon persis di depan bekas Ramayana Cisalak Jalan Raya Bogor, dan pengecoran Simpangan (pertigaan Jalan Tole Iskandar dengan Jalan Raya Bogor), proyek lainnya terkesan asal-asalan. Asal ada maksudnya.

Di Jalan proklamasi, dekat Pasar Agung, cor-coran jalan raya malah dibongkar ulang oleh tangan-tangan tukang, kalau serius mestinya pakai alat berat, bukan dengan linggis atau palu kecil. DI Tole Iskandar, tak jauh dari Simpangan yang dibereskan di ujung got. Padahal pokok persoalan, genangan air di depan pabrik tekstil dibiarkan bak kubangan kerbau.

Sedangkan di tempat lain, ada yang membutuhkan pananganan. Jalan di Jalan Bahagia, seopanjang sekitar 500 meter jalan rusak parah. Kalau hujan, pasti penuh kubangan, sedangkan ketika musim kering jalan menebar debu.

Sinisme saya sempat muncul. Wah, gawat nih, padahal guru mengatakan kembangkanlah posotive thinking. Alasannya, kok baru sekarang perbaikan jalan yang sudah sangat parah itu dilakukan. Kenapa baru akhir tahun????

Jadi curiga. Jangan-jangan seperti sering diketahui dilakukan birokrat kita, tentang sisa anggaran. Bukan rahasia lagi, dana APBD untuk pembangunan yang sudar dianggarkan, konon harus habis pada tahun anggaran berjalan. Jika tidak, daerah harus mengembalikan ke kas negara.

Inikah dasarnya, sehingga dana harus segera dibelanjakan mengingat tahun ini tinggal menyisakan 45 hari lagi. Paradigma menghabiskan sisa anggaran kah yang menyulut proyek tidak tepat sasaran, maka corcoran yang masih bagus pun harus dirusak ulang untuk dibangun kembali? Jika dugaan itu ada, saatnya tim pengawas turun tangan mengaudit.

Sebab praktik pemborosan itu sangat kontradiktif di tengah upaya sekitar 37 juta penduduk Indonesia, terus mengetatkan ikat pinggang sekadar supaya besok masih bisa makan. Pemborosan yang dipraktekkan aparatur negara sangat kontras dengan perlakuan terhadap petani- petani di desa terhadap sebutir padi, beras, nasi. (domuara ambarita)

[+/-] Selengkapnya...

Malaysia Akhirnya Akui Rasa Sayange Milik RI

http://www.tribunkaltim.com/index.php?option=com_content&task=view&id=2488&Itemid=1
Rabu, 14-11-2007 | 23:29:16
JAKARTA, TRIBUN -- Pemerintah Malaysia akhirnya menyerah soal polemik lagu Rasa Sayange. Menteri Kebudayaan, Kesenian, dan Warisan Malaysia Rais Yatim menyatakan bahwa Malaysia mengakui lagu Rasa Sayange sebagai lagu asli Indonesia. Pengakuan itu disampaikan Rais saat bertemu dengan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata RI Jero Wacik.
Ketua Umum DPP Persatuan Artis Penyanyi, Pencipta Lagu, dan Penata Musik Rekaman Indonesia (PAPPRI) Dharma Oratmangun mengatakan, dalam kunjungan ke Malaysia, lahir kesepahaman antara Jero Wacik dan Rais Yatim. "Persoalan lagu Rasa Sayange selesai. Secara de facto, Malaysia mengakui itu milik Indonesia," kata Dharma, Rabu (14/11).

Pernyataan eksplisit Rais Yatim, menurut Dharma, disampaikan saat acara Temu Jembatan Budaya di Kuala Lumpur Senin (12/11) lalu.. Dharma merupakan salah seorang anggota delegasi kebudayaan Indonesia. "Oleh Pak Menteri (Menbudpar Jero Wacik) disampaikan bahwa sebagai negara bertetangga, semua persoalan agar diselesaikan dalam konteks masing-masing. Adapun lagu Rasa Sayange sudah bisa dipahami sebagai warisan yang dipunyai Indonesia," ujarnya.

Lagu tersebut memang hidup di masyarakat secara luas hingga ke Malaysia. Karena itu, rakyat Malaysia juga mengenal dengan baik lagu tersebut. "Jadi, tidak ada masalah lagi," tegasnya. Jero Wacik saat dihubungi tadi malam membenarkan bahwa masalah lagu Rasa Sayange sudah tuntas. "Sebenarnya, tidak hanya masalah itu yang dibahas. Ada banyak hal," kata Jero.

Sebelumnya, Kementerian Kebudayaan Malaysia mengakui telah lalai menggunakan lagu Indonesia lainnya. Yakni, lagu Tiar Ramon karya musikus Minang, yang digunakan tarian delegasi Malaysia pada Asia Festival 2007 di Osaka.

Indonesia tidak akan memperkarakan lagu dan kesenian yang dipakai Malaysia. Sebab, Indonesia dan Malaysia masih serumpun. Namun, Indonesia meminta, jika Malaysia menggunakan kesenian Indonesia, harus diumumkan kepada publik bahwa itu berasal dari Indonesia.

Di Malaysia, selain menghadiri Temu Jembatan Budaya, Jero Wacik membuka Indonesia Trend (Trade, Tourism, and Investment) Expo 2007 di Kuala Lumpur. Itu merupakan pameran produk-produk ekspor Indonesia ke Malaysia. (myRMnews).


