
Maxensius Tri Sambodo,
Peneliti pada Puslit Ekonomi LIPI
Perlu Kreasi mencari Pasaran Baru di Negara Booming Minyak
DILIHAT dari pengalaman ketika perekonomian Amerika Serikat karena bergolak diterpa krisis pasar modal yang terkenal dengan subprime mortgage, Agustus 2007, sebenarnya perekonomian Indonesia saat ini tidak begitu mengkhawatirkan. Tahun lalu, perekonomian Amerika betul-betul mengalami resesi, tetapi perekonomian kita tidak apa-apa. Dampak resesi Amerika tidak begitu besar, dan tidak signifikan. Kalau pun terimbas, hanya sedikit, dan baru terasa beberapa bulan kemudian.
Menurut saya, ancaman terbesar dan membahayakan bukan secara langsung dari resesi perekonomian Amerika, tetapi lonjakan harga minyak dunia di pasaran global termasuk krisis energi dalam negeri.
Resesi ekonomi Amerika tidak perlu ditakutkan. Tetapi dengan syarat, sejauh pemerintah dapat melihat peluang di negara-negara lain yang mengalami booming minyak. Artinya kita harus optimistis, jangan selalu pesimistis. Kalau pesimistis terus, bangsa kita tidak akan maju. Kita tetap optimistis, walaupun banyak kekhawatiran, dalam artian, optimistis dengan harus jeli melihat kemajuan di negara lain yang sekiranya dapat dijadikan tujuan pemasaran baru.
Dengan kejelian melihat pasaran lain, desesi perekonomian Amerika justru dapat dijadikan momentum mencari pangsa pasar baru, yakni ke daerah-daerah yang produksi minyaknya melimpah, yakni di kawasan Timur Tengah. Selama ini, komoditas dari Indonesia yang sudah masuk pasaran Timur Tengah adalah tekstil dan produk tekstil (TPT). Sekarang kesempatan pemerintah mencari pasaran baru untuk produk di luar minyak dan gas bumi.
Pemerintah jangan sampai dua kali kehilangan momentum, yang seharusnya dapat memanfaatkan krisis ekonomi Amerika pertengahan 2007. Di sinilah dibutuhkan peningkatan aktivitas market inteliigence, untuk menghadapi pesaing yang mirip karakteristik produknya dengan Indonesia seperti dari Vietnam, Cina, dan lain-lain.
Jadi saran saya, perlu ditingkatkan volume dan nilai ekspor produk lain ke negara lain di luar Amerika dan Jepang yang mengalami kelesuan pertumbuhan ekonomi. Kita tahu, kedua negara iatu selama ini menjadi tujuan ekspor Indonesia yang sangat dominan. Apalagi fakta menunjukkan, kecenderungan perdagangan kita ke dua negara itu terus melemah.
Penurunan volume ekspor Indonesia ke Amerika disebabkan beberapa hal. Selain karena penurunan permintaan pembeli dari negara yang bersangkutan, juga karena lemahnya daya saing produk Indonesia. Di sisi lain, produk dari negara pesaing semakin laris. Penurunan daya saing itu sudah lama, dan bahkan bisa dibilang jenuh.
Kalau kita amati, volume perekonomian turun, tetapi nilai penjualan ekspor komoditas kita masih naik, misalnya komoditas pertanian dan pertambangan. Walaupun volume peningkatan ekspor hanya sedikit, tetapi karena ada penguatan nilai tukar, maka nilai jadi meningkat tajam.
Lesunya perekonomian Amerika pun semestinya dapat dimanfaat pemerintah untuk merayu agar investor asing yang tadinya melirik pasaran Amerika dialihkan ke Indonesia. Tentu, investor akan mencari negara-negara tujuan investasi yang impaknya tidak sebesar resesi Amerika, yakni seperti Indonesia dan negara ASEAN lainnya.
Bagaimana cara menarik investor? Pemerintah perlu menggiatkan pembangunan infrastuktur percepatan pembangunan infrastruktur, menjamin kepastian Undang-undang sehingga tidak ada yang tumpang tindih, lalu mengingat kendala paling besar dalam investasi adalah pembebasan lahan maka sengketa penyelesaian/pembebasan lahan harus selesaikan secepatnya. Saya mendukung komisi nasional penangan sengketa tanah yang segera dibentuk pemerintah, semoga ini dapat membuat kepastian hukum dalam penyelesaian sengketa lahan. (Persda Network/domuara ambarita)
Rabu, 23 Januari 2008
Perlu Kreasi Mencari Pasaran Baru di Negara Ladang Minyak
Posted by
domu.damianus.ambarita.blog
at
1/23/2008 04:32:00 PM
0
comments
Labels: Berita Finance
Kamis, 10 Januari 2008
Inflasi Harga dan Kata-kata Sama-sama Menyengsarakan
RABU (9/1/2007) pagi saya bangun lebih dini. Tidak seperti biasa, masih sempat berguling-guling di kasur, menghilangkan letih badan yang selalu kurang tidur. Pagi itu saya menemani istri mengantar putri sulung kami berobat ke dokter.
Putri kami terserang batuk, dan radang tenggorokan. Ini bermula dari cuaca ekstrem selama sepekan, beberapa hari silam di Depok dan sekitarnya. Angin bertiup kencang sepanjang hari, di luar tekanan normal. Sore hingga malam, atmosfer terasa dingin sekali, membuat menggigil anak-anak.
Kami konsultasi kepada dokter spesialis pada salah satu rumah sakit anak ternama di Depok. Sebentar saja, hanya sekitar dua menit bersama dokter. Sambil bernyanyi sekenanya, sang dokter memeriksa anak kami. "Oh, radang tenggorokan. Jangan banyak makan es ya, juga yang manis-manis," saran dia.
"Apa, madu? Oh, tidak. Madu juga tidak bisa dimakan saat batuk, karena madu membikin batuk," kata dokter mencerocos ketika mendengar saya mengatakan kegemaran anak saya mengonsumsi madu.
Seuai periksa, saya membawa resep dokter menuju apotek. Saat bersamaan istri membawa putri kami menuju ruang penguapan atau inhalasi. Kwitansi dari apotek keluar kemudian ke kasir. Pura-pura tidak melihat angka yang terpampang di layar mesin penghitung kasir, saya sengaja bertanya sampai dua kali berapa harga yang harus saya bayar. Saya butuh kepastian apakah ada kesalahan atau tidak.
Kenapa? "Apakah bianya berobat naik?" pikirku. Ya. Ternyata naik. Kali ini biaya konsultasi dokter Rp 90.000 sedangkan sebelumnya Rp 80.000 menjadi Rp 90.000, naik Rp 10.000 atau 12,5 persen. Biaya inhalasi atau penguapan dari 58.500 meningkat 8,5 persen menjadi Rp 63.500.
Saya jadi teringat keluhan tetangga, pemilik warung kelontongan. Ketika saya puji keberhasilan dia membangun warung yang sekilas pandang banyak pembeli. Si pemilik warung langsung berkeluh kesah, kesulitan belanja karena semua produk mengalami kenaikan harga rata-rata di atas 10 persen. Tidak saja terkendala kekurangan modal, di sisi lain, daya beli konsumen menurun. Jika menimbun barang, berarti 'uang akan terparkir'.
Perihal lonjakan biaya berobat dan harga-harga menjadi bahan baku yang diolah otak saya sepulang dari rumah sakit. "Pantasan istri minta tambahan uang ke dapur," pikir saya. Betul. Banyak ibu-ibu rumah tangga mengeluhkan kenaikan harga komoditas kebutuhan primer.
Istri misalnya, tanggal 23 Desember masih menyimpan uang untuk belanja. Lalu sisanya, ia depositokan Rp 1 juta. Tahun baru baru berlalu tiga hari, istri mengeluh sudah kehabisan uang, termasuk menguras deposito. "Mama heran, uang sejuta nggak ada artinya sekarang. Padahal tidak belanja apa-apa, tidak juga pergi ke mana-mana, cuma beli keperluan dapur dan susu anak-anak," katanya.
Ya, inflasi secara konkret memang melambung tinggi Ilmu ekonomi menjelaskan, inflasi adalah suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan kontinu. Inflasi juga merupakan proses menurunnya nilai mata uang secara terus-menerus.
Sejak hari raya Idul Fitri 2006 ketika terjadi kelangkaan komoditas kebutuhan pokok, dan disusul kenaikan harga-harga secara tak terkendali, hingga menit ini tidak ada pengumuman secara resmi terjadi deflasi (kebalikan inflasi). Bukan berganti bulan, inflasi terus terjadi.
Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ali Rosidi, mengakui permintaan masyarakat meningkat. Namun ia mengatakan Januari-Desember 2007 inflasi sebesar 6,59 persen. Angka ini di atas target APBNP 2007 dari 6 persen dan target inflasi dari BI sebesar 6 persen lebih atau kurang 1 persen.
Bukan rahasia, kalu data BPS merupakan angka orderan pemerintah. Satu kecaman ketika menyodorkan angka kemiskinan menurun tahun 2006, dan menjadi pidato Presiden Yudhoyono, sedangkan kenyataan di dekat kita, penganggur, tingkat kriminal, pengemis dan orang bunuh diri karena beban ekonomi terus bertambah. Angka infalsi dapat dimainkan untuk Asal Bapak/Ibu Senang.
Bukan saja inflasi harga-harga yang menyengsarakan, inflasi kata-kata para elite politik, pemimpin negara dan pejabat publik, pun turut menyiksa dan memperberat beban yang ditanggung konsumen. Bual, kebohongan publik, dan kesenjangan kata dengan laku: perbuatan tidak sejalan dengan kata, menambah hebat penipu-penipu berdasi yang mengimpit kaum kebanyakan, jolma napogos, wong cilik. Pemerintah rupanya senang membuat inflasi, yang tidak disadari telah membuat popularitasnya terdeflasi. (domuara ambarita)
Posted by
domu.damianus.ambarita.blog
at
1/10/2008 07:14:00 PM
0
comments
Labels: Suluh Sukma
Selasa, 08 Januari 2008
Wedding Kiss
WEDDING KISS: Kalau adegan begini, masih oke. Jangan adu bibir dong.
"BAPAK-IBU, hadirin yang terhormat, setelah bersantap malam bersama, marilah kita berkumpul di depan, dekat panggung. Mendekatlah ke sini. Kita arahkan pandangan ke arah kedua mempelai. Kita akan menyaksikan selebrasi wedding kiss. Caranya, hadirin memberi tepuk tangan. Dan selama tepuk tangan belum berhenti, kedua mempelai tidak boleh menghentikan wedding kiss."
Pengumuman itu berkali-kali dilontarkan seorang emcee alias master of ceremonies atau MC dalam resepsi pernikahan seorang kawan, akhir pekan lalu. Mendengar imbauan itu, para hadirin, anak-anak di antaranya para putri ayu hingga orang dewasa mendekat panggung.
Beberapa untaian lagu menyelingi acara menambah romantisme suasana menuju selebrasi ciuman pengantin.