[+/-] Selengkapnya...

Senin, 12 November 2007

Front Liner, Kesan pada Pandangan Pertama

JAMAK sudah terdengar anekdot di dalam masyarakat ungkapan rada sarkastis berikut. Mentang-mentang kaya, Si Polan congkaknya luar biasa; Mentang-mentang pintar sombongnya kelewat amat, mentang-mentang berkuasa Si Anu sesuka hati dan otoriter; memang sih produknya laku tapi masa sih nggak bisa nego; perusahaan ini bagus tapi sayang kurang memerhatikan pelanggan.

Induk perusahaan tempat saya mengabdi, Kompas Gramedia, satu di antara perusahaan yang sangat mapan alias market leader. Bukan rahasia dominsi Kompas pada koran, dan Gramedia pada percetakan dan toko buku. Ya, mapan. Sehat.

Dalam beberapa bidang, layanan masih terbaik. Tapi yang namanya manusia, tidak ada yang sempurna. Entah karena menyadarai ketidaksempurnaan itu, atau ada sesuatu prediksi setelah menganilisis tanda-tanda zaman, setahun ke belakang, nuansa perubahan terjadi begitu kental. Salah satunya adalah orientasi pada memenangkan hati pelanggan: pada semua lini.

Lini paling depan, atau garda terdepan yang dibenahi yakni profesi yang paling dekat dengan pelanggan. Siapa mereka? Bukan para tampuk pimpinan semacam Presdir, bukan direktur, bukan pimred, bukan manajer, bukan pula kepala bagian, tetapi pegawai bawahan. Misalnya, operator telepon, Satpam, resepsionis, pramuniaga, teller, dan lain-lain.

Ya, mereka inilah yang lebih dekat dengan konsumen, yang setiap saat langsung berhubungan secara fisik maupun lisan dengan pelanggan, pembeli, pemasang iklan dan sebagainya. Orientasi memuaskan pelanggan: pembeli adalah raja/ratu.

Saya teringat konsep ini, karena Senin (12/11/2007) malam, saya kebetulan bepergian ke Plaza Semanggi, di Jalan Gatot Soebroto Jakarta. Bukan untuk dugem, shopping, tidak juga untuk melonggarkan tenggorokan bernyanyi di karaoke Inul Vista di lantai VI. Bukan, bukan untuk rekreasi, tetapi urusan dengan mengaktifkan simcard ponsel.

Sepulang dari lantai I, menuju basement tempat si Supra menanti, saya bertanya pada seorang anggota Satpam yang berdiri di samping meja pengawasan di pintu masuk. Mengenakan seragam hitam-hitam, mirip intelijen polisi, dia menggenggam pemindai logam (metal detector), dengan sigap memeriksa setiap barang bawaan tamu.

Sebelum saya bertanya di mana pintu menuju basement, hahahah... dasar udik, saya membiarkan si Satpam melayani seorang lelaku yang datang beserta teman wanitanya. Dari kulit dan wajah, dia bukan orang Asia Tenggara, kalaupun iya, mungkin blasteran. Dugaan saya, lelakinya orang India dan perempuan dari Jepang atau Korea.

Saya mendekat ke si Satpam, sembari berharap si tamu segera berlalu. Sambil menyodorkan tas ransel diperiksa si Satpam, pria tadi bertanya, I want to buy Simpati Simcard, Where is???

Sang Satpam tampak menyedengkan telinga kanannya. "Apa?" katanya. Lalu si tamu mengatakan lagi, "I want a Simpati simcard." Tampaknya si Satpam belum nyambung. Lalu saya coba memberanikan, 'intervensi', please, go there on the first floor!"

Saya mafhum, karena saya sama dengan sang satpam, pendidikan rendahan. Mungkin saja, kami sama-sama wong deso, yang kebetulan terdampar di Megapolitan. Lalu, kedua tamu tadi pergi ke dalam Pelangi (sebutan untuk Plaza Semanggi), dan saya pun bertanya kepada Satpam.

Garda terdepan. Ya, Satpam memang garda terdepan dalam perusahaan. Serendah apa pun pendidikan, seminim apa pun keterampilan atau kecakapan dia berkomunikasi, itulah faktanya, dia langsung berhubungan dengan pelanggan. Bukan saja orang se daerah yang bahasa sama, bia jadi dengan orang asing dengan logat, bahasa dan adat istiadat berbeda.

Bila paradigma lama, orang-orang front liner dianggap sebelah mata. Dianggap pekerjaan rendahan, sekadar pelengkap, sehingga tidak perlu dipertimbangkan latar belakang pendidikan, keterampilan bahasa, komunikasi dan dengan demikian upahnya pun ala kadarnya, mengingat perkembangan zaman yang terus menggelinding ke era liberalisasi-global, maka paradigma itu mau tak mau harus diubah.

Jadikanlah orang-orang yang bekerja sebagai satpam, resepsionis, marketer, AE, bahkan office boy orang- orang terampil. Tidak mesti berijazah sarjana, tetapi terampil. Kalaupun telanjur tidak mumpuni, mari, latih untuk menjadi frontliner yang bisa memikat pada pandangan pertama. Jika pada pandangan pertama saja mengesankan, pelanggan senang dan puas terlayani, maka selanjutnya terserah Anda. (domuara ambarita)

[+/-] Selengkapnya...