Sang emcee mengomando hadirin untuk bertepuk tangan. Sepertinya tak seorang pun hadirin yang rela melewatkan peristiwa geeeeeeeeerrrrrr itu. Semua membelalakkan mata. Ciuman tanpa ditutupi atau dihalangi selubung kerudung atau apa pun.
Dengan sedikit malu-malu, bukan munafik tapi karena pengantain perempuan masih saudara, saya merasa malu menyaksikan mereka ciuman. Sebentar saya intip dari antara pot bunga, lalu saya lewatkan hingga adegan lempar buket bunga ke arah hadirin.
Sekitar 45 detik, kedua mempelai menempelkan bibir, satu sama lain. Sekali lagi, mereka menempelkan bibir di hadapan anak-anak, bocah-bocah yang sebenarnya barang kali tidak tahu arti ciuman itu, kecuali bagi orang berumur yang sudah tahu ngeressss. Meski begitu, saya pribadi berpendapat, ciuman pengantain di depan anak-anak dan hadirin, termasuk orang tua yang besanan, kurang cocok. Kurang sreg.
Kalaulah cara itu sekadar mengadopsi cara-cara selebritas ternama, yang mengumbar sandiwara, tapi belakangan pun, banyak keluarga orang-orang tersohot itu tidak berjalan semesra saat di pelaminan.
Selebrasi ciuman di depan hadiri, terutama disaksikan anak-anak, bukan pertontonan yang tidak bisa ditiadan. Tanpa adegan itu, toh resepsi tidak batal. Tanpa mengecup bibir pasangan bukan berarti kesahan pernikahan tidak afdol. Kasih sayang tidak harus lewat adu bibir, mungkin lebih menyentuh jika ciup kening atau pipi, atau kelopak mata.
Beradu bibir justru dapat diduga sebagai pelampiasan nafsu orang dewasa. Jika keabsahan untuk melampiaskan nafsu, sebagai ukuran bahwa mereka tidak lagi dianggap berzina, itu maksudnya, maka tidak bisakah menunggu satu atau dua jam kemudian.
Dan di dalam ajaran gereja pun, tidak ada yang mewajibkan berciuman saat kedua mempelai resmi disatukan oleh sakramen perkawinan. Saya pun yakin, pada agama-agama lain tidak ada
anjuran yang mengajarkan hal itu.
Sekali lagi, saya tidak munafik urusan arus bawah ini, benci urusan cara kita memperlakukan anugrah Illahi yang kurang sopan dan pantas yang menjadi obyek protes. Bukankah para orangtua cerewet luar biasa jika ada adegan bermesum-ria di televisi atau layar lebar. Tetapi kenapa pada acar sakral demikian, dihadapan relasi yang saling kenal, justru mempertontonkan adegan semacam ini.
Saya masih belum habis pikir... kebiasaan dari mana ini diadopsi dan menjadi 'budaya' Indonesia. Memang perkawinan ini digelar secara modern, bukan pesta adat. Tidak fair, kita meminta orang lain menjaga tata krama, ketika kita mulai dari rumah tangga justru menjadi sarang dan habitat ketidaknormalan, ketidaksopanan, ketidaktahuan pada tatakrama. (Domuara Ambarita)
Posted by
domu.damianus.ambarita.blog
at
1/08/2008 09:59:00 PM
1 comments
Labels: Suluh Sukma
Sabtu, 05 Januari 2008
Soeharto Nyaris Kekurangan Darah
SENYUM MAESTRO: Mantan presiden Soeharto kembali menjalani perawatan di RSPP Jumat (4/1/2007). Mei 2005, mantan penguasa Orde Baru itu juga dirawat. Setelah dirawat tujuh hari, dia tampak mulai sehat, tersenyum dan melambaikan tangan.
HEMOGLOBIN atau disingkat Hb merupakan molekul protin di dalam sel darah merah yang bergabung dengan oksigen dan karbon dioksida untuk diangkut melalui sistem peredaran darah ke tisu-tisu dalam badan. Singkatnya Hb dianggap sebagai kadar sel darah merah.
Ion besi (ferrum/Fe) dalam bentuk Fe+2 dalam hemoglobin memberikan warna merah pada darah. Dalam keadaan normal 100 ml darah mengandungi 15 gram hemoglobin yang mampu mengangkut 0.03 gram oksigen. Kadar hemoglobin biasanya ditentukan sebagai jumlah hemoglobin dalam gram (gm) bagi setiap dekaliter (100 mililiter). Para petugas laboratorium mencatatkan satuannya dengan gm/dl.
Lalu Bagimana dengan kadar sel darah merah Soeharto? Penjabat Sementara (Pjs) Direktur RSPP Dr Djoko Sanjoto SpB mengatakan penurunan kondisi kesehatan telah dirasakan Soeharto sejak lima hari yang lalu.
Djoko, yang didampingi ketua tim dokter RSPP Prof Dr Djoko Rahardjo, menyebutkan kondisi Soeharto berada dalam keadaan stabil. "Pak HM Soeharto sadar, dan saat ini ditemani putra- putrinya," ujar dr Djoko sembari menyebut Soeharto dirawat di kamar president suit nomor 536 di lantai 5B RSPP saat menggelar jumpa pers di RSPP, Jalan Kiai Maja, Jakarta Selatan, Jumat (4/1).
"Tim dokter menemukan kadar hemoglobin darah rendah. Tekanan darah turun dan ada oedem atau penimbunan cairan di seluruh tubuh," kata dr Djoko.
Data tentang kesehatan Soeharto yang berhasil didapat Persda Network dari seorang petugas medis di RSPP menunjukkan kadar hemoglobin (Hb) mantan presiden yang berkuasa lebih dari 32 tahun sangat rendah. "Kadar Hb terakhir 8 persen (8 gm/dl). Rencananya besok akan tranfusi darah, dan endoscopy. Itu pun kalu babe mau," kata seorang petugas medis RSPP.
Umumnya batas minimal untuk kadar hemoglobin pada orang dewasa adalah 12 g/dl untuk wanita serta 14 g/dl untuk laki-laki. Kadar hemoglobin seseorang sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain usia, jenis kelamin, etnik, sosioekonomi, letak geografi, kehamilan serta beberapa faktor lainnya.
Sudah menjadi kesepakatan para dokter , bila kadar hemoglobin kurang dari 7 gr/dl itu merupakan gejala-gejala dan tanda-tanda anemia. Dengan demikian, kondisi Pak Harto pad stadium sedikit di atas ancaman kekurangan darah atau anemia.
Anemia adalah suatu keadaan adanya penurunan kadar hemoglobin, hematokrit dan jumlah eritrosit dibawah nilai normal. Pada penderita anemia, lebih sering disebut kurang darah, kadar sel darah merah (Hb) di bawah nilai normal.
Bagaimana cara mengatahui kadar Hb? Ada beberapa cara bagi mengukur kandungan hemoglobin dalam darah, kebanyakannya dilakukan secara automatik oleh mesin yang direka khusus untuk membuat beberapa ujian terhadap darah.
Di dalam mesin ini, sel darah merah diceraikan untuk mengasingkan hemoglobin dalam bentuk larutan. Hemoglobin yang terbebas ini dicampur dengan bahan kimia yang mengandungi cyanide yang mengikat kuat dengan molekul hemoglobin untuk membentuk cyanmethemoglobin. Dengan menyinarkan cahaya melalui larutan cyanmethemoglobin dan mengukur jumlah cahaya yang diserap (khususnya bagi gelombang antara 540 nanometer), jumlah hemoglobin dapat ditentukan. (Persda Nework/h10/amb)
Posted by
domu.damianus.ambarita.blog
at
1/05/2008 12:24:00 PM
0
comments
Labels: Berita Soeharto
Kalau Uangnya Tidak Ketemu Hancurlah Karier Saya
Pengalaman Ketua Tim Penyidik KPK Saat Menyergap Irawady
JAKARTA, PERSDA - Komisaris Besar Polisi Heru Sumartono namanya. Dia menyenangi benar profesinya sebagai polisi.
Namun sekali dalam hidupnya dia sempat dibayang-bayangi rasa takut akan tercela dalam menjalani tugas penyidikan. Bahkan dia khawatir karirnya di kepolisian hancur.
Perasaan itu muncul ketika dia memimpin tim penyidik untuk menyergap tersangka dugaan tindak pidana suap yang melibatkan komisioner Komisi Yudisial (KY) Irawady Joenoes, di Jalan Panglima Polim 138, Jakarta Rabu (26/9/2007) sektiar pukul 13.00.
Siang itu, dia bertindak sebagai ketua tim penyidik KPK untuk menyergap pemberian uang senilai 30 ribu dolar AS dan Rp 600 juta dari Freddy Santoso, direktur PT Persada Sembada selaku pemilik tanah di Jalan Kramat Raya No 1, yang dijual untuk dijadikan kantor KY.
Ketakutan Kombes Heru mencuat ketika penggeledahan di rumah itu sudah berlangsung. Saat itu, Irawady dan Freddy sudah ditangkap. Heru beserta tiga anak buahnya, yakni AKP Bambang, AKP Egi dan AKP Sugianto berusaha mencari barang bukti berupa uang yang diduga diberikan Freddy kepada Irawady. Andai barang bukti itu tidak ditemukan, maka tuntutan balik dapat dilakukan Irawady dan Freddy terhadap dirinya dan kawan-kawan (dkk) sebagai pribadi, maupun KPK sebagai institusi.
"Saya sempat khawatir. Kalau uangnya tidak ketemu, kan karir saya bisa hancur. Penggeledahan sudah kami lakukan. Satu menit, dua menit dan lima menit berlangsung ... barang bukti tidak ada. Tapi akhirnya, pada menit ketujuh uangnya ditemukan. Anak buah saya, AKP Bambang, berteriak 'ada uangnya...!'," tutur Heru di persidangan.
Uang itu dibalut kertas di dalam tas kertas, sejenis tas tenteng belanjaan dari toko busana, yang terletak di dekat toilet di dalam rumah. Barulah Heru bernapas lega. Ketakutan akan tercoreng tercoreng karirnya pun hilang seketika.
Kekhawatiran Heru beralasan. Irawady Joenoes (68) bukanlah rakyat jelata. Saat itu dia adalah pejabat lembaga koasi negara, yang lantang menyuarakan penegakan hati nurani dan pengawasan kinerja para hakim di Indonesia dengan jabatan koordinator bidang pengawasan kehormatan keluhuran martabat dan perilaku hakim KY. Irawady juga pensiunan jaksa yang sering menuntut pelaku kejahatan.
Sebelum penggeledahan dilakukan penyidik KPK sempat dilarang masuk oleh pembantu yang tinggal di rumah itu. Para penyidik berkeras masuk, dan lagi-lagi ditolak bahkan oleh Irawady sendiri. "Irawady bahkan sempat menduga kami perampok. Kami kebetulan berpakaian preman," ujar Heru sembari menyebut, Irawady melarang penyidik memasuki rumah dengan alasan, rumah itu didiami orang-orang terhormat.
Kelegaan Heru kian menguat, ketika dalam perjalanan ke KPK, AKP Sugianto berhasil menemukan uang senilai 30 ribu dolar AS di kantong Irawady. Penemuan berawal dari munculnya rasa curiga pada diri Sugianto ketika melihat bagian tertentu pada bagian badan Irawady di balik pakaiannya ada yang menonjol. Apalagi saat itu Irawady bilang, "Saya tidak ikut-ikutan lho".
Dalam perjalanan, penyidik menggerayangi Irawady. "Ini apa ini kok perutnya kayak hamil begini, kok kembung. Ini apa? Ternyata setelah digerayangi ada uang dolar," kata Heru.
Heru juga mengatakan, penyergapan itu merupakan pengungkapan pertama kasus suap yang tidak direkayasa. Artinya, penyuap maupun yang disuap tidak tahu adanya aksi pengintaian. Dalam banyak penangkapan, baik yang dilakukan polisi maupun KPK, salah satu pihak namun pada umumnya korban yang diperas, sudah tahu duluan karena bekerja sama dengan aparat kepolisian untuk menjebak pemeras atau orang yang meminta suap. (PERSDA NETWOTRK/ Mohammad Abduh/Domuara Ambarita)
Posted by
domu.damianus.ambarita.blog
at
1/05/2008 12:06:00 PM
0
comments
Labels: Ganyang Koruptor
Jumat, 28 Desember 2007
Menjadi Sahabat untuk Semua (Refleksi atas Terbunuhnya Benazir Bhutto)
Meski bersembah masih dibunuh. Nasibmu ibu, Benazir Bhutto
"CIKUKUNGUNYA? Apa itu Cikukungunya?" Demikian nada tanya saya ketika penyakit aneh itu menyerang dan melumpuhkan 218 orang warga Desa Mandalamukti dan Ciptagumati, Kecamatan Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung, awal tahun 2003. Virus, bakteri atau racunkah Cikukungunya bagi saya belum terang.
Menyusul kejadian luar biasa, yakni penyakit lumpuh layu menular di sejumlah desa di Kecamatan Cidahu dan Cicurug, Kabupaten Sukabumi. Belasan anak-anak, sebagian Balita, mengalami lumpuh layu pada tulang-tulang seperti bagian kaki, tangan dan leher. Mereka diduga terserang virus polio liar, karena tidak diimunisasi polio.
"Wah, gawat nih. Lumpuh karena tidak immunisasi," kata hati saya menggerutu. "Bisa cilaka dua belas nih. Saya nggak pernah immunisasi, kan?" Ya, saya memang tidak pernah menjalani immunisasi sejak kecil. Ketika sedang bandal-bandalnya, seusia pra-sekolah, saya menghindari immunisasi massal di kampung. Saya lari, dan sembunyi di ladang kopi, sampai dokter pulang.
Seingat saya, ketika itu, petugas kesehatan datang ke desa, untuk menyuntik immunisasi cacar dan sejenisnya. Orang-orang dewasa sering menunjukkan bekas luka di lengan atas akibat disuntik, inilah yang selalu teringat, dan ini yang memprovokasi saya.
Dokter identik dengan jarum suntik, alat bantu pengobatan yang sangat menyakiitkan ketika ditusukkan ke bagian pinggul atau pantat. Mendengar kata dokter menjadi sesuatu yang menakutkan, jauh lebih menyeramkan dibandingkan polisi atau tukang sunat.
Apa yang saya alami bertolak belakang dengan putri sulung kami, Elisabeth Uli. Selain urusan vaksinasi, sejak usia tujuh bulan dia memang sering berurusan dengan dokter. Dia pernah terjangkit demam kejang. Sejak itu, ketika ada panas sedikit pun, kami lebih cepat membawanya ke dokter.
Mungkin karena sering bertemu dokter, kesan dia terhadap dokter berbeda dengan saya, ayahnya, yang berbeda usia tiga dekade lebih. Selain itu, dari faktor pasien, perubahan paradigma dokter pun turut mempengaruhi kesan saya, dan anak.
Sedikit panas pun, Elisabeth yang berusia tiga tahun lewat dua bulan, segera mengajak saya atau mamanya mengantarkan ke dokter. Dokter favorit dia adalah dokter anak di Depok dan Jakarta, dr Kriston Silitonga. Dia memanggilnya "dokter oppung Silitonga". Uli bahkan sangat antusias menjawab akan menjadi "dokter oppung Silitonga" kalau ditanya tentang cita-cita. Dia pun lebih patuh nasihat dokter, daripada orangtuanya, misalnya kalau dilarang jajan es krim atau cokelat.
Tempat praktek dokter anak saat ini, dikemas sedemikian rupa sehingga nyaman buat anak. Di banyak tempat disediakan arena bermain, mirip yang biasa ditemui di mal, sehingga membuat anak-anak tertarik dan dan menyenangkan. Tindakan dokter pun tidak melulu asal main suntik, kini banyak cara memberikan obat, kecuali pasien parah. Alhasil dokter saat ini sahabat buat anak-anak, bukan menyeramkan.
Dalam teori dan praktik bisnis, tindakan dokter anak yang menjadi sahabat buat pasien barangkali mengingat persaingan ketat merebut pelanggan. Perubahan paradigma ini sangat baik andai saja dapat diterapkan di banyak instansi, yang bertujuan laba maupun nirlaba terutama layanan publik. Muaranya adalah mendekatkan pelayanan kepada khalayak ramai.
***
DUA hari lagi, tahun 2007 tinggal kenangan. Catatan sejarah bagi mereka yang telah berbuat baik bagi sesama atau bangsanya. Tahun 2008 segera tiba, hiruk pikuk politik akan memanas menjelang Pilpres 2009.
Mari berharap, para penyelenggara negara pun mengubah paradigma berorientasi pada kemakmuran bersama, tidak semata-mata kepentingan politik. Harapan akan netralitasnya aparatur negara, lebih-lebih TNI-Polri terhadap sosok calin pemimpin negara pun sesuatu yang diidamkan, seperti ditekadkan Presiden Jenderal (Purnawirawan) Susilo Bambang Yudoyono dan Panglima TNI baru, Jenderal Djoko Santoso.
Sayang, ucapan semangat itu berbeda di lapangan. Kalau TNI netral, pemandangan seperti memamangkan baliho ibu negara, Ani Yudhoyono di lantai atas gedung Pusat Kesejarahan TNI di Jalan Gatot Subroto Jakarta, tidak perlu terjadi. Apa hubungannya Ibu Ani dengan TNI? Kalu mau netral yah netral lah, jangan setengah hati. Jangan ada kesenjangan perkataan dan perbuatan. Jangan membongongi publik.
Semoga gejala ini, tidak pertanda (ketidaknetralan) aparat keamanan, seperti diduga andil kematian mantan PM Pakistan, Benazir Bhutto, karena adanya pembiaran. Saatnya mengubah paradigma, tanpa harus mendahulukan semangat keberpihakan karena berasal dari sejarah dan latar belakang serupa (militer), l'espirit d'corps. Mengutip nasihat kalangan kesehatan, "mencegah lebih baik daripada mengobati."
Kekhawatiran terulangnya kasus pembunuhan Bhutto memang besar kemungkinan menjadi inspirasi pelaku kriminal di Indonesia. Ada beberapa faktor pendukung. Dari aspek politik, Indonesia saat ini menganut era demokrasi terbuka yakni pemilihan umum one man one vote dalam pemilihan legislatif maupun pemilihan presidan, termasuk gubernur, walikota dan bupati.
Era demokrasi terbuka, persaingan terbuka -mengutip teori ekonomi, bahkan terjadi persaingan pasar sempurna- sehingga memungkinkan terjadi gesekan ideologi bahkan fisik calon atau pendukunganya. Ini rentan menimbulkan konflik horizontal, entah massal maupun gerakan bawah tanah ala intelijen.
Masih dari segi politik, atmosfer perpolitikan kedua negara saat ini mirip-mirip. Pemimpin kedua negara adalah mantan tentara, Susilo Bambang Yudhonono pensiunan jenderal demikian juga Perpez Musharraf. Dan motor oposan dipimpin mantan penguasa yang datang dari kaum perempuan yakni Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri, dan Ketua Partai Rakyat Pakistan, Benazir Bhutto.
Mega memiliki rasa senasib dan sepenanggungan (l'espirit d'corps) dengan Bhutto. Selain latar belakang gender, mereka sering curhat. Jauh ke belakang, ayah mereka pun hampir bernasib sama, akhir hidupnya tragis karena 'dieksekusi' rezim pengganti yang sama-sama berlatar belakang militer.
Ayah Mega, sang Proklamator, Soekarno wafat dalam tahanan rumah di Wisma Yaso, Jakarta, 22 Juni 1970 di bawah pengawasan pemerintahan Soeharto. Adapun ayahnya Bhutto, mantan PM Pakistan Zulfikar Ali Bhutto tewas digantung tahun 1979, oleh rezim militer Muhammad Zia ul-Haq.
Kamis (27/12), Bhutto ditembak di dada dan dileher beberapa menit setelah berkampanye menjelang pemilu di Rawalpindi, Pakistan. Lalu penembaknya bunuh diri, yang menewaskan 20 orang lainnya dan melukai 56 orang.
Hal mengkhawatirkan lainnya, beberapa tahun ke belakang, bom sepertinya bukan barang langka di kedua negara. Ledakan-ledakan bom bunuh diri yang meluluh-lantakkan harta benda dan mencabut nyawa orang-orang tak berdosa pun menjadi peristiwa jamak.
Pilpres 2009 tinggal berselang setahun. Megawati sudah deklarasi sebagai betina tangguh, menghadapi pejantan-pejantan tangguh semacam presiden incumbent, SBY, atau calon lain yang diperkirakan menambah persaingan semacam Jusuf Kalla, Wiranto, Sultan HB X.
Risiko Mega sebagi oposan lebih besar sama dengan Bhutto, bila dugaan adanya konsiprasi pembiaran aparat keamanan. Semoga, ambisi politik atau kepentingan kekuasaan tidak membiarkan darah tertumpah lagi di republik ini. Cukuplah kerusuhan rentetan kerusuhan di masa lalu yang disetting elite politik darah terakhir yang tertumpah hanya untuk rebutan kursi kekuasaan.
Cukuplak korban berjatuhan pada Kerusuhan Situbondo (10 Oktober 1996), Tasikmalaya (6 Januari 1997), Kerusuhan Sanggau Ledo (17 Januari 1997), Kerusuhan Banjarmasin (23 Mei 1997), Kerusuhan Jakarta (13 Mei 1998), Kerusuhan Ambon (19 Januari 1999), Pembantaian Sambas (19 Januari 1999) Pembantaian Rasial Sampit (18 Februai 2001), Kerusuhan Poso (17 April 2000), dan lain-lain.
Stop, hentikan pembunuhan demi ambisi pribadi dan kelompok. Seperti kata film kartunis yang tersohor, si Dora Explorer, "Katakan lebih keras." "Stop kekerasan dan pembunuhan demi kepentingan politik sesaat. Jangan ada lagi pembunuhan. Kursi presiden yang hanya lima tau sepuluh tahun terlalu kecil daripada mencabut nyawa orang lain, yang sebetulnya prerogatif sang pentipta, Tuhan Allah Yang Maha Penyayang." Homo homini socious, bukan homo homini lupus. (domuara ambarita)
Posted by
domu.damianus.ambarita.blog
at
12/28/2007 07:30:00 PM
0
comments
Labels: Suluh Sukma
Sabtu, 22 Desember 2007
Bisa-Bisa Saya Disangka Preman
Kompas.com, Sabtu (22/12/2007) Pukul 02.07 WIB
Yusril Ihza Mahendra Semasa Kecil (3-Habis)
Bisa-Bisa Saya Disangka Preman
ASAL usul keluarga. Bagi orang Belitung haruslah menjelaskan kedua keluarga orang tua, ayah dan ibu. Orang Belitung menganut sistem kekeluargaan bilateral, artinya anak akan menarik garis keturunan kepada keluarga ayah dan sekaligus kepada keluarga ibu. Oleh sebab itu Hukum Adat Belitung membolehkan dua saudara sepupu untuk menikah.
Laki-laki boleh melamar perempuan menjadi istrinya. Sebaliknya juga perempuan boleh melamar laki-laki menjadi suaminya. Jadi berbeda dengan orang Batak yang menganut sistem kekeluargaan patrilineal, yakni hanya menarik garis keturunan ke garis ayah, tidak ke garis ibu.
Laki-laki Batak harus melamar perempuan yang akan jadi istrinya. Mustahil ada perempuan Batak melamar seorang laki-laki menjadi suaminya. Hukum Adat Batak melarang dua saudara sepupu untuk menikah, jika kedua ayah mereka bersaudara kandung.
Berbeda pula dengan orang Minangkabau yang menganut sistem kekeluargaan matrilineal, yakni hanya menarik garis keturunan kepada garis ibu, tetapi tidak ke garis ayah. Hukum Adat Minangkabau melarang dua saudara sepupu untuk menikah, jika kedua ibu mereka bersaudara kandung. Perempuan Minangkabau, menurut adat, akan melamar laki-laki jadi bakal suaminya. Mustahil laki-laki Minang melamar perempuan jadi istrinya.
Ayah saya bernama Idris. Nama ini diambil dari nama seorang nabi setelah Nabi Adam AS, sebagaimana dikisahkan di dalam Kitab Taurat dan Al-Qur’an. Beliau anak keenam dari delapan bersaudara dari pasangan Haji Zainal Abidin bin Haji Ahmad dengan Aminah, yang setelah tua dipanggil Nek Kuset.
Saudara-saudara kandung ayah saya yang lainnya bernama Baziek, Baharum, Baksin, Abdul Kadir, Adam, Zauna dan Arba’ie. Saya mengenal seluruh saudara kandung ayah saya itu, kecuali Baziek yang sudah meninggal di Pontianak, Kalimantan Barat, sebelum saya lahir.
Ketika saya lahir nenek saya juga sudah meninggal dunia, sehingga saya tidak pernah bertemu dengan beliau. Namun ayah saya menyimpan selembar foto nenek saya itu yang dibuat sekitar tahun 1938, sehingga saya dapat melihat wajahnya. Haji Zainal, kakek saya itu adalah anak satu-satunya dari perkawinan antara Haji Ahmad bin Haji Taib dengan Raisah alias Nek Penyok.
Setelah berpisah dengan Raisah, Haji Ahmad menikah lagi dengan seorang wanita bernama Nek Rambai dan mendapat seorang putra bernama Hamzah. Setelah Nek Rambai wafat, Haji Ahmad kemudian menikah dengan seorang wanita bangsawan setempat, namanya Nyi Ayu Mastura. Dari perkawinan kedua ini beliau mempunyai beberapa anak, masing-masing bernama Moestar, Jusuf, Abdullah, Hawa, Aisyah dan Ya’kub. Haji Ahmad adalah putra dari Haji Taib.
Daftar silsilah yang tertulis pada lembaran kertas yang sangat panjang yang dimiliki ayah dan paman saya, berhenti sampai Haji Taib. Keluarga di atasnya tidak tercatat dalam urutan silsilah mereka. Kalau saya bertanya, di mana catatan silsilah di atas Haji Taib, mereka selalu mengatakan ada di Johor. Saya tidak tahu dengan siapa saya akan mendapatkan silsilah itu di Negeri Johor.
Haji Taib bukan orang asli Pulau Belitung. Ayah dan paman-paman saya mengatakan Haji Taib sebenarnya adalah seorang bangsawan bergelar tengku yang berasal dari Negeri Johor. Ibu kota Kesultanan Johor di masa itu mungkin masih berada di Pulau Lingga, Kepulauan Riau sekarang, sebelum ada Johor Bahru di Semenanjung Malaya.
Mungkin karena sebab-sebab keluarga dan politik, beliau beserta keluarganya hijrah ke Belitung pada awal abad ke 19. Beliau menanggalkan gelar kebangsawanannya dan hidup sebagai layaknya orang kebanyakan serta menjadi ulama. Kecintaannya kepada agama itu mendorongnya untuk berlayar ke Mekkah dengan perahu yang dibuatnya sendiri.
Anaknya Haji Ahmad juga mengikuti beliau berlayar menunaikan ibadah haji. Menurut kebiasaan masyarakat di awal abad ke 19, ketika perahu akan berlayar meninggalkan dermaga, orang sekampung berduyun-duyun mengantarkan perahu yang akan berlayar ke Jeddah, sambil membaca doa dan melantunkan shalawat. Ketika layar perahu menghilang dari pandangan, orang di kampung membaca talqin dan bersedekah setiap habis magrib sampai hari ke tujuh. Tradisi seperti itu lazimnya dilakukan ketika ada keluarga yang meninggal.
Mereka menganggap orang yang berlayar naik perahu ke Jeddah itu sama dengan orang mati. Betapa tidak. Di zaman itu, perahu tidak bermesin, hanya berlayar dan berdayung belaka. Tidak ada alat telekomunikasi seperti zaman sekarang untuk berhubungan. Kalau ingin menulis suratpun seandainya telah sampai ke Jeddah, siapa pula gerangan tukang pos yang akan mengantarkan surat itu ke kampung halaman.
Dalam perahu yang tak seberapa besar itu, Haji Taib dan Haji Ahmad --tentu saja mereka belum haji ketika itu -- berbekal beras, jagung, ikan asin, terasi dan daging kering sebagai bekal makanan. Mereka juga membawa emas dan perak sebagai bekal belanja. Pelayaran mereka menyusuri Selat Melaka dan menyusuri pantai Asia Selatan untuk sampai ke negeri Jeddah.
Mereka pun singgah di negeri-negeri yang tak mereka kenal, sekedar untuk mengambil air dan menambal layar yang koyak tertiup angin. Konon lebih tiga tahun kemudian baru mereka pulang ke Belitung. Dapat dibayangkan betapa bersykur dan sukacitanya sanak keluarga dan orang sekampung menyambut kedatangan mereka.
Orang pulang haji dengan naik perahu layar bisa pulang kembali dengan selamat adalah suatu peristiwa yang menakjubkan. Konon tidak sedikit mereka yang pergi haji dengan cara yang sama, tak pernah kembali lagi ke kampung halaman. Mungkin perahu mereka telah ditenggelamkan ombak dan badai yang ganas di Lautan Hindia.
***
SETELAH menguraikan panjang lebar kisah tentang keluarga saya dari pihak ayah, maka tibalah saatnya bagi saya sekarang untuk menuliskan kisah keluarga saya dari pihak Ibu. Ibu saya bernama Siha atau Nursiha, putri dari Jama Sandon dan Hadiah.
Beliau lahir 14 Juli 1929 di Kecamatan Gantung sekarang ini. Beliau adalah anak bungsu dari lima bersaudara. Namun tiga kakaknya, yang semuanya perempuan meninggal dunia di masa kecil. Keluarga kakek dan nenek saya percaya bahwa mereka tidak bernasib baik untuk memiliki anak. Sebab itu, ketika lahir anak yang keempat, seorang laki-laki yang dinamai Bujang, bayi itu segera diberikan kepada orang lain, dengan kepercayaan anak itu tidak akan mati seperti kakak-kakaknya.
Sesudah Bujang diberikan kepada orang lain, lahirlah ibu saya, Siha. Namun rupanya anak perempuan ini tidak diberikan kepada orang lain. Kedua orang tua itu rupanya sangat sayang dengan anak ini. Karena itu mereka mengambil risiko memeliharanya dengan susah payah, dengan harapan agar tetap hidup.
Sebab itulah, kakek dan nenek saya selalu menganggap ibu saya sebagai anak tunggal, walau kenyataannya kakaknya, Bujang, yang diberikan kepada orang lain itu tetap hidup sampai tua dan wafat pada tahun 2003. Paman saya bernama Bujang itu, tidak tinggal di Belitung.
Beliau merantau dan tinggal di Pulau Kijang, Kepulauan Riau. Beliau bekerja di sana sebagai teknisi perusahaan bauksit. Saya baru bertemu dengan Bujang, setelah beliau lanjut usianya. Namun tiga anaknya yang tinggal di Tanjung Pandan, saya kenal dengan baik dan cukup akrab dengan saya, kakak-beradik.
Anak-anak Bujang itu namanya Muslim, Sulaiman dan Topyani. Ketika muda, Muslim itu menjadi jagoan dan preman di Tanjung Pandan. Dia tersohor karena sering berkelahi. Sampai-sampai ada dua polisi dia gebuki hingga babak belur.
Salah seorang polisi itu terpaksa dirawat di rumah sakit, karena perutnya luka ditusuk Muslim pakai obeng. Ketika saya masih muda, banyak orang Belitung tidak tahu kalau Muslim sang preman dan jagoan itu adalah saudara sepupu saya. Kalau tahu, bisa-bisa saya disangka preman juga.
Saya berusaha untuk menelusuri asal usul kakek saya, Jama Sandon itu dan bertanya ke sana ke mari. Namun riwayat keluarganya misterius dan bahkan bercampur-baur dengan dongeng. Kalau saya perhatikan wajah dan postur tubuh kakek saya itu, beliau tidak tampak seperti postur dan wajah orang Belitung, bahkan orang Indonesia pada umumnya. Nama beliau itupun tidak lazim bagi masyarakat Belitung. Tinggi di atas 170 cm, dengan badan tegap, hidung mancung dan matanya berwarna cokelat kebiruan. (Persda Network/http://yusril.ihzamahendra.com/Domuara Ambarita)
Posted by
domu.damianus.ambarita.blog
at
12/22/2007 12:35:00 PM
0
comments
Labels: Sosok
